Detik jam dinding yang berada di ruang keluarga terdengar begitu jelas hingga terdengar ke ruang tamu. Suasana yang begitu hening diiringi hembusan angin yang meniup pelan rambutku yang aku biarkan tergerai. Mengusik kegiatan membacaku.
Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Lagi-lagi sebuah pohon besar di depan rumahku menjadi pusat perhatianku.
Drttt ... Drttt ...
Suara dering telepon yang aku letakkan di atas meja ruang tamu membuatku menoleh. Aku segera bangkit, meletakkan buku di atas meja itu, lalu meraih ponselku.
Tertera nomor yang tidak aku kenali.
"Halo?"
"Keisya. Ini Tante Sarah."
"Oh, Tante Sarah. Ada apa, Tan?" Aku bertanya dengan hati berdebar.
Pasalnya, Cia sekarang tinggal bersamanya. Aku tidak ingin memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi.
"Kamu bisa dateng ke sini hari ini?"
Aku terdiam sebentar. Rasa khawatirku pada Cia semakin meningkat.
"Bisa Tan," jawabku. Aku sangat berharap ini bukanlah hal buruk.
"Oke, Tante tunggu yah."
"Iya, Tan."
Aku menatap ponselku. Panggilannya sudah diakhiri. Aku tidak ingin bertanya lebih lanjut di telepon pada Tante Sarah. Lebih baik aku menanyakan nanti secara langsung apa yang terjadi.
Aku segera menuju kamar, meraih salah satu tas selempang kecilku yang memang semuanya memiliki jenis yang sama, lalu melangkah keluar rumah dan menguncinya.
"Kei?" Panggilan Ally membuatku menolehkan kepala.
"Kamu kenapa buru-buru? Mau kemana?" tanyanya.
"Um... Aku mau ke rumah Tante Sarah," ujarku sambil memasukkan kunci rumah ke dalam tas.
"Apa terjadi sesuatu pada Cia?" tanyanya lagi.
"Aku tidak tau, Ly."
"Baiklah, ayo aku antar kamu."
Aku segera mengangguk. Baik dan peka sekali. Padahal jika dia tidak menawarkan itu, aku akan memintanya. Tetapi dia sudah lebih dulu menawarkan.
"Makasih, Ly," kataku padanya.
Dia tersenyum menanggapi.
***
Aku melirik ke dalam rumah Tante Sarah sesekali ketika wanita itu sedang menjelaskan yang sedang terjadi.
"Dia mogok sekolah dan makan. Tante berusaha membujuknya, tapi dia justru semakin marah," kata Tante Sarah.
Sungguh aku merasa sangat merepotkan Tante Sarah. Sekalipun kami memang memiliki hubungan kekerabatan, tetapi hal ini pasti merepotkan dia.
"Maafin kami, Tante. Terus menerus merepotkan Tante," ujarku dengan penuh sesal.
"Enggak, Kei. Kalian berdua tuh udah Tante anggap seperti anak Tante. Cia seperti ini juga membuat Tante sedih dan khawatir," tutur Tante Sarah.
"Biar aku bicara dengan Cia, Tan."
Tante Sarah diam sebentar. Wajahnya menatapku sedih. Aku sangat mengerti maksudnya.
"Cia marah sekali setelah tau Tante menelpon kamu," ungkap Tante Sarah.
Ally menoleh padaku. Kedua mata kami bertemu. Dengan cepat, aku memutuskannya, kembali menoleh ke rumah Tante Sarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
LONELY
Fiksi RemajaKetika seluruh dunia tidak peduli pada lukaku dan ketika dunia berpihak pada sang durjana, aku terdiam. "Kenapa?" tanyanya. Karena itu hanya khayalanku. Aku yang merasa terlalu baik. Saat semua hal adalah kejahatan dimataku. Saat aku menjadi memb...
