"Kalau ini menyangkut Alice, kamu tau Kei, aku mengetahui semuanya. Tidak perlu menyembunyikannya lagi."
Aku meyakinkan diriku. Ini pertama kalinya aku akan menceritakan isi hati dan pikiranku padanya.
Bisakah aku percaya padanya seperti Alice yang sangat mempercayainya?
Tidak seharusnya aku meragukan gadis itu lagi.
"Kejadian dua tahun lalu ...," kataku mengawalinya.
Lelaki itu terlihat serius mendengarkan aku. Namun sepertinya, aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk menceritakan semuanya.
"Apa yang kamu tau?" Aku berbalik bertanya padanya.
"Aku tau, Kei. Alice, saudara kembarmu, meninggal karena kecelakaan," jawabnya.
"Hanya itu?" Lagi-lagi aku bertanya.
Dia nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya kembali berkata, "memangnya apa lagi yang perlu aku ketahui?"
Aku terdiam. Ya, memang tidak perlu ada lagi yang lelaki itu tau tentang kejadian itu.
"Ada apa, Kei? Kamu kembali teringat pada Alice?" tanyanya.
Aku tidak menjawab.
Sebenarnya aku pun bingung harus menjawab apa. Kembali teringat pada gadis itu? Jelas-jelas setiap saat, bayang-bayang gadis itu selalu muncul di sekitarku.
Sebenarnya aku meragukan keberadaannya. Apakah dia benar-benar meninggalkan aku atau tidak?
"Kei, aku tau kamu pasti sulit sekali melupakan Alice. Tapi ingat, Kei. Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan di sini. Aku, keluargamu, dan juga teman-teman Alice pasti merasakan kehilangan juga."
Aku tersenyum kecut.
Benar sekali. Rasanya cukup semua orang merasa kehilangan atas kepergiannya. Gadis itu mempunyai banyak orang yang menyayanginya bahkan hingga dia pergi ke pangkuan Tuhan.
Sedangkan aku, bahkan ketika aku masih hidup pun, tidak sedikitpun aku merasa di sayangi.
Semakin hari aku merasakan sikap dingin keluargaku. Sedikit sekali interaksi ku dengan mereka.
Aku tau mereka merasa kehilangan. Tetapi apakah harus tidak memperdulikan aku seperti itu? Atau mereka sebenarnya muak melihat wajahku?
Aku tidak mengerti. Semuanya terlalu membingungkan untuk diterka-terka.
Aku harap akan ada hari di masa depan nanti dimana mereka mampu menjelaskan semuanya padaku.
Untuk saat ini, tidak ada yang bisa ku lakukan selain bertahan sendirian.
"Kei," panggil Ally.
"Bisa tinggalkan aku sendirian?" pintaku padanya.
Aku tidak mendengar jawabannya. Hanya melihat lelaki itu mengangguk.
"Aku pamit. Kalau ada sesuatu, hubungi aku saja," katanya setelah dia bangkit dari duduknya.
Aku bisa mendengar langkah kakinya yang berjalan menjauh. Setelah mendengar suara pintu tertutup, aku menghela nafas.
Perlahan air mata mengalir di pipiku.
Kenapa aku harus menangis lagi? Kenapa harus sendirian lagi?
Aku menyaksikan semuanya. Semua hal yang terjadi hari itu.
Namun bahkan sampai dua tahun kemudian, tidak sedikitpun aku mampu melupakannya. Tidak sedikitpun aku bisa menerimanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LONELY
Teen FictionKetika seluruh dunia tidak peduli pada lukaku dan ketika dunia berpihak pada sang durjana, aku terdiam. "Kenapa?" tanyanya. Karena itu hanya khayalanku. Aku yang merasa terlalu baik. Saat semua hal adalah kejahatan dimataku. Saat aku menjadi memb...
