Aku menyibak gorden kamarku. Membiarkan cahaya mentari pagi memasuki kamarku. Kakiku kemudian melangkah keluar dari kamar dengan ponsel di tanganku.
Aku meraih gelas lalu mengisinya dengan teh hangat. Aku menguap sebentar. Semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasanya tadi malam sulit sekali aku memejamkan mata.
Tetapi sekarang ketika pagi datang, aku justru mengantuk. Kepalaku terasa berat sekarang.
Aku meletakkan ponselku di atas meja dapur sebentar. Membiarkan ponselku menyala dengan layar menunjukkan pesanku kepada Tante Sarah yang baru saja aku kirim.
Kedua tanganku menggenggam erat gelas yang terasa hangat. Setelah menduduki kursi yang sengaja aku letakkan di dapur, aku lalu menyeruput secangkir teh hangat.
Aku melirik ponselku yang bersinar biru kecil di bagian bawahnya. Menandakan sebuah pesan masuk.
Tangan kiri ku meraihnya. Aku membacanya sembari berjalan ke ruang tamu.
Cia udah pulang. Tetapi lebih baik kamu datang besok. Hari ini dia kelihatan tidak ingin diganggu. Biar Tante bicara dulu dengannya.
Aku menghela nafas berat. Aku ingin sekali bisa menyelesaikan masalahku dengan Cia berdua. Tanpa melibatkan orang lain. Mungkin saja terjadi salah paham antara aku dengan dia karena aku tidak banyak bicara dengannya.
Aku meletakkan ponselku di atas meja ruang tamu kemudian mendudukkan tubuhku di sofa. Aku bersandar sebentar sambil memejamkan mata.
Mungkin hari ini aku harus mengistirahatkan tubuh dan pikiranku terlebih dahulu sebelum besok bertemu dengan Cia.
Sebuah notifikasi pesan membuatku kembali membuka mataku. Aku melirik ponselku lalu meraihnya. Satu pesan masuk tidak diketahui pengirimnya.
Aku baru saja hendak mengabaikannya sebelum akhirnya aku menyadari pengirim pesan itu.
Kei, bisa ketemu sebentar? Ini soal Kak Saka.
Aku terdiam sebentar. Mungkin memang seharusnya aku menyelesaikan satu-persatu permasalahan yang aku ciptakan sendiri.
Aku segera mengetikkan balasanku untuknya.
Bisa.
Aku kembali menghela nafas. Sepertinya hari ini bukan waktunya aku istirahat.
***
Kakiku melangkah dengan perlahan memasuki kafe setelah memastikan kafe ini tempat aku berjanjian dengan Saki.
Pandanganku menyapu seisi kafe. Mencari keberadaan lelaki itu sebelum akhirnya seorang lelaki dengan kemeja berwarna putih melambaikan tangannya kepadaku. Aku segera berjalan menghampirinya.
"Hai, Kei," sapanya.
"Hai," sahutku sambil mendudukkan tubuhku di kursi yang berada di hadapannya.
Baik aku maupun Saki belum ada yang memulai percakapan. Aku menatap lelaki itu sambil mengerutkan dahi. Dia tersenyum padaku.
"Udah lama di sini, Ki?" tanyaku padanya. Sekedar basa-basi.
Dia kemudian mengangguk. Tiba-tiba saja senyumnya pudar. "Kamu kurang tidur yah, Kei?"
Aku diam tidak menjawab. Tidak tertarik dengan percakapan yang hendak dia mulai. Bukannya lebih baik kami langsung ke intinya saja?
"Gimana kabar Kakak kamu?" tanyaku, mengalihkan pembicaraan. Lebih tepatnya, to the point.
Lelaki itu tertawa. "Kamu enggak mau nanyain kabar aku, Kei?"
KAMU SEDANG MEMBACA
LONELY
Teen FictionKetika seluruh dunia tidak peduli pada lukaku dan ketika dunia berpihak pada sang durjana, aku terdiam. "Kenapa?" tanyanya. Karena itu hanya khayalanku. Aku yang merasa terlalu baik. Saat semua hal adalah kejahatan dimataku. Saat aku menjadi memb...
