Aku menatap seisi kamarku yang begitu gelap tanpa fokus. Ingin sekali tidur kembali tetapi tidak bisa. Kedua kataku bergerak melirik jam Beker yang menunjukkan tepat pukul empat pagi.
Kakiku perlahan bergerak menuruni kasur lalu menuju kamar mandi.
Aku membasuh wajahku dengan air. Mencoba mengembalikan kesadaranku sepenuhnya. Aku melihat pantulan wajahku di cermin dengan cermat.
Lagi-lagi aku harus merasakan sesak yang tidak pernah hilang di dadaku setiap aku melihat wajahku sendiri.
Aku meniti setiap bagian wajahku yang mirip sekali dengan Alice. Setiap sisi, mengingatkan aku padanya.
Aku seperti ... melihat gadis itu tengah menatap kepadaku. Perasaan rindu tiba-tiba menyusup masuk ke hatiku. Aku buru-buru menepisnya.
Aku harus terus mengingatkan diriku bahwa gadis yang berada di cermin tanpa senyum itu adalah aku, Keisya. Bukan Alice.
Berhentilah berkhayal, Kei. Ini sungguh akan menyakiti diriku sendiri.
Bagaimana bisa aku terus-menerus melihat Alice dibalik wajahku sendiri?
Aku kembali menatap cermin itu dengan serius. Tetapi tetap saja wajah yang di cermin itu terlihat seperti Alice.
Kepalaku mendadak berdenyut. Oke, berhentilah menepis kenyataan. Jelas pantulan diriku itu mirip dengannya karena aku saudara kembarnya.
Aku mengalihkan pandanganku, berhenti bercermin. Kepalaku sudah cukup pusing terasa berat. Aku tidak ingin membuatnya terasa hampir meledak sewaktu-waktu.
Memang keputusanku sebelumnya untuk tidak terlalu sering melihat cermin adalah keputusan yang tepat.
Aku ... tidak ingin terus merasa sakit.
***
Aku membuka jendela kamarku. Udara dingin perlahan masuk yang menyusup hingga ke tulang membuatku menggigil.
Jam Beker masih menunjukkan pukul lima pagi. Matahari masih belum memunculkan wujudnya untuk menyinari bumi.
Aku melihat tetesan embun diantara dedaunan. Begitupun lingkungan sekitar yang masih terlihat buram. Aku menarik nafas, kemudian menghembuskannya pelan-pelan.
Saat-saat seperti inilah yang tepat untuk menikmati sejuknya udara pagi. Udara segar yang belum terkontaminasi oleh asap kendaraan. Tidak banyak kebisingan.
Perlahan sudut bibirku tertarik. Aku memejamkan mata. Sesaat aku melupakan segala masalah yang akhir-akhir ini begitu mengganggu pikiranku.
Ya, setidaknya hal ini bertahan sampai sebuah ketukan pintu membuat senyumku pudar. Aku menoleh ke pintu.
"Kei, kamu sudah bangun?"
Aku terdiam. Itu ... suara Mama. Jarang sekali Mama membangunkan aku seperti ini.
"Sudah, Ma," sahutku.
"Ke sini sebentar, Kei," ucap Mama lagi.
"Iya, Ma." Aku menyahut lagi.
Aku segera menutup jendela lalu berjalan keluar dari kamar, menghampiri Mama yang ternyata sudah berada di dapur sedang memotong sayuran.
"Apa apa, Ma?" tanyaku pada Mama.
"Hari ini Mama harus ke rumah Tante Sarah lagi. Jadi nanti kamu sepulang sekolah menyusul ke sana dengan Cia. Kamu enggak lupa, kan? Kalau hari ini ultahnya Gibran?"
Aku mengangguk. Tentu saja aku tidak lupa. Aku sampai memecahkan celengan ku untuk membeli hadiah ultahnya Gibran. Tante Sarah sudah mengundangku dari jauh-jauh hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
LONELY
Teen FictionKetika seluruh dunia tidak peduli pada lukaku dan ketika dunia berpihak pada sang durjana, aku terdiam. "Kenapa?" tanyanya. Karena itu hanya khayalanku. Aku yang merasa terlalu baik. Saat semua hal adalah kejahatan dimataku. Saat aku menjadi memb...
