Hari Bertemu Denganmu

124 14 2
                                        

Selamat pagi.

Hari ini Senin. Delapan bulan lalu kita bertemu, pertemuan pertama kita.

Waktu itu, kamu masih memakai seragam SMP-mu, manis sekali jika kuingat. Tapi hari itu aku tidak menyukaimu, belum lebih tepatnya. Aku masih menjadi aku yang pemalu, belum kenal kamu atau siapapun di kelas ini.

Aneh rasanya memang, kapan aku mulai menyukaimu? Aku bahkan tidak tahu tepatnya. Tapi, aku ingat perkenalan kita. Bukan kita, maksudku secara tidak langsung, kita bahkan tidak pernah berkenalan. Saling tahu hanya dari perjalanan waktu.

Hari itu panas, Juli yang menyenangkan dengan gurauan kecil saat perkenalan wali kelas dan siswa. Bagaimana bisa wali kelas saat itu mengataimu mirip seseorang di televisi yang padahal jika dari sudut pandangku itu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat.

Dan kau yang menjadi bahan candaan di kelas justru bergaya receh dengan wajah sok ganteng yang bila kupikir sekarang imut sekali. Dulu aku belum merasa demikian.

Ternyata wali kelas kita mengenal orang tuamu, itu lebih seru lagi karena beliau dengan terang-terangan menyebut nama Ayah dan Ibumu, mengatakan bahwa kau tidak boleh nakal di kelas karena beliau akan melaporkannya.

Anehnya, hari itu aku justru menyukai seseorang yang tempat duduknya tak jauh darimu, seseorang yang wajahnya harus kuakui lebih ganteng darimu.

Memang benar, aku menyukai anak itu sebelum kau. Dia amat membuatku jatuh hati karena dialah cowok kelas pertama yang ngobrol denganku. Yang sok-sokan mengenalku, padahal tidak sama sekali. Menyebut namaku saja salah.

Aku lebih banyak mencuri pandang pada anak itu, cowok yang pertama kucari tahu namanya di daftar absen.

Aku menanyakannya pada teman sebangkuku, Elsa. Waktu itu Elsa dan aku belum begitu dekat. Jadi, aku menanyakan semua nama dan mencocokannya dengan wajah-wajah anak kelas kita.

Sebagai pengacau, dia mencuri hatiku lebih dulu.

Saat kudapati namanya, aku tersenyum tipis, dia anak dengan absen 15, Eza Aldiansyah. Kucatat baik-baik nama itu.

"Memangnya kenapa?" Elsa menanyakan itu sebagai kalimat menyelidik pertamanya.

Waktu itu aku gugup sekali, aku berusaha mengganti topik secepatnya, pura-pura menanyakan namamu dan menerawang wajahmu, Yananda Praditya, absen 37. Untuk benar-benar meyakinkan tidak ada apa-apa, aku menulis nama dan alamatmu tebal-tebal disebelah nama Eza.

Hari itu, hari bertemu denganmu. Dan aku belum menyukaimu.

***

Read, Vote, and komen guys...

Setelah Kau [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang