Besok ulang tahunmu, dan dengan hormat aku ingin langsung mengucapkannya. Tapi, aku terlalu tidak mungkin melakukannya.
Aku bukan orang seperti Rara, yang diam-diam memberikan jam tangan spesial saat Satya berulang tahun beberapa bulan lalu. Atau seperti Riza, yang mengirim paket rahasia ke orang rahasianya. Oke, khusus bagian itu biar aku ceritakan sebentar.
Sudah pernah aku bilang, sebenarnya Rara menyukai Satya. Dan akhirnya dia menunjukannya saat Satya berulang tahun ketujuh-belas, tanggal dan bulannya aku lupa. Yang jelas hari itu dengan jantung berdebar hebat dia menemuiku dan Riza, menunjukkan keseriusannya pada kami.
Dia memintaku membuat tulisan 'happy sweet seventen, Satya'. Jangan salah paham, tulisanku tidak bagus, biasa saja malah. Tapi kata Rara, Satya sangat paham dengan tulisan tangan Rara, makanya memintaku menulisnya.
Jam tangan spesial itu ia bungkus bersama Riza di kelasku. Aku masih ingat, kotak kecil berwarna hitam itu jadi saksi senyum Rara yang terus mengembang hari itu.
Aku dan Rara bertugas menaruh jam tangan itu di stang sepeda Satya. Hari ini Satya naik sepeda kata Rara. Sementara Riza dan Alan bertugas mengawasi sekitar.
Bisa aku lihat dari wajah Rara, dia agak ragu. Tapi degub jantungnya yang hampir bisa kudengar itu menjelaskan dia harus melakukannya. Setidaknya, walau Rara tak bisa membalas perasaan Satya, ia harus berterimakasih banyak untuk perasaan tulusnya selama ini.
Misi dadakan itu sempurna berhasil. Sampai suatu saat nanti, Satya tidak tahu siapa yang memberinya kado misterius itu. Ia hanya menebak-nebak.
Untuk urusan Riza. Kukira dia dulu sempat dekat dengan Abe, orang yang ia jumpai di pulau Bali. Namun, belum saja sempat terkuak, katanya mereka sudah tidak kontakkan lagi.
Kisah percintaan Riza memang rumit. Oh ya, dulu aku pernah mengatakan bahwa Riza tak pernah punya pacar di bab "Arvas Farizza", aku salah besar. Atau sebenernya bukan aku yang salah, karena dulu Riza mengatakannya demikian.
Dia punya satu mantan, namanya "rahasia" katanya. Mantan terindahnya yang tidak pernah ia lupakan. Ternyata ini juga alasan Riza cepat berganti orang yang ia suka. Dia punya masa lalu indah yang tidak ingin ia lupakan.
Setelah bertahun-tahun berpisah, orang itu dengan santainya mengusik hati Riza. Kembali mengganggu hari-hari tenangnya. Dan Riza, dengan bodohnya serta senang yang berlipat-lipat jadi iya-iya saja.
Dan tahun ini, saat sang "rahasia" itu berulang tahun ke tujuh belas, Riza mengirim paket rahasia kepadanya. Isinya? Rahasia pula. Riza memang suka misterius. Dia dekat dengan kami, tapi seolah tidak begitu. Tapi, aku tahu. Anak yang dilahirkan dengan penuh kasih sayang begitu memang misterius. Ditambah lagi kakak dan adiknya yang semuanya laki-laki. Membuat sisi misteriusnya sama seperti lelaki. Kan, menurutku laki-laki memang misterius. Hehe.
Begitulah kira-kira kisah singkat mereka. Dan untukku, masih belum kutemukan cara terbaik mengucap 'happy sweet seventeen' kepadamu.
Aku jadi frustasi. Melirik jam di ponselku. Lagi-lagi jam kembar itu menyambut. Kurang dari satu jam, Nan. Kau tahu? Aku bukan orang yang dengan susah payah menunggu tengah malam untuk mengucap selamat ulang tahun. Aku lebih percaya pada kekuatan doa. Dan jam sebelas kembar adalah momen terbaiknya. Aku cepat-cepat menutup mata, berdoa untukmu. Hari ini doaku adalah semoga kamu mendapat yang terbaik di usiamu yang hampir tujuh belas itu.
Tuhan baik sekali jika langsung mau mengabulkannya.
Selamat ulang tahun, Yananda Praditya. Malaikat yang diciptakan Tuhan dengan segala kerendahan hati-Nya. Malaikat yang entah bagaimana bisa muncul di tengah-tengah hatiku. Mencuri semuanya begitu saja tanpa pernah disuruh. Ingatlah, aku mencintaimu.
Selamat ulang tahun ke tujuh belas, Nanda. Kunang-kunang ini ingin mencintaimu lewat sedikit cahaya. Berharap kamu selalu bersinar tanpa diminta. Beribu-ribu kata semoga selalu kuhaturkan. Tanpa bisa dieja satu persatu, saking banyaknya, Nan. Sekali lagi, aku mencintamu.
Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Memandang langit-langit kamar dan dinding kamarku yang semuanya berwarna pink. Ada sketsa gambarku disana. Sosok seperti tokoh anime yang memegang kamera menutupi muka. Itu kamu, Nan. Aku pernah melihat pose yang sama di sosial mediamu. Jadilah aku berinisiatif menggambarnya.
Di belakang sketsamu yang kutempel di dinding itu, ada puisi untukmu satu tahun lalu. Yang tidak akan mungkin kuberikan padamu.
Haha, ternyata aku memang sepengecut itu. Aku sadar, mungkin tahun ini aku akan jadi pengecut yang begitu lagi.
Maaf. Maafkan aku yang hanya bisa mencintaimu diam-diam.
Maafkan aku yang hanya bisa mengungkapkan perasaan lewat tulisan.
Maafkan aku yang terlalu sederhana untuk kamu yang luar biasa.
Selamat tidur, Nanda. Aku mencintaimu. Selalu.
***
a/n : di penghujung april, ketika ulang tahunmu di awal april. Selamat ulang tahun, malaikatnya ichaa. Istul dengan segala rasa hormat mengucapkan hss jugaaa💙💙
KAMU SEDANG MEMBACA
Setelah Kau [END]
Ficção AdolescenteKalau cinta ini selamanya tak bisa tersampaikan, maka biarlah! Kurasa aku akan terbiasa dengan rasa sakitnya "cinta diam-diam." On Going juga : Jangan Hujan -nb : cover sources by pinterest
![Setelah Kau [END]](https://img.wattpad.com/cover/145024912-64-k451502.jpg)