[GC - Tdk Ada dusta Diantara QT]
Riza : gaes gaes
Rara : hadir sayy
Ichaa : yoo
Riza : lo beneran mau barengan si Bryan chaa
Rara : mamak gak merestuimu nak
Riza : Raaaa diem dulu anjir ya serius
Rara : jahad kau dugong
Ichaa : gak lah ya, jijay bener gue barengan dia
Riza : qasian aa nandaq tertiqung sepupu
Rara : Rizzzz diem dulu anjir ya serius
Ichaa : bodo amat gaes.
Sebenarnya aku tak ingin datang jika begini. Apalagi ini party-party-an, aku tidak begitu suka keramaian. Tapi, demi Nanda. Eh, maksudku demi Alanda, aku rela datang.
Aku tidak suka berdandan, selera fashionku juga biasa saja. Malam ini, aku mengenakan dress hitam sebawah lutut dengan lengan tigaperempat. Dress itu tidak terlalu polos karena ada hiasan manik dibawah leher.
Rambutku dikuncir satu kebelakang dengan beberapa hiasan rambut sederhana tampak disampingnya. Sebagai pelengkap, aku mengenakan heels lima senti warna perak dan dompet warna seiras.
Untuk make up, aku hanya mengoles bedak seadanya, blush on, eyeliner, dan liptint di bibir. Itupun harus dibantu mamah. Ya ampun.
Aku memang sengaja menyiapkan diri lebih awal, jangan sampai dijemput Bryan. Ya, aku memang berniat melarikan diri darinya. Untung saja mamah yang tidak bisa mengantar sigap memesankan grab untukku.
"Aish, ngapain sih gue pake lari dari si kadal brutal itu segala!" Gumamku sebal.
Driver grab itu melirikku, tersenyum ramah layaknya driver idola, "Berangkat sekarang mba?"
Aku membalas senyumnya penuh arti, "Taun depan juga saya ikhlas pak,"
Tanpa basa-basi lagi driver itu segera tancap gas. Entah kenapa senyumnya berubah, dia mengedikkan bahu tanda ngeri. Kenapa sih?
Aku mengecek ponselku dan semua notif dari grup unfaedah itu. Entah apa yang mereka bicarakan sampai ada notif 211 pesan belum terbaca. Aku tidak berniat scroll dari awal, hanya beberapa pesan diakhir saja yang kubaca.
[GC : Tdk Ada Dusta Diantara QT]
Rara : gue pake merah-merah nich
Riza : wiii cabe baruuu
Rara : jgn bilang cabe tar empunya dateng
Read 19:02
Riza : sider dasar
Ichaa : brisik
Kurang lebih lima belas menit kemudian aku sudah ada di depan rumah si anak baru. Rumahnya mewah, terlihat jelas mereka yang tinggal bukanlah orang sembarangan.
Begitu datang, mereka langsung menyambutku ramah. Bundanya Alanda bahkan memelukku erat seakan sudah akrab lama. "Masuk, nak."
Aku membalasnya dengan anggukan seadanya, tak lupa mengucap terimakasih banyak.
Seperti yang kuduga, rumah Alanda begitu mewah. Lampu kristal dan tangga melingkar yang begitu anggun terpampang jelas sebagai maskotnya. Sedikit lega hatiku karena hari ini tak memakai sesuatu yang memalukan.
"Ichaaaaa," sapa seseorang ramah, oh Alanda ternyata.
"Welcome to my house, girl." Sambutnya lagi.
Mataku berbinar bagai melihat malaikat cantik, Alanda begitu mempesona malam ini. Dia mengenakan gaun warna serupa denganku. Terlihat glamour. Aku jadi penasaran, kenapa aku tidak terlihat sepertinya. Ya sudahlah tak apa.
"Semua di halaman belakang, cha." Ia tersenyum lagi, kali ini sambil menggandengku agar mengikutinya.
"Weyyy chiliiii!!!" Teriakan Riza menggema diantara riuh tamu.
"Dasar, dugong coag." Balasku tak mau kalah.
"Chili kriting," sahutnya lagi.
"Sigung bau,"
"Wesshh calm gaes." Alanda melerai perdebatan kecilku dengan Riza.
Kami berdua kembali tenang. Kembali menikmati serunya party malam ini. Aku tersadar sesuatu, ternyata party ini tidak begitu ramai. Hanya anak kelas saja yang datang, juga beberapa anak dari kelas tetangga.
Mataku menyelidik, mencoba menemukanmu diantara kerumunan orang-orang happy ini (baca : setres).
"Nyari siapa, cha?" Tanya Alanda mengejutkan. Riza hanya melirikku sinis.
"Eh, itu, anu, Rara mana?" Jawabku setengah bohong.
"Hellooooo girls," suara itu terdengar familiar sekali. Oh tentu saja, Queen Rara sudah datang. Panjang umur.
Gila. Lihatlah Rara, begitu mewahnya ia mengenakan dress warna merah menyala, kombinasi sempurna dengan warna rose sepatunya.
"Hae chili kedua" Riza kembali menggunakan kata 'chili' itu.
Rara mendelik ganas hendak menerkam Riza. Namun urung, matanya segera beralih ke pintu masuk pesta. "Demi monyet, kadal, kebo, sapi, sama temen-temennya. O em to the ji gans bingitz tuh bocah,"
Mulutku tak bisa berkata, mataku tak bisa beralih, demi apapun Nanda keren banget malam ini.
Riza membuyarkan imajinasiku, "Kalo gue jadi suka gimana chaa?" Katanya meledek.
"Gue tabok lo," jawabku tak beralih pandang.
Rara mendecih pelan, sekarang dia yang meledekku, "Hey, hey, Bryan ngga kalah ganteng lho,"
Sontak mataku beralih, terlihat tak jauh darimu (Nanda), Bryan berdiri dengan gagahnya. Eh, tunggu, gagah? Biasa aja si.
"Ganteng Nandaquuu" kataku spontan.
Riza berdehem keras, mencoba mengalihkan pembicaraan. Gawat, aku bahkan tidak sadar jika dari tadi ada Alanda bersama kami. Ya sudah, terbongkarlah semua.
Coming soon add Alanda to the group unfaedah itu pasti.
***
Maaf karena jarang sekali up♡♡
Salam, Juna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Setelah Kau [END]
Teen FictionKalau cinta ini selamanya tak bisa tersampaikan, maka biarlah! Kurasa aku akan terbiasa dengan rasa sakitnya "cinta diam-diam." On Going juga : Jangan Hujan -nb : cover sources by pinterest
![Setelah Kau [END]](https://img.wattpad.com/cover/145024912-64-k451502.jpg)