Kadang aku tidak bisa menyimpulkan,
Memang kenapa aku menyukaimu?
Tolong beritahu aku
Di buku mana aku bisa menemukan jawabannya?
Ini minggu yang menyenangkan. Terlepas dari kerusuhan Riza yang punya 'doi' baru. Terlepas dari Rara yang sibuk meyakinkan hatinya pada Satya. Atau Alan yang baru saja patah hati.
Terlepas dari itu semua aku hanya ingin bersantai di rumah minggu ini.
Oh aku jadi ingat, aku dapat pertanyaan dari seseorang, "Kenapa kamu menyukai Nanda?"
Sebenarnya, ini pernah aku bicarakan dulu di bab sebelum-sebelumnya. Tapi, baiklah, kali ini biar aku menulisnya di list buku harian. Supaya kalian mengingatnya, kenapa aku menyukai Nanda. Dan barangkali suatu saat nanti Nanda bersedia membacanya sebentar. Atau lebih baik lagi, kami membacanya bersama. Tertawa terbahak karena saat itu terjadi kami sudah menua, teringat masa muda yang menyenangkan. Haha, barangkali dan semoga yang diatas sedang berbaik hati mengabulkannya.
Lantas aku mengambil buku diary ungu di atas meja, mulai mengawali tulisan dari 'Selamat hari minggu, Nanda'
Jangan pernah menanyakan kenapa aku menyukaimu. Aku tidak akan pernah sanggup menjawabnya. Haha, aku tahu kamu pasti kesal. Tapi, ini aku, Icha. Tentu akan lebih logis jika aku menjawabnya dengan caraku, cara yang berbeda.
Guratan pen ku terhenti sejenak, melirik jam dinding. Ah, kamu pasti sedang jogging sekarang. Lantas menulis lagi.
Menurutmu, kenapa aku menyukaimu, Nan? Ah, ini soal yang sangat sulit. Jahat sekali mereka yang menanyakannya. Percuma! Ini tidak akan ada jawabannya jika kau memintaku menjawabnya seperti essay, pun pilihan ganda yang tinggal memilih saja. Tidak ada jawabannya, Nan.
Pembaca tidak pernah tahu wajahmu, juga perasaanku sesungguhnya padamu. Mereka hanya bisa menebak. Sebenarnya, seganteng apa sih kamu sampai aku begitu ngototnya bertahan walau tidak pernah diperhatikan?
Maka jika mereka berpikir demikian, jika mereka mengira aku menyukaimu karena wajah supermu itu, mereka salah. Hei, tidak percaya? Begini, berapa penduduk bumi? Sekitar 7 milyar. Berapa jumlah laki-lakinya? Jutaan, ratusan juta, milyaran bahkan. Jadi, percuma jika aku memilihmu karena wajah. Ada banyak di dunia ini yang lebih darimu mungkin.
Tidak apa, berarti nanti saat sesuatu terjadi--yang semoga tidak terjadi, sesuatu yang buruk terjadi pada wajahmu, atau menua dimakan usia mungkin. Aku tetap disini, mencintaimu. Tertebak satu hal, wajah bukan alasanku mencintaimu. Lalu apa? Sekali lagi aku tidak tahu.
Aku bersandar di kursi, menghela nafas sejenak, lantas menulis baik-baik kalimat berikutnya.
Tidak bisa kubayangkan jika kau tahu aku menulis ini, Nan. Pasti kamu akan menertawakanku, kan? Oh atau mungkin lebih parah. Kau hanya melirik, tidak peduli. Atau yang paling buruk, kamu menjauhiku, membenci diriku setiap sentinya.
Ah, semoga tidak terjadi demikian. Karena aku jelas-jelas menyukaimu. Tidak dibuat-buat.
Lalu apa alasan terbaiknya? Kenapa juga aku menyukaimu yang mungkin biasa-biasa saja bagi orang lain?
Aku benci tak bisa menjawabnya.
Mungkin karena kamu baik? Hey, definisi baik untuk tiap orang itu berbeda. Boleh jadi, kamu sangat buruk di pandangan musuhmu, atau sangat manis di pandangan adik kelas. Ah, ya aku jadi ingat kita sudah kelas 11, tentu saja punya adik kelas.
Tapi berarti bukan itu, aku tentu saja pernah menemukan orang yang lebih baik darimu. Si Yash mungkin, teman TK ku dulu yang dengan sabarnya mengajariku naik sepeda. Atau mungkin Vio, tetangga seusiaku, yang tidak pernah marah walau sedikit. Aku tahu mereka orang-orang baik, tapi bukan berarti aku 'mencintai' mereka, kan?
Sedangkan kamu? Selalu saja cuek, tak peduli apapun yang aku lakukan, walau kadang kamu sangat manis dan perhatian sih kuakui.
Jadi, baik bukan alasan. Oke, mari kita coret dari list.
Eh, tanpa sadar buku harian ini sudah penuh saja dengan celotehanku. Tapi, aku belum menemukan alasan yang tepat. Atau mungkin cinta memang tak butuh alasan seperti cintanya Satya ke Rara?
Kurasa Satya keliru, tentu saja cinta butuh alasan agar kita tahu seberapa besar, seberapa penting dia di hidupmu. Anggaplah dulu kalian pernah punya kekasih, kalian bilang cinta tidak butuh alasan. Lalu putus. Kalian punya kekasih baru, lagi-lagi bilang kalau cinta tak butuh alasan. Lalu putus lagi. Jadi, apa alasan kalian mencintainya dulu? Seberapa besar rasa sayangnya kepada yang pertama dan kedua. Apakah sama? Kurasa tidak kan?
Tapi, aku juga tidak bilang Satya sepenuhnya salah sih. Dia ada benarnya. Buktinya, sekarangpun aku tidak punya alasan yang bagus untuk mengungkapkan betapa aku menyukaimu.
Sudahlah, aku bingung. Akan kupikirkan lagi nanti. Barangkali aku sudah tahu jawabannya.
Atau simpulkan saja sementara, bahwa Icha sangat-sangat menyukai Nanda. Demikian pula sangat-sangat bingung dengan perasaannya. Yang aku tahu, aku menyukaimu karena...
Aku Icha, aku Icha yang menyukai Nanda. Sudah, hanya sesederhana itu.
Aku menghela nafas panjang, menutup buku diary di depanku, susah sekali menyimpulkan hal itu. Lagi-lagi Nanda, lagi-lagi dia mengacaukan pikiranku.
***
A/n : aku butuh asupan Nanda!
KAMU SEDANG MEMBACA
Setelah Kau [END]
Novela JuvenilKalau cinta ini selamanya tak bisa tersampaikan, maka biarlah! Kurasa aku akan terbiasa dengan rasa sakitnya "cinta diam-diam." On Going juga : Jangan Hujan -nb : cover sources by pinterest
![Setelah Kau [END]](https://img.wattpad.com/cover/145024912-64-k451502.jpg)