❝Jika di hatimu masih ada ruang, cobalah untuk mengingatku sebagai sahabat terbaik yang pernah kau miliki. Aku pamit.❞
🐋🐋🐋
Ferry menghela napas. Tugasnya di BEM sudah selesai, begitu juga dengan statusnya yang menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Berkemas. Rumah ini akan dijual. Ia dan keluarga akan pergi ke Dubai esok hari. Tersenyum miris. Lima semesternya masih belum dibalas, tetapi ia harus meninggalkan tanah air ini. Meninggalkan cintanya.
"Kamu serius nggak pergi besok aja sama Mama dan Papa?" tanya Andini meyakinkan. Wanita itu ikut mengemasi dua koper milik Ferry.
"Nggak usah, Ma. Aku pergi malam ini. Mama jangan kasih tau Vanys dulu, ya. Aku punya cara sendiri buat kasih tau," pinta Ferry. Andini menghela napas.
"Kenapa sih harus gitu? Kenapa nggak ketemu, terus jujur aja? Nanti menyakitkan loh, Sayang," saran Andini. Seketika Ferry menghentikan kegiatannya. Ia menghela napas.
"Ferry mohon, Ma. Kali ini aja. Ferry jarang minta sesuatu dari Mama, jadi Ferry mohon rahasiain demi Ferry," pinta lelaki itu memohon. Andini mengembuskan napas.
"Ya udah, deh," balas Andini pasrah. Kegiatan hari ini begitu sibuk. Mereka akan memindahkan barang pribadi mereka ke rumah lama di Jakarta. Sementara, rumah ini akan dijual. Perkara lima tahun lagi mereka akan pindah ke Indonesia, mereka akan menetap di Jakarta.
"Ya udah, kalo gitu Mama mau beres-beres di bawah dulu. Kamu jangan lupa bantuin biar cepet beres. Soalnya yang mau beli dateng besok," ujar Andini. Ya, itulah yang membuat penerbangan mereka ditunda sehari. Namun, tidak bagi Ferry.
Habis urusan dengan koper, Ferry beralih pada kardus-kardus yang memuat barang-barang pribadi miliknya. Barang-barang itu akan ditata ulang di rumah lama karena tidak mungkin akan ia bawa semua ke Dubai maupun Jerman. Ah ya, rencana pindah keluarga memang ke Dubai, selain urusan orang tua Adit, tetapi juga adanya proyek besar di sana. Sementara, Ferry akan melanjutkan studi teknik sipil di Jerman.
"Berkesan banget," ujar Ferry. Lelaki itu mengelus figura yang terdapat potretnya dan Vanys. Hanyut dalam emosi.
"Segitunya lihat foto," lontar seorang lelaki yang mengejutkan jantung Ferry. Devon berdiri di ambang pintu. Bersandar sembari bersidekap dada.
"Vanys lagi liburan bareng keluarganya. Baru hari ini berangkat, ke Bandung. Nggak lama, lusa udah pulang," papar Devon. Lelaki itu masuk ke dalam kamar. Ferry mendengar penjelasan Devon, hanya tersenyum seraya mengangguk.
"Apa yang mau lo titipin ke gue? Aghata?" goda Devon. Ferry melayangkan tatapan tajam.
"Mau gue bunuh lo?" sentak Ferry. Devon terkekeh. Ia mengulang lagi pertanyaannya.
"Gue mau titip ini. Lo kasih ke Vanys kalo udah pulang," ujar Ferry seraya memberikan kotak yang dibungkus seperti hadiah. Devon menerima kotak itu. Penasaran, lelaki itu refleks mengocok kotaknya.
"Ya jangan dikocok, bego! Udah lo simpen. Awas kalo sampe rusak apalagi hilang!" ancam Ferry. Devon melengos. Kemudian, ia berdehem membalas perkataan Ferry.
"Ya udah, gih lo bantuin gue beres-beres," suruh Ferry. Devon menghela napas. Nahas sekali nasibnya. Padahal ia ingin beristirahat karena kelelahan semalam. Namun, tak apa, ia rela membantu sahabatnya untuk terakhir kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
43 Bagian Cerita Vanys [END]
Romansa[NEW VERSION] Kadang, kita harus memilih antara luka untuk bahagia atau bahagia untuk luka. Bagi kamu yang bimbang dalam urusan mencinta tanpa dicinta, kisah ini sungguh cocok untukmu. Dalam setiap goresan penanya, lelaki itu menuangkan segala rasan...
![43 Bagian Cerita Vanys [END]](https://img.wattpad.com/cover/143941271-64-k495155.jpg)