"Ternyata, selama ini aku punya rumah yang begitu nyaman, tanpa adanya keterlukaan,"
🐋🐋🐋
Ferry sudah memulai lebih awal semua kegiatannya. Pagi ini, ia sudah mengadakan rapat dengan anggota BEM lain. Siang ini, ia sudah menyelesaikan kuliahnya dengan mengikuti kelas Pak Burhan bersama kelas lain.
Ferry menyeka peluh. Tangannya bergerak mengambil benda pipih di saku celananya. Lelaki itu mencoba menelefon Vanys untuk bertemu. Jika saja Vanys tidak absen kelas hari ini, sudah pasti ia akan menemui gadis itu secara langsung.
"Halo, Van? Lo di mana?" tanya Ferry. Bukannya menjawab, gadis di seberang sana malah memperdengarkan suara isakan.
"Loh, lo kenapa? Van!" seru Ferry dengan raut khawatir.
"Hidung gue mampet, nggak bisa napas. Kepala gue pusing," keluhnya. Rengekan Vanys semakin terdengar.
"Lo sakit? Lo kenapa, sih?" tanya Ferry lagi.
"Nggak tau, kepala gue sakit. Lo ke sini, deh!" suruh Vanys.
"Oke, gue ke sana 30 menit lagi," balas Ferry sebelum memutus panggilannya. Ferry memasukkan kembali ponselnya ke saku. Lelaki itu bergegas berlari melalui koridor untuk mencapai parkiran. Pikirannya kalut, ia hanya tak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Vanys. Hanya saja ia akan membeli obat dan makanan dulu untuk gadis itu.
Saat sampai di parkiran, dirinya mendengar ada seseorang memanggilnya. Ferry yang hendak memakai helm terhenti. Lelaki itu menoleh ke asal suara.
"Fer!" panggil seseorang di arah lain.
"Lo sibuk nggak?" tanya Viola. Ferry menyeritkan dahinya.
"Emang ada apa, Vi?" tanya Ferry balik.
"Enggak, sih. Gue cuma mau ajak lo aja buat beli bahan buat acara reboisasi besok. Lo bisa nggak? Soalnya gue nggak tau pupuknya apa aja," tanya Viola.
"Aduh! Bukannya gue nggak mau bantu lo, Vi. Cuma gue udah janjian sama orang lain. Sorry, ya," balas Ferry. Viola menekuk bibirnya.
"Yah, terus gimana, dong? Ini pen—"
Belum juga Viola berujar, Ferry malah melambaikan tangannya ke arah lain. Lelaki di seberang sana, akhirnya pun mendekat.
"Ada apa, Fer?" tanya Devon, lelaki yang juga satu ormawa dengan mereka.
"Gini, Arvi si bendahara 'kan nggak masuk, terus tadi Viola nawarin diri buat gantiin, nah dia hari ini mau beli buat perlengkapan program reboisasi besok. Berhubung Viola nggak tau mau beli apa aja, lo bisa 'kan temenin Viola? Soalnya tadi dia ngajak gue, cuma gue udah janjian duluan sama Vanys," jelas Ferry. Senyum Devon mengembang.
"Bisa! Bisa banget malah!" pekik Devon. Lelaki itu memang sudah mencintai Viola sejak semester 3, hanya saja gadis itu terlalu mengabaikannya demi berharap kepada Ferry.
"Kalo gitu, thanks, ya, Von. Gue jalan dulu," balas Ferry. Lelaki itu langsung memakai helmnya dan menaiki motor. Saat Viola memprotes, lelaki itu tak mendengar sama sekali.
Motor itu sudah berjalan meninggalkan parkiran. Meninggalkan dua insan yang memiliki ekspresi kontras. Devon dengan raut bahagia dan Viola dengan raut kesalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
43 Bagian Cerita Vanys [END]
Romance[NEW VERSION] Kadang, kita harus memilih antara luka untuk bahagia atau bahagia untuk luka. Bagi kamu yang bimbang dalam urusan mencinta tanpa dicinta, kisah ini sungguh cocok untukmu. Dalam setiap goresan penanya, lelaki itu menuangkan segala rasan...
![43 Bagian Cerita Vanys [END]](https://img.wattpad.com/cover/143941271-64-k495155.jpg)