"Rasanya begitu sunyi dan sepi, ketika dia punya persinggahan lain,"
🐋🐋🐋
Vanys sampai terbawa mimpi, perihal setiap perhatian kecil yang Ferry berikan padanya. Hatinya berharap lebih, tetapi pikirannya menolak. Bukannya sudah biasa jika seorang sahabat akan memberikan perhatian-perhatian kecil pada sahabatnya. Apalagi mereka sudah bersahabat lebih dari 2 tahun.
Vanys menyeka peluhnya. Ia baru saja selesai joging mengelilingi kompleks perumahannya. Namun, setelah masuk pekarangan rumah, Vanys melihat mobil kedua orang tuanya. Gadis itu mengembangkan senyuman. Akhirnya, kedua insan yang ditunggu sudah kembali ke rumah. Kaki-kaki kecilnya berlari ke depan pintu. Akan tetapi, suara jeritan, bentakan, dan teriakan mendominasi. Vanys mengurungkan tangan untuk membuka pintu. Gadis yang sempat tersenyum berubah murung.
"Selalu begini," gumamnya.
Kakinya ia arahkan untuk berjalan kembali ke depan. Sepertinya ia harus joging satu putaran lagi atau memilih untuk mencari sarapan di luar. Intinya, ia tak ingin menjadi pendengar atau penyaksi dari pertengkaran hebat itu. Akan tetapi, takdir tak menyetujuinya. Pintu terbuka saat dirinya hendak menghindar. Teriakan sang mama menginterupsi agar Vanys tetap di tempatnya.
"Van, kamu ikut Mama pulang ke rumah Mama! Mama nggak sudi kamu tinggal sama orang yang suka selingkuh!" seru Arlita, Mama Vanys. Wanita itu sudah menarik pergelangan tangan kanan Vanys.
"Nggak! Vanys ikut aku. Aku dan penghasilanku lebih layak untuk menghidupi Vanys daripada kamu!" bentak Yunus. Pria itu menggenggam pergelangan tangan Vanys di sisi lain.
Gadis yang berada di antara keduanya itu terlihat muak. Matanya dipejamkan guna menahan amarah saat kedua orang tuanya berlaga layaknya anak kecil yang berebut mainan. Vanys dengan kasar menepis kedua tangan yang menggenggam pergelangannya.
"Udah cukup, Ma, Pa! Aku capek!" seru Vanys. Gadis itu berlari memasuki rumah. Ia akan pergi sejauh mungkin yang ia bisa.
Langkah kaki terburu menaiki tangga. Membuka pintu kamar dengan kasar. Mengambil koper dengan tak sabaran. Dan memasukkan baju-baju dengan perasaan yang campur aduk. Pakaiannya sekarang ia ganti. Tangannya tak lupa membawa sepatu dan tas, beserta keperluan seperti dompet, uang, dan ponsel. Tangan itu dengan lihai memesan taksi online yang akan membawanya pergi.
Pemandangan pertama saat ia keluar kamar adalah kedua orang tua yang masih memperebutkan dirinya. Namun, gadis itu tak peduli. Beberapa kali tangannya menepis dan menyentak. Tak peduli dosa apa yang akan ditanggungnya, asalkan hari ini dia terbebas.
Kaki itu berjalan terburu dengan koper yang ditarik. Ia semakin mempercepat langkah menuju depan gerbang. Untung saja taksi yang ia pesan sudah datang, sehingga ia bisa cepar-cepat melarikan diri.
Di dalam taksi gadis itu menangis. Menatap ke arah luar melalui jendela. Meratapi nasib yang terjadi padanya. Bahunya gemetar, tetapi tak ada isakan yang keluar. Ia menangis dalam diam. Perasaannya hancur, sedangkan isi kepalanya harus berpikir ke mana ia akan pergi. Sampai sebuah ide terlintas. Hanya apartemen Ferry tempatnya akan menginap. Untuk hari ini, selebihnya ia tak ingin merepotkan.
Tangan Vanys mulai menyeka air matanya. Ia mencoba mengambil ponsel di saku celananya. Tujuannya mengabari Ferry jika ia akan menginap di apartemen lelaki itu. Namun, saat ponsel didekatkan ke telinga, tak ada jawaban dari seberang. Ponsel Ferry tak aktif.
KAMU SEDANG MEMBACA
43 Bagian Cerita Vanys [END]
Romance[NEW VERSION] Kadang, kita harus memilih antara luka untuk bahagia atau bahagia untuk luka. Bagi kamu yang bimbang dalam urusan mencinta tanpa dicinta, kisah ini sungguh cocok untukmu. Dalam setiap goresan penanya, lelaki itu menuangkan segala rasan...
![43 Bagian Cerita Vanys [END]](https://img.wattpad.com/cover/143941271-64-k495155.jpg)