Potret 29 : Merindu

888 38 51
                                        

❝Level sedang dari mencinta adalah rasa rindu itu sendiri.❞

🐋🐋🐋

Duduk santai di area tamling seraya menggerakkan kaki. Termenung, menatap lurus ke depan. Satu minggu lebih Arion tak ada kabar. Ia rindu, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Vanys tak bisa mengambil cuti lagi. Menghela napas berat. Kepala ia sangga dengan kedua tangan. Memasuki pertengahan bulan November, hanya membuat Vanys semakin gundah. Akhir Desember nanti, ia sudah UAS. Menempuh semester enam yang kian lama semakin membuatnya pening. Mungkin akan semakin sibuk.

"Kenapa waktu berlalu cepet banget, sih?" gumamnya. Gadis itu memindah kedua tangan sebagai tumpuan badan. Kepala mendongak ke atas seraya memejamkan mata.

"Karena lo terlalu menikmati waktu yang berlalu," sahut Ferry seraya menempelkan minuman berperasa ke pipi Vanys.

"Dingin, Fer! Btw, makasih, ya," ujar Vanys setelah mengambil minuman rasa susu stroberi itu. Gadis itu meneguknya sampai setengah. Begitu haus, tetapi ia malas pergi ke kantin.

"Eh, kok lo udah di sini? Bukannya lo masih rapat, ya?" tanya Vanys. Ferry menggeleng.

"Udah selesai, sih. Awal Desember juga udah kelar buat panggung dan segala macamnya. Januari minggu akhir udah mulai pasang aja," jelas Ferry. Lelaki itu meneguk minuman yang sama sampai tandas. Vanys menatap Ferry.

"Masih haus? Mau lagi?" tanya Vanys seraya memberikan minuman sisanya kepada Ferry. Lelaki itu menggeleng.

"Nggak usah, buat lo aja. Gue cuma kepanasan," balas Ferry. Vanys mengangguk mengerti. Gadis itu pun menghabiskan minumannya juga.

"Soal Arion gimana? Udah kabarin lo?" tanya Ferry. Raut cemberut Vanys kembali. Gadis itu menatap Ferry sendu. Kemudian, ia menggeleng.

"Masih nggak aktif. Kata Kak Letta juga jarang lihat Arion balik ke apartemen. Padahal unit mereka hadap-hadapan. Gue jadi bingung," papar Vanys.

"Waktu seminggu ditambah empat hari, apalagi pergi ke luar kota nggak pamit sama lo, gue rasa lo punya hak buat akhiri semua. Kasih kesempatan kedua boleh, tapi kalo akhirnya tetep disia-siain buat apa? Lo cuma punya satu hati, sedangkan banyak nama yang mengantre buat tersimpan di hati lo. Pikirin hal yang sekiranya baik buat lo, gue percaya lo bisa," lontar Ferry. Lelaki itu menepuk punggung tangan Vanys dua kali seraya menampilkan senyum.

"Gue bakal coba," putus Vanys. Gadis itu menatap lurus lagi. Sampai Ferry menariknya untuk pergi ke suatu tempat.

🐋

Vanys terkejut ketika Ferry membawanya ke depan tulisan besar kampus mereka. Universitas Indonesia, suatu kebanggaan bagi setiap raga yang bisa diterima masuk di dalamnya. Begitu juga incaran banyak orang-orang yang menginginkan.

"Kenapa di sini?" tanya Vanys.

"Foto," singkat Ferry. Dahi Vanys mengerut. Apakah Ferry gila?

"Lo nggak lupa 'kan soal mitos bisa lulus lama kalo foto di sini?" ujar Vanys. Ferry menghela napas. Lelaki itu menarik Vanys untuk ikut dengannya.

"Mitos doang. Lagian lo nggak kepengen punya kenang-kenangan pernah kuliah di sini? Banyak orang loh yang pengen kuliah di sini," sangkal Ferry. Vanys menghela napas.

43 Bagian Cerita Vanys [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang