Epilog

1.5K 29 4
                                        

❝Tuhan yang lebih tahu, pantaskan kita untuk bertemu kembali. Jangan menangis maupun merindu. Aku baik-baik saja.

🐋🐋🐋

Enam tahun kemudian ....

Mengejar kesibukan karir sebagai salah satu CEO event organizer membuat hari-hari Vanys begitu lelah. Berkutat dengan meja kerja dan banyak klien yang harus ditemui. Bahkan, beberapa klien meminta waktu weekend hanya sebatas ingin membahas soal acara. Lelah, tetapi beginilah pekerjaan Vanys.

Wanita berusia dua puluh enam tahun itu menyeka peluh di dahi. Berkas-berkas permintaan klien masih harus ia rapikan. Hari ini, wanita itu berjanji akan pergi ke pagelaran seni. Rasanya tak sabar. Ia hanya memiliki waktu dua jam untuk persiapan.

"Biar aku aja, Mbak yang beresin," tawar Alexa, seorang karyawan magang di EO milik Vanys. Wanita itu mendongak, lalu tersenyum.

"Nggak usah. Katanya mau ada bimbingan sama dosen," balas Vanys. Alexa menyengir, gadis itu memang akan ada bimbingan satu jam lagi.

"Ya udah kalo gitu. Aku pamit dulu, ya, Mbak!" pamit Alexa. Gadis itu adalah mahasiswi di salah satu universitas negeri Jakarta. Anak perantauan dari Jepara. Vanys pun mengangguk.

Tiga puluh menit berlalu, kini segala beban tugas telah selesai. Wanita itu menghela napas. Begitu penat hari ini. Ia meraih sling bag, lalu meninggalkan kursi kebesarannya. Menutup kantor EO dan bergegas pulang.

"Ke salon nggak, ya?" gumam Vanys saat berada di dalam mobil. Wanita itu tampak menimbang keputusan.

"Ah, nggak usah, deh! Nanti telat lagi," sahutnya bermonolog. Wanita itu menginjak gas lebih keras. Melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.

🐋

Disambut oleh Keenan adalah sebuah healing bagi Vanys atas segala penatnya. Keenan adalah adik sambungnya. Lelaki kecil itu adalah buah cinta dari Maria dan Erwin. Keenan masih berusia tiga tahun. Sebenarnya jika Maria tidak keguguran kala itu, Keenan akan mendapat kakak perempuan. Namun, nahasnya Tuhan lebih sayang kakak perempuan Keenan. Toh, tak jadi masalah karena Vanys juga kakaknya.

"Keenan, Kak Vanys biar mandi dulu, Sayang," tegur Maria. Vanys pun tersenyum. Ia menghampiri Maria dan mencium punggung tangan Maria.

"Cuma bentar kok, Ma. Nggak apa-apa," balas Vanys. Maria menyuruh putri sulungnya untuk naik. Maria memberitahu bahwa undangan untuk Vanys sudah datang.

Vanys bergegas pergi ke atas. Wanita itu membuka kamar. Ia melihat sepucuk undangan di antara sebuket mawar merah. Ia mendekat dan mencium bunga itu. Harum.

"Manisnya," gumam Vanys.

Setelah menghabiskan banyak waktu, Vanys pun bergegas meraih handuk. Ia akan menjalankan ritual mandinya. Rasanya tak sabar untuk cepat-cepat sampai di galeri seni.

🐋🐋

Gaun selutut berwarna putih menjadi pilihan dari Vanys. Wanita yang memasuki Edwin's Gallery tampak begitu anggun dan cantik. Wanita dengan heels warna cream setinggi tiga sentimeter itu berjalan lurus ke sebuah karya seni utama pameran hari ini. Wanita dengan membawa bunga mawar biru, melangkah mendekat. Kerumunan seketika membuka jalan.

43 Bagian Cerita Vanys [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang