❝Jika iya seorang lelaki dan perempuan yang bersahabat tak boleh mencinta, ingatlah jika aku juga lelaki biasa.❞
🐋🐋🐋
2 Januari 2021
Tanggal 1 Januari dengan segala perayaannya, telah membuat Vanys dan Ferry menghabiskan banyak waktu guna beristirahat di hotel. Keluar hanya sekadar makan. Namun, hari itu sudah berlalu. Hari ini adalah puncaknya. Mereka akan memanjakan telinga dengan nada-nada indah. Malam ini mereka akan mendatangi salah satu festival musik tahunan ternama di Jakarta 'We The Fest' yang bertepatan di JIExpo.
Membuka tirai kamar, memandangi kota Jakarta dengan segala kepadatan aktivitas manusianya. Tampak seperti kerumunan besar. Macet di mana-mana, begitu pula suara klakson yang sahut-menyahut. Gadis itu meregangkan otot-otot tubuhnya seraya memandangi luaran jendela.
"Capek juga tidur seharian," gumam Vanys. Ia menuju meja di mana ada kopi dan cangkir kosong.
"Morning coffee enak kali, ya," gumamnya lagi.
Gadis itu menyeduh kopi miliknya. Berdiri di balkon seraya menyesap kopi buatannya. Membuka jendela dan menikmati udara yang menyapu wajah.
Sementara itu, di kamar samping Ferry tengah bingung. Ia berniat akan mengatakan segala isi hati malam ini. Sesaat setelah konser nanti. Harap-harap hati Vanys benar-benar kosong. Perihal hasil, lelaki itu tak terlalu mencemaskan. Ia hanya takut susana setelahnya jika saja Vanys menolak dirinya. Bimbangnya di situ, ia hanya takut akan suatu hal yang berakibat buruk atas hubungan mereka.
Lelaki itu mengangkat telefon. Ia berniat menghubungi Devon untuk meminta saran.
"Bangsat nih orang! Tahun baru tidur sama berapa cewek? Anjir!" umpat Ferry yang terus-terusan menekan tombol dial.
"Halo?" Suara serak dari sana membuat Ferry mengumpat lagi.
"Halo! Bangsat lo, baru bangun, ya? Berapa ronde lo?" ketus Ferry.
"E ... anjir! Gue udah tobat. Cuma sering ke bar doang yang belum bisa dikurangin," balas Devon.
"Oh, ya lo ngapain telefon gue pagi-pagi? Liburan lo ada masalah?" tanya Devon yang peka.
"Nggak, kok. Gue cuma lagi bingung. Gue pengen nembak dia malam ini, kira-kira gimana menurut lo?" tanya Ferry yang kini kembali ke topik utama.
"Ya kalo gue, gas aja selagi ada peluang. Lagian lo nggak pernah nyoba juga. Perihal hasil, pikir nanti ajalah," jawab Devon.
"Gue sih juga udah mikir itu, tapi masalahnya apa iya bakal baik-baik aja setelah gue ungkapin? Lo tau sendiri 'kan gue nggak mau hubungan ini canggung setelah gue ungkapin semuanya," ujar Ferry dalam telefon.
"Kalo itu gue nggak bisa jamin, tapi kalo lo nggak pernah nyoba, gimana cara lo tau perasaan dia? Lima semester bukan waktu yang singkat, apalagi kalian deket nggak sebatas dua insan, tapi dua keluarga," jelas Devon. Ferry menghela napas. Ia memejamkan mata. Menimbang penuh keputusannya.
"Oke, gue bakal coba," putus Ferry.
"Nah, gitu, dong! Baru temen gue. Oh, ya gue duluan, deh. Mau jalan sama temen," pamit Devon yang langsung memutus sambungan telefon.
KAMU SEDANG MEMBACA
43 Bagian Cerita Vanys [END]
Romance[NEW VERSION] Kadang, kita harus memilih antara luka untuk bahagia atau bahagia untuk luka. Bagi kamu yang bimbang dalam urusan mencinta tanpa dicinta, kisah ini sungguh cocok untukmu. Dalam setiap goresan penanya, lelaki itu menuangkan segala rasan...
![43 Bagian Cerita Vanys [END]](https://img.wattpad.com/cover/143941271-64-k495155.jpg)