Tes. Tes. Tes.
Atap mobil Hassan diserbu hujan. Beberapa kali petir berkilat.
Mereka tentu bukan salah satu dari yang gemar menggerutu pada hujan, apalagi berniat mengutuknya.
Hanya saja, tentu kali ini akan lebih tidak menguntungkan dengan turunnya hujan, jarak pandang dan gerak mereka akan lebih terbatas dari sebelumnya.
Adam semakin gelisah, puluhan kali kepalanya berlarian dari jendela samping lalu ke depan. Jemari tangannya bergantian mengetuk paha dan dashboard.
Hassan melihat kegelisahan adik iparnya, sebotol air mineral diulurkannya, "Minumlah... Kita tetap perlu untuk tenang."
"Kita lapor polisi saja, San."
"Kau tahu. Laporan kita tak akan diterima sebelum 24 jam."
"Tapi__"
"Minumlah...."
Mau tak mau, Adam menerima air minum yang nyaris dilemparkan Hassan.
♡♡♡
Shafa terpojok. Gemetaran. Sesekali dirasa perutnya keram. Tapi rasa sakit itu terlalu mudah untuk diabaikan dalam kondisinya saat ini. Shafa merosot ke lantai angkot, meringkuk takut-takut. "A-aku mohon... Bi-biarkan aku pergi...."
Lelaki itu terkekeh. "Tenanglah, cantik... Aku tidak akan menyakitimu." Satu tangannya yang akan menyentuh pipi Shafa ditepis.
Ditolak demikian, stok kesabarannya tak cukup untuk bermanis-manis. Dicengkeramnya dagu Shafa. Masa bodoh dengan tangan Shafa yang memukuli tubuhnya. "Dengar ya, Shaf. Stok kesabaran yang kupunya tidak cukup banyak."
Sret!
Sekali sentak saja, pasmina instan berwarna rose melayang dari atas kepala Shafa. Dilempar asal ke belakang tubuh lelaki itu. Kilasan kejadian masa lalu pun terbias, menambah besar rasa takutnya.
Tersingkap sudah mahkota yang selama ini dilindungi nya. Mendadak, rasa kotor menjalari tubuh Shafa. Aurat yang sebelumnya hanya disuguhkannya untuk Adam, kini disaksikan oleh lelaki gila bermata penuh kabut gairah.
Ini tidak akan baik... Ini tidak akan baik... Lari. Lari. Batin Shafa menekan rasa takutnya.
Dengan cepat dan yakin, satu tangan Shafa merogoh kantung samping ranselnya, tempat biasanya ia menaruh hand sanitizer semprot. Lalu... Srot! Disemprotkan tepat di depan mata lelaki itu.
"Shit!"
Duk!!
Belum selesai dengan rasa perih yang menjalari matanya, lelaki itu terjungkal ke belakang oleh tendangan kaki kiri Shafa. Diambilnya celah di sisi kiri lelaki yang masih mengaduh itu. Shafa keluar.
Tapi rasa leganya tak genap lima detik. Karena saat selangkah turun dari angkot, kakinya dicekal hingga kembali tersaruk jatuh.
"Berani-beraninya kau!" Plak!! Hardiknya, menampar pipi kanan Shafa. Hingga sudut pipinya memerah berdarah.
Kini Shafa dan lelaki itu sukses diguyur hujan yang tak lagi deras tapi sukses membuat mereka basah. Dengan posisi menindih Shafa, gairahnya terbakar, bercampur baur dengan amarah dan ketidaksabaran.
Dicengkeramnya sekali lagi dagu Shafa. "Kau!! Habis sudah kesabaranku."
"Ja-jangan... Hiks. Hiks. Tolong... To-long..." berontak Shafa, bagian atas gamisnya hendak dikoyak paksa.
"Diam!!!"
Sret!
Koyak satu kancing atas gamis Shafa. Serta merta diremasnya oleh Shafa. Sepayah-payahnya ditutupnya.
Bukannya melemah, lelaki itu justru semakin gila saat melihat usahanya mengalami perkembangan. Secuil leher jenjang Shafa jelas dilihatnya. Dengan satu gerakan, dicekalnya kedua tangan Shafa di sisi tubuh, persis menempel di tanah yang mulai becek.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND CHANCE
Spiritual#1 Inspiratif (08-08-2018) ...... Dalam takaranku, kami bahagia... Delapan tahun menikahinya dengan dianugerahi dua orang buah hati yang lucu membuatku merasa sempurna. Bagiku, aku telah memenuhi hak kedua buah hatiku, yakni menjadikan mereka terla...
