Assalamu'alaikum...
Shalih/ah. Sekiranya berkenan..
Yuk bantu Leny.. Dengan mengirimkan komentar berupa saran/kritiknya tentang Second Chance.
Sejatinya, sebuah nasihat kan merupakan bukti kecintaan seorang saudara.
Salam cinta,
Leny 😘😘😘
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Rambut tergerai. Hot pants atau rok mini. Dengan cup 36B.
Hmmm... imajenasiku tentangmu sejauh itu.
So, boleh icip-icip sedikit?
Tahu bahwa ban motornya sengaja diiris seseorang yang besar kemungkinan memiliki volume otak minimum tak cukup membuat Shafa gemetaran bila dibandingkan dengan surat kecil yang digulung pita abu-abu, yang sebelumnya diselipkan di spion kiri motornya dan kini dipegangnya.
Selama ini, sejauh ini, ia selalu berusaha menjaga diri dengan menutup aurat dan menjaga komunikasi lawan jenis, terlebih setelah menikah, bukan untuk direndahkan dengan sepucuk surat, tepat setelah dirinya menunaikan shalat Ashar.
Wallahi, tak ada seorang perempuan pun yang lapang hatinya saat direndahkan.
"Kelewatan!! Sini! Biar aku laporin satpam!" sentak Ayla, suara meninggi setelah melirik isi surat di tangan Shafa.
"Jangan, Ay."
"Kamu ini gimana sih, Fa. Ini udah kedua kalinya kamu dapet surat kayak gini. Pake bocorin ban pula. Itu orang pasti cacat anatomi. Nggak punya pikiran. Yang begini masih mau didiemin?" Sikap pasif Shafa yang malah membuat Ayla kesal.
"Aku cuma nggak mau karena masalah ini justru jadi heboh di kampus."
"Tap__"
"Ay... please... aku belum cukup kuat setelah semua isu yang merebak gara-gara kasus mading tempo hari."
Belum sempat Shafa mendengar sahutan Ayla, sebuah tangan berbalut kemeja berlengan batik Sasirangan melewati bahunya dan... sret! Kertas yang sebelumnya dipegang Shafa telah beralih.
"P-pak Ad-dam..." sapa Ayla. Mendadak gugup dan serba-salah. Apalagi saat melihat Shafa berbalik cepat dan kaget.
"M-mas. I-itu... Eng... A-aku."
"Aku tau. Kamu pulang denganku. Ke parkiran dan tunggu aku."
"Tapi, Mas. Ak__"
"Sekarang, Shaf."
"I-iya." Lalu Shafa menoleh sedikit, "Duluan, Ay." Diangguki cepat oleh Ayla yang tiba-tiba membeku.
"Kamu tau siapa yang melakukannya?" Adam mengacungkan surat di tangannya. Shafa sudah menghilang.
Ayla menggeleng cepat, dan gugup sudah barang pasti, "T-tidak, Pak."
Adam mengangguk sekali. "Baik. Saya duluan. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Fiuhh... ada selongsong udara diloloskannya dari tenggorokan.
♡♡♡
Adam tahu betul. Sedari tadi, yang menemaninya dalam mobil hanya seseorang wanita dengan jiwa melalang buana.
Greb.
Satu tangan Adam melingkar di lengan atas Shafa, menahannya untuk urung meninggalkan mobil, sekalipun telah terparkir di halaman rumahnya.
"Katakan padaku... apa yang kamu rasakan." Harus sampai beginikah Adam menodongnya. "Katakan kalau surat itu tidak mempengaruhimu."
"Aku... tidak papa," cicit Shafa.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND CHANCE
Spiritual#1 Inspiratif (08-08-2018) ...... Dalam takaranku, kami bahagia... Delapan tahun menikahinya dengan dianugerahi dua orang buah hati yang lucu membuatku merasa sempurna. Bagiku, aku telah memenuhi hak kedua buah hatiku, yakni menjadikan mereka terla...
