Seseorang tidak akan pernah merasa kehilangan.
Sebelum kata 'memiliki' itu menjadi pernah baginya.
Dan tidak ada seorang pun, yang benar-benar siap dengan kehilangan.
Selihai apapun ia beradaptasi dengan takdirnya.
(Shafa Khumaira Hamid)
Maka kuatkanlah kembali hatimu,
Dengan fakta,
Bahwa segala milikmu adalah kepunyaanNya
Meski kamu harus sekuat tenaga mengawalinya dengan berpura-pura menerima.
(Adam)
♡♡♡♡♡
Adam nyaris membanting map di tangannya. Tinta merah yang menghiasi nyaris seluruh halaman jangan ditanya sebabnya. Padahal, belum sepuluh menit mahasiswa bimbingannya menghadap.
"Jangan kembali sebelum kamu benar-benar merevisi skripsimu!"
Mahasiswa di hadapannya duduk merunduk takut-takut.
"Jangan kamu kira saya lupa kalau yang kamu bawa sekarang masih tak berubah sepatah kata pun dari empat hari lalu." Aura di sekeliling mendadak horror. Beberapa mahasiswa yang tengah duduk di ruang tunggu pun menoleh waspada. "Kamu pikir waktu saya seluang itu untuk memeriksa skripsi yang bahkan belum kamu sentuh?"
Mahasiswi berkemeja biru itu kicep. Tenggorokannya tandus. Dengan takut-takut ia meminta maaf dan pamit pergi.
Adam mendengus, sebanyak-banyaknya membuang sebal di dadanya. Tau begini, ia leyeh-leyeh menemani Shafa di rumah. Adam mengecek jam tangannya, masih sempat untuknya mengejar shalat Ashar di masjid komplek.
♡♡♡
"Naura udah selesai makannya? Kok cepet ba__" suara Shafa menguap di udara. Melihat sosok yang berdiri di ambang pintu, yang ternyata bukan Naura, gadis kecilnya yang baru saja keluar untuk makan siang. Tapi....
"Aku kemari untuk menjengukmu...."
Mendadak. Shafa memegang perutnya, nalurinya memaksanya bersiaga. "Ini tidak akan baik... Ini tidak akan baik...," firasatnya.
"Mbak A... Asma." Shafa membawa dirinya untuk duduk.
Sosok itu bersedekap. Bersandar di pintu dengan pandangan berkeliling. Pandangannya kaku dan tak berniat ramah-tamah. "Aku dengar... Kamu hamil." Asma tersenyum miring. "Baguslah... Jadi aku tidak akan merasa sungkan untuk membawa Faiz."
Deg.
Shafa tercekat. Aku tidak akan sungkan membawa Faiz, terus terulang di pikirannya sampai disadarinya Asma berbalik untuk keluar. Tak berpanjangan pikir, Shafa menyibak selimut. Lupa pada rasa kram di perutnya, lupa pada sesuatu dalam dirinya yang harus dijaga, lupa pada titah Adam yang bahkan melarangnya untuk duduk, alih-alih berlari seperti saat ini.
"Mbak... Jangan. Jangan, Mbak. Biarkan Faiz di sini bersama kami. Aku mohon..." tertatih Shafa menyusul Asma.
Rumah yang dipijak Asma, tak lagi membuatnya segan. Seluruh bagian rumah ini bahkan sudah sangat dihapalnya. Asma berjalan pongah, masih dengan rasa percaya diri tinggi dan tanpa mau repot-repot peduli dengan Shafa yang kepayahan berjalan.
Beberapa langkah dari kamar yang ditempati Shafa, Asma berbalik, "Kamu jangan serakah. Kamu mendapatkan kak Adam. Dan aku akan membawa Faiz. Kita impas." Lalu, Asma menuju tangga, kamar yang biasa ditepati Faiz dan Naura ada tepat di sebelah kamar utama di lantai dua. Tapi, langkahnya terhenti tepat saat sebelah kakinya menapak anak tangga pertama, diinterupsi tangisan bayi, dari kamar yang tak jauh dari tangga.
"Mbak... Aku mohon. Jangan begini...."
Lengan Asma dicekal Shafa. Tapi ditepis segera. Lalu tanpa dapat ditawar, kembali menuju kamar yang ditepati mama Ami, ada Faiz yang tengah menangis di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
SECOND CHANCE
Spiritualité#1 Inspiratif (08-08-2018) ...... Dalam takaranku, kami bahagia... Delapan tahun menikahinya dengan dianugerahi dua orang buah hati yang lucu membuatku merasa sempurna. Bagiku, aku telah memenuhi hak kedua buah hatiku, yakni menjadikan mereka terla...
