Isabella POV
"jadi kalian tidak berkencan?" tanya Chaz.
Chaz dan Ryan menemaniku pulang ke rumah. Rumah Justin dan rumahku cukup dekat sehingga bisa ditempuh dalam beberapa menit hanya dengan jalan kaki.
"tidak. Sebetulnya ciuman tadi diluar rencana. Aku bahkan tidak menyangka itu akan terjadi," jawabku.
"dan Justin sudah memberitahumu bahwa dia menyukaimu?" tanya Ryan, "apa dia tahu kau juga menyukainya?"
Aku menggeleng.
"apa maksudmu?" Chaz mengerutkan keningnya.
"dia tidak tahu. Saat dia memberitahuku, aku bilang aku menyukai orang lain," jawabku.
"biar kutebak. Kau bilang kau menyukai Taylor, kan?" tebak Chaz.
Aku mengangguk. "well, itu tidak sepenuhnya bohong. Taylor memang istimewa. Maksudku, perasaanku padanya berbeda dengan perasaanku pada kalian," jelasku.
"tapi kau memilih Justin dibandingkan dia?" tanya Ryan.
Aku mengangguk lagi. "dan dia kelewat baik. Dia bahkan sempat menanyakan keadaan Justin. Dia membuatku merasa aku ini sangat jahat," keluhku.
Chaz menepuk-nepuk bahuku. "tidak apa, Bella. Kurasa Taylor mengerti," katanya.
"ya. Kurasa dia bisa mengerti. Dia tahu aku menyukai Justin," akuku.
Chaz dan Ryan berhenti dan menatapku dengan mata terbelalak lalu mereka berdua menggeleng. "itu baru namanya jahat, Bella," kata Ryan.
Aku mendesah dan menunduk. Dia benar. Well, apa yang terjadi antara aku, Justin dan Taylor tidak sesedehana yang mereka bayangkan. Setidaknya itulah yang aku rasakan.
#Justin P.O.V#
Hari ini hari Sabtu dan pagi ini aku turun ke lantai bawah dan menemukan rumahku kosong tanpa satu oran pun. Aku menemukan pesan yang ditempelkan ibuku di kulkas yang mengatakan dia pergi bekerja dan akan pulang lebih cepat nanti sore.
Bagus sekali. Sendirian di hari Sabtu dengan tangan kanan yang patah? Apa yang bisa kulakukan?
Aku mengeluarkan ponselku dari kantung belakang celanaku dan menelfon Bella. Dia menjawab setelah deringan ketiga.
"halo?"
"Bella kau bisa ke rumahku sekarang? Ibuku sudah pergi ke kantor dan aku sendirian."
"Justin kau sudah besar. Memangnya kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri?". Aku yakin Bella memutar bola matanya saat dia mengatakan ini.
"aw Bella, kau tahu lenganku patah. Aku tidak bisa melakukan apa-apa," jawabku semelas mungkin.
Bella mendesah. "baiklah. Aku akan sampai di sana dalam 5 menit."
"baiklah. Sampai ketemu, Bella," kataku riang dan menutup telfonnya.
Aku melangkah ke arah dapur. Mengambil mangkuk dan mengambil kotak sereal dari lemari yang menggantung di dinding dapur.
Aku sedang menuang sereal ke dalam mangkuk saat Bella meanggilku dari ruang tamu.
"Justin?" panggilnya.
"di sini," jawabku.
Bella masuk ke dapur dan berdiri sambil menyilangkan lengannya di dada lalu menatapku.
"apa?" tanyaku sambil melangkah ke kulkas dan mengambil karton susu.
Bella memutar bola matanya dan duduk di bangku di depan konter. "kau membuatku pergi ke sini pagi-pagi sekali. Aku bahkan belum sempat sarapan," gerutunya.
Aku mengangkat bahu dan menuang susu ke dalam serealku. "ya sudah, sarapan bersamaku. Mau kuambilkan sereal?" tanyaku.
Dia mendesah lalu bangkit. "tidak usah. Aku ambil sendiri," jawabnya.
Aku mengangguk dan mulai menyendok serealku sementara Bella mengambil mangkuk, menuang sereal lalu susu dan duduk di depanku.
"Jad, bagaimana hubunganmu dengan Taylor?" tanyaku.
Bella tiba-tiba saja tersedak serealnya dan dia terbatuk-batuk keras sambil menepuk-nepuk dadanya.
Aku berlari ke kulkas dan mengambil jus dan menauangkannya ke gelas lalu memberikannya pada Bella.
Dia menenggaknya dan kembali terbatuk-batuk kecil. Lalu dia menatapku seakan-akan aku ad lah orang keterbelakangan mental.
"apa? Aku kan cuma tanya," kataku dan kembali duduk di hadapannya.
"kenapa kau ingin tahu?" balasnya balik tanya.
Aku mengerutkan kening. "memangnya aku tidak boleh tahu?"
Bella terdiam. "well, secara tidak langsung aku menolaknya―"
"dan memilihku," potongku.
Bella cemberut lalu melempar beberapa sereal padaku lalu kami tertawa.
"yah, bisa dibilang begitu," katanya.
Aku tersenyum dan berdiri lalu mendekat padanya. Aku berdiri di hadapannya sementara dia masih duduk di kursinya.
"kau tahu? Aku senang kau melakukannya," bisikku dan mendekatkan wajahku padanya.
Bibir kami nyaris bersentuhan saat Bella menjauh lalu tertawa. Dia berlari keluar dari dapurku. "kau harus menangkapku dulu, Mr. Bieber!" teriaknya.
"oh sebaiknya larimu cepat, Miss Parker!" jawabku dan mulai mengejarnya.
Aku mendengar jeritan Bella dari arah ruang tamu dan aku langsung berlari ke sana.
Aku dengan mudah mengejar Bella dan menangkapnya. Aku memeluknya dari belakang dengan tangan kiriku sementara tangan kananku yang patah ku jauhkan.
Bella menjerit saat aku menangkapnya dan dia terjungkal yang membuatku ikut terjatuh di atasnya. Bella berbalik dan aku duduk dengan lututku tidak mau membebaninya dengan berat badanku.
Aku dan Bella tertawa lalu aku sekali lagi mendekatkan wajahku ke wajahnya. "kena kau," bisikku dan menyatukan bibir kami.
Aku lagi-lagi aku merasakan perasaan yang sama seperti kemarin malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Obstacles
FanfictionIsabella Parker and Justin Bieber were supposed to be best friends. Tetapi persahabatan retak ketika perasaan cinta mulai tumbuh tanpa bisa dikendalikan. ◦Isabella Jane Parker as Lucy Hale ◦Justin Bieber as Himself
