Part 2

1K 69 1
                                        

Lalu Justin memasuki kelas dan akupun segera bangkit dan kembali ke mejaku. Sejauh mungkin dari anak itu.

Justin langsung duduk di kursinya yang tadi diduduki olehku. Dia bahkan tidak melirikku. Well, benar. Aku memang menyukai Justin. Sangat. Aku menyukainya sejak bahkan kami masih belum mampu berhitung dengan benar.

Aku tau, ini menggelikan. Tapi itu benar. Saat aku berumur tiga tahun, Justin memberikan es krimnya padaku yang menangis. Dan sejak saat itu, aku langsung menyukainya. Kau benar, terlalu murahan. Tapi itulah yang terjadi padaku.

Untungnya, aku sangat lihai menutupi persaanku sehingga Justin bahkan tidak tahu sampai detik ini. Chaz dan Ryan tentu saja tahu, karena Anabelle dan Haylie secara tidak sengaja memberitahu mereka.

Aku mendesah dan mengeluarkan buku-buku kimia ku. Bersabarlah, Bella. Kau tinggal satu bulan lagi bersekolah di sini. Setelah itu, kau tidak akan melihat Justin ataupun Kathrina. Aku sedikit lega dengan pikiranku. Minggu depan adalah ujian akhir sekolah. Aku akan keluar dari sekolah ini dan -aku harap-keluar dari kota ini. Well, keluar dari kota sepertinya sulit. Selain ibuku tidak akan membiarkannya, aku juga tidak ingin meninggalkan teman-temanku. Baiklah, keluar kota dihapus dari daftarku.

Chaz dan Ryan menoleh ke arahku lalu membuat ekspresi konyol saat guru kimia kami sedang menulis di papan tulis.

Aku terkekeh lalu melempar gulungan kertas berisi coretan rumus Kimiaku ke arah mereka. Sialnya, bukannya mengenai Ryan atau Chaz, kertas itu justru jatuh di meja Justin. Aku menepuk jidatku pelan dan mengerang sementara Chaz dan Ryan berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Justin mengerutkan keningnya dan membuka kertas itu.

Aku menunduk dan berpura-pura sibuk mencatat. Sial. Justin pasti tahu itu tulisan tanganku. Dia menoleh ke arahku dan aku semakin berkonsentrasi pada apa yang sedang-atau pura-pura- kutulis. Untungnya guru Kimiaku berbalik dan mulai menjelaskan materi yang dia ajarkan. Aku mendesah lega dan merosot di bangkuku. Fiuh, nyaris saja.

***

Jam makan siang, aku sedang duduk bersama Haylie dan Anabelle sambil mengunyah burger jatah makan siang kami saat Chaz dan Ryan datang menghampiri kami dan duduk di meja kami.

"kejadian di kelas Kimia sangat menyenangkan, Bella. Aku berharap isi kertas itu bukan rumus melainkan kata-kata cintamu untuk Justin.", Chaz tertawa bersama Ryan.

Aku memutar bola mataku dan melempar secuil rotiku padanya. Sial.

"kenapa kalian duduk di sini?" tanya Haylie.

"aku tidak mau duduk dengan Justin hari ini. Dia dan Kate benar-benar menyebalkan. Yang mereka kerjakan hanya berciuman dan itu sangat menjijikan. Dan lagi teman-teman Kate. Oh Tuhan mereka benar-benar mengganggu. Bagaimana Justin bisa tahan?." keluh Chaz.

"benar. Ini semua salahmu, Bels. Jika kau tidak membantunya mendekati Kate dulu, dia tidak akan seperti ini pada kami." tambah Ryan.

"benar. Aku yang tidak pernah lagi bicara padanya dan sekarang ini semua salahku." jawabku.

Mereka semua tertawa sedangkan aku hanya cemberut. Tanpa sengaja, mataku menatap ke arah meja Justin dan Kathrina. Kathrina sedang asyik berbincang dan terkikik geli dengan teman-temannya. Sementara Justin duduk di sampingnya, diam dan memperhatikan mereka.

Sejujurnya, aku merasa tidak enak untuk Justin. Tapi mau apa lagi?. Dia yang memintanya.

"besok hari Sabtu, teman-teman. Hang out? Rumahku?" ajak Ryan.

Aku, Anabelle dan Haylie langsung berteriak semangat.

"bagus. Kakakku baru membawa permainan baru dari tempat kerjanya. Dan ini luar biasa seru." kata Anabelle.

Kami semua tertawa bersama.

"tunggu. Apa Justin akan datang?" tanyaku.

Chaz dan Ryan seketika terdiam. "well, aku sudah mengajaknya. Dan dia bilang dia belum tahu," jawab Ryan, "ayolah, Bels, kurasa dia tidak akan datang. Dia akan pergi dengan Kate. Datanglah, kumohon?"

Ryan menungkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Chaz, Anabelle dan Haylie melakukan hal yang sama.

Aku mengerang lalu mendesah, tapi akhirnya mengangguk. Jika bukan karena mereka memohon-mohon padaku seperti ini, aku tidak akan pergi ke rumah Ryan. Kemungkinan Justin ada di sana sama besarnya dengan dia tidak datang. Dan aku tidak mau melihatnya sekarang. Suasana akan terasa canggung jika ada aku dan Justin di sana. Karena kami juga tidak pernah mengobrol bahkan di luar sekolah.

***

Besoknya, aku memutuskan pergi ke rumah Ryan malam ini. Lagipula memang itulah yang biasa kami lakukan setiap sabtu malam. Hang out bersama dan melakukan kegilaan-kegilaan yang konyol.

Ana -panggilan kecil Anabelle- dan Haylie akan menjemputku sebentar lagi dan kami akan pergi ke rumah Ryan bersama-sama. Ana mengirimiku pesan singkat yang mengatakan dia sudah sampai dan aku langsung mengambil tasku dan memakai sepatu sneakersku.

"mom aku berangkat. Aku tidak akan pulang terlalu malam. Tidak, well, mungkin saja agak larut. Yah, kau tahu dimana mencariku, kan? See you." aku mengecup pipi ibuku lalu langsung keluar dan bertemu dengan Ana dan Haylie. Lalu kami langsung pergi ke rumah Ryan.

Aku, Ana, Haylie, Chaz dan Ryan sedang tertawa terpingkal-pingkal karena sesuatu yang dilakukan Chaz. Kami tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata. Lalu bel rumah Ryan dipencet. Ryan bangkit untuk membukakan pintu. Kami semua yang ada di ruang tamu tentu bisa melihat siapa yang datang ke rumah ini.

Saat pintunya dibuka, aku dan yang lain terkesiap. Ryan bahkan sempat kaget lalu kembali mengatur ekspresinya. Justin berdiri di depan pintu rumah Ryan, merangkul Kathrina. Sial.

The ObstaclesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang