Maaf sebelumnya karena part ini agak nganu.
Gazlan POV
"Lo keterlaluan, Mil! Keterlaluan!"
Aku mengacak rambutku frustasi. Menatap perempuan yang saat ini tertidur di atas kasur dengan tajam. Aku bahkan tak habis pikir dengan apa yang dia lakukan kepadaku. Dia melukai dirinya sendiri, dia juga melukai diriku. Tapi yang terlebih penting dari itu semua adalah Karina. Karina, maafkan aku. Maafkan karena aku tidak bisa menjagamu selamanya.
"Apa, sih, yang ada di otak lo? Lo sengaja mau hancurin masa depan lo? Demi Tuhan, Mil. Gue nggak nyangka dengan kelakuan lo yang kayak gini."
"Gazlan, aku lakuin karena aku sayang sama kamu."
"Sayang lo bilang? Gue nyesel, Mil, udah temenan sama orang kayak lo. Otak lo dimana?! Hah?"
"Gazlan, dengerin aku."
"Nggak! Gue nggak mau dengar apapun dari lo. Tega ya lo udah jebak gue kayak gini. Dan sekarang? Gue yang salah, Mil. Gue yang salah! Gimana sama nasib Karina? Gue sayang sama dia! Lo jahat tahu nggak." desisku. Aku kelewat kesal dan tak bisa menahan amarahku. Padahal tidak biasanya aku semarah ini dengan perempuan.
"Sekarang apa yang harus kita lakuin, hah? Oh, lebih tepatnya adalah gue. Gue harus ngapain sekarang? Jawab, Mil, jawab!" Aku lagi-lagi histeris di dalam kamar bersamanya.
"Kita menikah, Lan. Kamu udah ambil kehormatan aku." Kudengar suara polos Milka.
Hatiku menangis. Ya, hatiku. Aku akui aku terlalu cemen. Aku tahu ini bukan kesalahanku. Ini kesalahan Milka yang sudah menjebakku lewat minuman sial itu. Semalam saat aku ingin mengambil minum untuk diriku dan Karina, aku bertemu dengan seorang pria. Dia mengajakku berbicara sampai aku lupa bahwa tujuanku semula adalah mengambilkan minuman untuk Karina.
Kemudian, berselang beberapa menit kemudian ada Milka yang membawa dua gelas kepadaku. Aku pikir dia tidak akan sejahat ini. Kalau begini, aku lebih setuju otaknya dipenuhi berbagai rumus-rumus dan hapalan daripada niat jahat seperti ini.
Ya. Selepas meminum gelas yang ditujukan Milka untukku, pandanganku sedikit buram dan aku merasakan panas pada sekujur tubuhku. Aku merasakan sebuah gelenyar dimana aku harus menuntaskan itu. Entahlah. Lalu aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi padaku.
Tiba-tiba saja tadi pagi aku terbangun dalam keadaan tidur dengan Milka disampingku.
"Gazlan...." ucapnya lirih. "Maafin aku. Aku sayang sama kamu. Aku nggak mau kamu sama Karina. Itu yang membuat aku jadi ngelakuin ini semua. Maafin aku." Dia terisak.
Tapi aku hanya bisa berdecih. Aku tidak merasa kasihan sedikit pun padanya. Malahan otakku dipenuhi oleh bayang-bayang tawa Karina. Aku percaya bahwa ini hanya akan melukai perasaannya.
"Lo konyol, Mil. Konyol."
"Iya, aku tau! Tapi aku sayang sama kamu! Semenjak Karina masuk Bunga Bangsa, kamu jadi suka sama dia! Apa kamu nggak nyadar kalau selama ini aku suka sama kamu?"
"Kenapa lo nggak pernah bilang? Salah lo diem aja."
"Salah kamu bilang? Kamu lupa kalau dulu kita pernah kerja kelompok? Kamu bilang kamu suka sama aku di rumah kamu. Terus kamu akuin aku pacar kamu di depan mama kamu. Aku cuma diem, Lan. Padahal itu semua gak bener. Dan akhirnya sejak saat itu kita jadi deket. Terus kamu liburan ke Kanada dan kamu balik ke Indo. Kamu ketemu sama Karina. Terus semudah itu kamu pindah ke lain hati? Kamu yang keterlaluan, Lan!"
Aku berdecih lagi-lagi. "Lo yang kebaperan! Lo yang gak bisa bedain mana perhatian sebatas temen dan yang melebihi itu. Kalo cuma makan bareng di kantin, pulang bareng ya gak ada apa-apalah. Lo yang lebay."
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEVAR
Teen FictionKarina Latisha adalah seorang gadis tuna daksa yang ingin merasakan indahnya dunia remaja. Memberanikan diri untuk bersekolah di sebuah sekolah swasta, ia bertemu dengan sosok Gazlan Samudera yang memiliki pesona bak Dewa Yunani. Keduanya punya rasa...
