Pemuda itu berlari menuju tempat tujuannya. Taman.
Bukan tanpa alasan, dia memutuskan meninggalkan pekerjaannya setelah ia menerima telepon dari gadis yang belakangan ini selalu ada untuknya.
Setidaknya ia juga harus ada disisi gadis itu kala ia membutuhkannya. Hitung-hitung balas budi.
Dia, Kim Taehyung. Bernapas tersenggal-senggal saat onyx-nya menangkap objek yang dicarinya.
Gadis itu. Lee Hyeri. Ia duduk termenung di park bench sendirian sambil memainkan kakinya di tanah.
"Hyeri!" teriak Taehyung saat jaraknya dengan gadis itu terpaut 5 meter.
Hyeri menoleh, sudut bibirnya pun tertarik membentuk seulas senyum.
Taehyung berjalan menghampiri Hyeri. Keringatnya bercucuran hingga baju seragam pelayannya basah. Wajar, ia langsung berlari secepat cheetah ketika Hyeri menelepon kafe tempatnya bekerja dan menyuruhnya datang ke taman.
Hyeri menepuk ruang kosong di sampingnya ---mengisyaratkan pada Taehyung untuk duduk di sana.
"Kukira ada sesuatu yang buruk terjadi padamu, ternyata alarm palsu." Taehyung mencibir, dan Hyeri menyambutnya dengan kekehan.
"Apa kau sebegitu khawatirnya padaku sampai-sampai kau berlari tanpa mengganti seragammu?"
"Tentu saja tidak!"
Sebut saja Taehyung itu tsundere.
"Maaf kalau aku merepotkanmu dengan memanggilmu kesini."
"Kau memang selalu merepotkanku," cibir Taehyung. "Omong-omong, kenapa kau memanggilku kesini? Bukannya kau sedang makan malam keluarga, ya?"
Hyeri menghembuskan napasnya pelan, kemudian ia mendongakan kepalanya untuk memandang langit malam yang tak berbintang.
"Apa kupon makan malam gratismu masih berlaku?"
Taehyung mengangguk, walaupun anggukannya tak dilihat Hyeri, "Masih, kau mau makan malam bersamaku?"
Hyeri menegakan lehernya kembali, lalu ia mengangguk semangat.
Taehyung berdiri di depan gadis yang berulang tahun, tangannya pun terulur untuk menarik Hyeri supaya berdiri.
Gadis itu menerima uluran Taehyung dan lekas berdiri tegak.
"Ayo kita makan sampai tidak bisa makan lagi karena kenyang!" Hyeri berseru dengan semangatnya.
______________________________________
"Tunggu di sini, aku akan ganti baju dulu," titah Taehyung sebelum ia meninggalkan Hyeri yang sedang duduk sendirian di suatu meja.
Hyeri menunggu Taehyung dengan sabarnya. Sesekali ia melempar pandangan ke arah jalanan yang terhalang dinding kaca tipis ---menonton orang-orang yang sibuk sendiri tanpa memedulikan sekitar. Begitulah orang Korea, individualis.
Terkadang pula ia mengecek ponselnya dengan rutin ---siapa tahu ada notifikasi masuk. Ya, walaupun ia tidak yakin hal itu akan terjadi.
"Maaf menunggu lama, tadi aku ada urusan sebentar." Hyeri mendongak ketika suara yang dikenalinya tertangkap gendang telinganya.
Taehyung pun duduk di depan Hyeri.
"Kapan makanannya datang? Aku lapar." Dengan tidak tahu dirinya, Hyeri berucap demikian sambil menyunggingkan cengiran bodoh.
"Sebentar lag -oh itu sudah datang." Taehyung menunjuk seorang pelayan yang membawa nampanyang berisi makanan.
Pelayan itu pun meletakan hidangan di meja. Hyeri membelalakan matanya saat melihat hidangan yang tersaji.
"Wow ... banyaknya. Aku baru tahu kalau kupon gratis bisa ditukar dengan makanan sebanyak ini," ujar Hyeri antusias setelah si pelayan meninggalkan meja mereka.
"Aku dapat kupon istimewa yang limited edition, jadi aku bisa memesan apapun sebanyak mungkin."
"Begitu? Bagus lah! Sering-sering dapat kupon seperti ini, ya," ucap Hyeri sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ck, padahal kau orang kaya, untuk apa makan mengandalkan kupon gratis?"
Hyeri menelan makanan yang ada dimulutnya, "Makanan apapun jika itu gratis, pasti sangat enak."
Taehyung pun menyuapkan suapan pertama ke mulunya, "Terserah. Makan lah yang banyak, dan berhentilah bicara. Tersedak, baru tahu rasa." Hyeri mengangguk sambil tersenyum dengan mulut penuh.
______________________________________
Di luar kebersamaan mereka, seseorang sedang memerhatikan dua insan berbeda gender itu dari luar kafe.
Dengan kaos hitam, masker hitam, dan kacamata bening bulat yang membingkai wajahnya -dia menyamar untuk memata-matai gadis yang bermarga Lee. Siapa lagi kalau bukan Hyeri.
Jangan lupakan sebatang rokok yang ia pegang di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, menambah kesan badboy yang melekat dalam dirinya.
Tapi, banyak orang yang lewat melihatnya keheranan. Untuk apa pria ini memegang rokok kalau dia sendiri malah menutup mulutnya dengan masker?
Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.
Kini, pria itu sedang memerhatikan interaksi antara Hyeri dan Taehyung yang sedang makan sambil bersenda gurau.
"Gadis itu ... menambah pekerjaanku saja!" keluhnya.
------------------
Hyeri's POV
"Aku kenyang!" Aku menyandarkan punggungku kala perutku sudah penuh.
"Aku juga!" Taehyung pun meniru apa yang aku lakukan.
"Sepertinya aku akan tidur nyenyak malam ini."
"Enaknya kau bisa tidur, aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena aku harus kerja di club malam," jawabnya.
Aku menutup mulutku yang terbuka kaget, "Kau kerja di club? Kerja apa? Jangan bilang kau jadi gigolo," bisikku.
Taehyung menyentil dahiku, "Jaga mulutmu! Aku hanya seorang bartender, BAR-TEN-DER." Taehyung menekan setiap kata-katanya.
Aku mengusap bekas sentilan Taehyung yang sepertinya sudah memerah, "Aku kan hanya bercanda."
"Terserah." Taehyung bangkit dari posisinya, "Aku mau ke toilet dulu," izinnya dan aku mengangguk.
Taehyung mulai meninggalkanku untuk ke toilet, namun tiba-tiba saja mataku menangkap sebuah objek -berupa kertas kecil -yang terjatuh dari saku celana Taehyung.
Aku beranjak dari kursiku untuk memungut kertas kecil itu. Iseng-iseng, aku membaca tiap baris huruf yang tertera di sana. Namun seketika, perasaan tidak enak pun menyelimutiku.
Taehyung ... membayar semua makanan ini dengan uangnya, bukan kupon gratis.
※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※※
Taehyung mengantarku sampai rumah karena memang ini sudah hampir tengah malam.
Bahaya kalau gadis cantik sepertiku berkeliaran sendirian.
Jujur saja, aku masih tidak enak tentang traktiran Taehyung, tapi aku tidak berani terus terang kalau sebenarnya aku tahu kebenarannya.
"Terimakasih telah mengantarku," ucapku saat kami sudah sampai di depan gerbang rumahku.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," pamit Taehyung sebelum ia berjalan menjauh dariku dan hilang dikegelapan malam.
Setelah Taehyung sudah benar-benar pergi, aku menempelkan jari jempolku di alat pemindai sidik jari untuk membuka gerbang rumahku.
Kuayunkan kakiku perlahan untuk masuk melewati gerbang. Namun langkahku terhenti saat ada seseorang berdiri di depanku.
Aku kenal dia. Sangat. Dia ... Park Jimin -asistem pribadi ibuku.
"Annyeong nona Lee, oraenmaniya." (Hi // Long time no see)
KAMU SEDANG MEMBACA
[kth] Mr. Genius (on hold)
FanfictionKarena trauma masa lalunya, harus membuat Taehyung terpaksa berpura-pura bodoh dan pemalas di depan semua orang. Namun siapa sangka, ia mempunyai sebuah rahasia besar hingga ia harus berpura-pura. Akankah suatu saat ia menunjukan jati dirinya? Dapa...
![[kth] Mr. Genius (on hold)](https://img.wattpad.com/cover/149629209-64-k40711.jpg)