32. Wound

2.5K 364 38
                                        

Entah sudah keberapa kali aku menguap karena bosan.

Rekan olimpiade Taehyung masih belum datang juga, sedangkan Taehyung sendiri sudah mulai belajar latihan soal secara mandiri.

Dan gara-gara itu, keberadaanku tidak dianggapnya.

"Tae, aku lapar."

"Kau boleh pulang duluan jika kau mau," balasnya tanpa melihatku.

Aku mendengkus kesal, kuputuskan untuk berdiri dan mencari buku yang menurutku menarik.

Mataku bergerak memindai tiap buku yang berjejer rapi di rak. Tanganku terkadang meraba-raba punggung buku yang kebanyakan sudah berdebu. Rak bagian tengah sudah kususuri, kini giliran rak bagian atas yang harus aku periksa. Hingga akhirnya ada satu buku yang menarik menurutku, namun sayang buku itu terletak di rak yang cukup tinggi. Tidak ada tangga di sini, maka dari itu aku melompat-lompat untuk meraih buku itu.

Sesuatu yang tak pernah kuduga, sebuah lengan terulur mengambil buku itu. Posisi orang itu sangat dekat—bahkan menempel—pada tubuh bagian belakangku. Embusan napasnya menerpa halus leherku.

"Aku baru sadar kalau kau sependek ini."

Kini aku tahu siapa orang yang membantuku. Tanpa aku lihat rupanya, aku mengenal jelas dari suaranya.

Ia membuat jarak setelah berhasil mengambil buku tadi supaya aku bisa berbalik.

"Dasar penguntit, kupikir kau tidak akan mengikutiku."

Dia mengamati sampul buku tadi. "Aku juga bosan, ditambah rekanku itu membatalkan janjinya, jadi aku mengikutimu diam-diam."

Aku merebut buku dari tangannya. "Kau memang berbakat jadi penguntit."

Ia terkekeh pelan. "Terserah kau. Omong-omong, untuk apa buku itu?"

"Untuk aku buang! Tentu saja untuk kubaca!"

"Maksudku, untuk apa kau membaca buku tentang 'Cinta' itu. Apa kau ... menyukai seseorang?" Taehyung bertanya sedikit ragu, berhati-hati, lebih tepatnya.

Aku menatap sampul buku yang kupegang. "Entahlah, aku tidak yakin tentang hal ini. Aku tidak pernah punya pacar selama hidupku. Lagi pula, aku ingin membaca buku ini karena iseng."

Tentu saja aku berbohong. Aku menbaca buku ini untuk meyakinkan diriku, apa aku ini menyukainya atau tidak. Kupikir buku ini bisa membantu.

Taehyung mangut-mangut mengerti. "Ah ... begitu .... Kukira kau menyukai seseorang."

"Ka-kalau aku menyukai seseorang memangnya kenapa? Lagi pula itu normal, kan?"

Taehyung tidak menggubris lagi, melainkan mengalihkan topik pembicaraan, "Ayo pulang, percuma kita diam di sini, lama-lama kita akan mati kebosanan."

Aku hanya mengangguk menerima ajakannya.

*****

"Tae, ayo pulang," ajakku saat Taehyung sibuk memasukkan bukunya ke dalam tas.

"Aku harus belajar di perpustakaan, olimpiadenya dua hari lagi."

"Kalau begitu, aku ingin i—"

"Taehyung-ssi!" Kalimatku terpotong begitu saja oleh panggilan cempreng khas wanita dari ambang pintu.

Aku menoleh, dan cukup terkejut kketika melihat orang itu.

"Park Eunsoo?" ujarku refleks.

Taehyung menoleh ke arahku. "Kau mengenalnya?"

Aku mengangguk. "Jangan bilang kalau dia adalah rekanmu."

"Dia memang rekanku."

What the— sekolah ini sempit sekali.

[kth] Mr. Genius (on hold)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang