Abu - Abu

23 0 0
                                    

Akhir April 2017.......

Semakin hari kurasakan, dia.. Iya, Erik Wijayaku. Seminggu sebelum bulan April berakhir Dia seperti asing bagiku, bahkan sangat asing, pesanku hanya beberapa kali saja mendapat balasan, Ada apa denganmu Erik? Beribu kali ku tanyakan pada diriku sendiri, hanya sia-sia saja tak akan pernah mendapat jawaban. Ku tanya langsung padanya dia hanya menjawab tidak ada apa-apa, jawabannya datar dan seolah-olah memang tak ada masalah baginya. Tapi ini aneh, bahkan sangat aneh. Kami tak pernah lagi Video call selama hampir satu bulan terakhir, telepon terakhir juga sekitar dua minggu yang lalu, balasan pesan Erik pun bisa dihitung dengan jari dengan jarak waktu berjam-jam. Apa yang dia lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dia sembunyikan?

Duniaku sedang tidak baik-baik saja, pikiranku melayang jauh entah ada dimana, hatiku mulai tak karuan. Jika kamu menjadi aku apa yang seharusnya dilakukan? Menelpon duluan lalu mengajaknya bicara? Itu sudah ku lakukan, dia hanya tersenyum tipis "tidak ada apa-apa." Katanya, tapi aku jelas sekali merasakan ada apa-apa, ada sesuatu tarjadi padanya dan sesuatu itu tidak biasa. Lalu aku harus bagaimana lagi? Mencari tau melalui orang terdekatnya? Iya, Mamanya. Sudah ku lakukan juga, Erik adalah tiipikal orang yang tidak pernah banyak bicara jika dia sedang dalam masalah, jadi Ibunya sendiripun tidak tahu menahu tentang masalah kami berdua.

Aku hampir menyerah, sungguh aku tak mengerti jalan pikiran Erik. Mungkin ada puluhan panggilan tak terjawab di layar Handphone-nya, berkali-kali ku sambungkan telepon tak pernah ada jawaban darinya. Erik tak pernah tau bagaimana rasanya berada di posisiku, bagaimana rasanya khawatir memikirkannya, bagaimana rasanya cemas tanpa kabarnya, bagaimana rasanya di acuhkan, bagaimana rasanya menunggu. Erik tak pernah mengerti perasaanku, Erik berbohong.

Katanya, dia tidak akan sulit untuk dihubungi.

Katanya, dia akan selalu memberi kabar tanpa dminta.

Katanya, dia akan selalu berbagi kisah jika ada masalah.

Katanya, dia tak akan membuatku cemas.

Katanya, dia akan selalu ada untukku.

Katanya... Katanya.... Aku mulai terbata-bata karena sesenggukan.

Begitu banyak 'katanya' yang dia ingkari, kemana Erikku yang dulu? Kemana Erik yang selalu bilang "Sayang, Aku rindu" setiap hari, kemana Erik yang selalu menanyakan kabarku? Kemana Erik yang berjanji untuk kembali satu tahun lagi? Kemana Erik yang selalu ada untukku? Kemana Erik yang selalu membuatku senyum-senyum sendiri setiap hari?

Kemana Erikku? Aku rindu, sangat rindu.

Kini, hanya ada Erik yang bungkam. Mulutnya seperti dijahit, tak ada satu huruf pun yang keluar untuk menjelaskan ini padaku. Ini jelas bukan orang yang ku kenal, secepat itukah Erik berubah? Secepat itukah dia mengingkari komitmen yang dibuat bersama? Lalu bagaimana dengan perjuangan ini, haruskah sia-sia?

"Kita hampir menang Sayang, jarak bisa kita taklukkan. Mengapa kau sudah harus lelah? Ayolah, tinggal sedikit lagi." Tetap tak ada sepatah katapun dilontarkannya.

Baiklah, aku tak akan memaksanya jika dia tidak mau menceritakan perihal masalah yang sedang di hadapinya. Ku katakan padanya begini,

"Sayang, tenangkan saja dirimu dulu, jika masalahmu sudah selesai kembalilah kepadaku."

Akhirnya Erik mengiyakan perkataanku, baiklah akan ku beri waktu untuknya berpikir dan untuk sementara waktu, aku berusaha untuk tenang tanpa kabarnya sampai dia yang memberiku kabar terlebih dahulu, aku akan bersabar meskipun tak tau kapan ini akan kembali normal.

Aku dan Erik sepakat untuk saling menghargai urusan pribadi masing-masing, aku berusaha mengerti bahwa ini jalan yang dia pilih, mungkin dia ingin menenangkan diri. Akupun tak tau apa yang sedang dihadapi olehnya sampai dia tidak mau menceritakan masalah ini padaku.





Akan ada masa ketika kau

Tak bisa mengikuti semua inginmu

Diam, dan tunggulah.

Kedua KaliTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang