Tapi bila nanti...
Kau tlah temukan yang lebih baik..
Janganlah kau sesali keputusanmu ini..
Takkan ada aku lagi..Kunyanyikan sepenggal lirik lagu Ello yang sedang mengalun ditelingaku.
Hampir tiba saatnya di penghujung ceritaku tentangnya, tentang dia yang kini telah menjadi bagian terbaik dalam hidupku, tentang dia yang tak pernah bosan ku sebut dalam doaku. Aku tak pernah berharap untuk kembali lagi, biarkan kenangan itu terus ada hingga nanti sama-sama menua.
Ini mungkin bisa dikatakan bahagia yang sesungguhnya, bahagia bisa terbebas dari hal yang selama ini menyesakkan dada. Akhirnya aku mampu menemukan jalan damai itu, tidak hanya berdamai dengan masa lalu tetapi juga berdamai dengan diri sendiri.
Memang benar adanya untuk bisa menerima dan terus berjalan maju, kita tidak bisa membenci. Karena pada hakikatnya, semakin kita membenci sesuatu atau seseorang maka akan semakin sering kita memikirkan hal tersebut. Ini bukan tentang memaafkan seseorang tapi tentang memaafkan diri sendiri.
Karena titik tertinggi dari mencintai dengan tulus adalah mengiklaskan dan titik tertinggi dari itu semua adalah memaafkan sebesar apapun kesalahannya padamu dan sesakit apapun perih dan luka yang ia goreskan dulu di hari-harimu. Ingat, ada pepatah yang mengatakan bahwa hanya pohon berbuah yang dilempari batu, jadilah pohon yang berbuah dan jangan menjadi orang yang melempari batu.
Dari kepulihan ini aku bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa secara mental dan utuh, jiwa yang bebas, hati yang kembali suci dan bahagia. Sungguh belum pernah aku merasakan sebahagia dan selega ini sebelumnya. Terima kasih Tuhan doaku telah dikabulkan, terima kasih sudah membalikkan hatiku dan mendamaikan jiwaku. Memang benar Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, melainkan apa yang kita butuhkan.
Tidak mudah memahami kenapa ada beberapa cinta yang tak pernah bisa selesai. Tapi hidup terus berjalan, dan satu-satunya pilihan yang tersisa adalah berdamai.
I miss the times that we almost sharedI miss the love that was almost there
I miss the times that we used to kiss
At least in my dreams just let me take my time and reminisce
I miss the times that we never had
What happen to us, we were almost there
Who ever said it's impossible to miss
What you never had, never almost had youKini lagi di telingaku berganti playlist dengan lagu Tamia yang judulnya Almost, dimana lagu ini menceritakan bahwa kisah cinta yang hampir menuju pernikahan. Hanya 'hampir' namun belum sampai terjadi.
Kami pernah hampir bahagia. Hampir membangun masa depan bersama. Hampir menjadi tempat pulang yang nyaman di akhir hari panjang. Kami hampir menyelesaikan satu chapter yang menasbihkan diri sebagai orang dewasa. Sayang, perjalanan ini tidak pernah mencapai titik tamatnya.
Beberapa cinta memang tak hadir untuk menemui kata selesai. Barangkali ini cara Tuhan bercanda dan mengajari kita kata 'Damai'.
Seperti cokelat yang bisa dibagi ke 2 bagian dengan mudah, ikatan yang tak pernah selesai memang segampang itu mencipta payah. Ikatan yang menggantung jelas tak nyaman. Belum lagi kalau tak semudah itu mengusir kuatnya perasaan. Aku mesti berdamai dengan berbagai pertanyaan, membiarkan diri sendiri tenggelam sementara dalam kegalauan. Sebelum bisa kembali bangkit dan berjalan.
Namun tak akan ku biarkan diriku larut dalam kegalauan, bukankah ini petunjuk Tuhan ketika aku meminta untuk mendekatkan yang baik dan menjauhkan yang tidak baik. Lalu kemudian Tuhan mendengar doaku. Tuhan jauhkan Erik sebagai bukti bahwa Ia mendengar doa umat-Nya. Lalu untuk apa aku membantah lagi?
Saat itu aku berdoa begini, Jika dia bukan jodohku, ya Allah pudarkanlah keindahan wajahnya dari pandanganku, aku tak ingin mencintai orang yang salah. Sungguh walaupun melupakannya sangat menyakitkan, aku berusaha untuk sanggup, gugurkanlah satu-persatu dengan perlahan semua kenangan. Kenangan yang senantiasa melekat erat dalam ingatanku, karena jika semua terhapus dalam waktu sekejap, aku takut itu akan menyiksa diriku jika dia bukan jodohku, Ya Allah bantulah aku untuk mencabut perasaan tak biasa ini dari hatiku.
Aku akan merasa bersalah dan mengutuki diri jika dia yang kini bersemayam anggun di hatiku bukanlah jodohku. Aku sadar itu tidaklah mudah karena akarnya terlanjur membumi di hatiku, tapi demi keridhoanMu, apa yang tidak akan aku lakukan? Jika dia bukan jodohku, ya Allah kumohon jangan hadirkan sosoknya lagi dalam mimpi-mimpi malamku. Karena itu hanya akan membuatku semakin berandai-andai dan lalai dari mengingatMu.Jika dia bukan jodohku Ya Allah, tolong jangan biarkan aku terlena dengan perasaan semu ini, jangan biarkan aku larut dalam rasa yang hanya sementara, jangan biarkan aku berbangga hati ketika menerima pesan singkatnya, jangan biarkan aku selalu rindu dengan mengaitkan hati krpadanya, karena merindukan-Mu jauh lebih pantas diatas segala-galanya.
Jika dia bukan jodohku Ya Allah, tolong jauhkan aku sejauhyang aku butuhkan untuk menjadikan namanya terdengar biasa saja di pendengaranku. Karena sungguh atas perasaan ini aku tak bisa tenang ketika mendengar namanya. Jika dia bukan jodohku, ya Allah jauhkanlah sejauh yang aku butuhkan untuk menjadikan wajahnya terlihat biasa saja bagiku. Karena sungguh atas perasaan ini hatiku tak bisa bergetar wajar bila memandang wajahnya.
Lalu kemudian Tuhan mengabulkan doaku, Erik memang bukan jodohku. Aku tak akan berdoa untuk Tuhan mengembalikan Erik lagi seperti pintaku dulu, karena memang sekuat apapun aku memaksa jika bukan rezekiku tak akan pernah menjadi milikku.
Dia memang yang terindah
Namun bukan yang terbaik.

KAMU SEDANG MEMBACA
Kedua Kali
RomanceHalo namaku Via, ini kisah dari perjalanan cintaku ketika aku mendapat undangan pernikahan dari sang mantan kekasih yang sudah menjalani hubungan denganku selama 3 tahun. Untuk menghindari hari sakral itu Aku memutuskan untuk berlibur ke kota 'Berua...