Kau hebat! Kau menakjubkan
Pernahkah kau jatuh cinta teramat banyak?
Aku, Al Zena Narisa Tsabiyyah sedang melabuhkan hati, menitipkan secercah harapan padanya. Bahagia? Mungkin, aku itu memiliki kadar kebahagian yang minim. Sedih? Mungkin, sebenarnya aku sendiri yang menciptakan kesedihan. Sudah pasti. Kedua perasaan itu terlihat jelas ketika aku mulai menjatuhkan hatiku.
Dengan terburu-buru, aku menuruni tangga kos-kosan. Inilah nasibku, bedeng kosanku berada di lantai dua mengakibatkanku bakal olahraga tiap hari. Yah tidak apa-apa, hitung-hitung juga untuk menyehatkan tubuhku karena aku terbilang orang yang cukup malas berolahraga.
Pukul enam lewat lima menit, sebuah rekor tercepatku pergi ke kampus. Eh! Bukan ke kampus, tepatnya keluar dari kosanku. Aku mempercepat jam pergi untuk ke kampus karena sebelumnya aku harus menge-print tugasku di toko seberang lokasi kampusku. Jika aku tidak pergi pagi-pagi maka sudah jelas aku bakal mengantri lama untuk mendapatkan giliran menge-print. Untuk sedikit informasi, toko tersebut memiliki banyak pembeli karena terkenal dengan kelengkapan alatnya dan juga harga yang murah loh. Tidak diherankan.
Ya Allah.
Aku harus memutar jalanku. Sebuah gembok besar terkunci di gerbang besar juga tentunya. Begitulah seharusnya, besar dibalas dengan yang besar. Alhasil, aku sangat kesulitan untuk memanjat pagar itu. Tidak ada jalan lain, aku harus memutar jalanku walaupun cukup jauh setidaknya jika aku menunggu di depan pagar itu, aku pastinya akan dapat antrian yang cukup panjang. Dan aku tidak mau!
Aku menyusuri jalan sempit atau sering disebut jalan tikus. Kaki kecilku mulai berlari cepat. Andai aku memiliki kedua kaki yang cukup panjang, aku pasti berjalan lebih cepat. Dan andai aku tidak lewat jalan itu maka aku tidak akan pernah mengaitkan takdir. Terlambat sudah bertambah harapan.
Dag... Dig... Dug...
Aku membulatkan kedua mataku. Dari kejauhan saja, aku sudah mengenalinya. Ah, suara apa itu? Jantungku? Ada apa kau? Berhentilah berteriak! Gilaaaaaaa!
Aku berhenti sejenak ditempat lalu memejamkan kedua mataku tidak percaya dan membukanya kembali. Aku melangkah sambil menambah energiku pagi itu. Aku tidak boleh, tidak boleh menatapnya. Aku akan runtuh jika menatapnya.
Dia, laki-laki yang menenteng plastik bening berisi gorengan, membuka pagar. Dan bisa kutebak sekarang. Rumah itu... Terus pagar itu... Tepat sekali! Itu adalah kosannya. Meskipun berbentuk rumah sudah bisa kuduga rumah dengan banyak pintu itu adalah kosan. Aku seperti sedang menang lotre saja. Beruntungnya diriku.
Dia adalah tetanggaku!
Aku tersenyum bahagia bahkan sangat bahagia.
Aku berjalan sambil menundukkan kepalaku. Tepat saat dia sedang menguncikan pagarnya, aku melintas di depannya. Tuhan, sekujur tubuhku seakan ditabrak. Aroma angin pagi itu menjadi ciri khas-nya. Hatiku melompat kegirangan. Jantungku sedang tersenyum didalam. Aku mensyukuri nikmat ini, Ya Allah.
Benar saja, ini adalah pertemuan ketiga kami. Oh, untuk pertemuan di kantin yang bersama Merlina kemarin-kemarinnya tidak aku masukkan dipengkategorian bertemu karena aku hanya melihatnya dari kejauhan dan tidak berada didekat. Namun saat ini, aku berlintasan padanya dengan jarak yang cukup dekat. So, ini termasuk, dan sekarang aku ingin mengultimatumkan pada hatiku bahwa laki-laki itu adalah jodohku, takdirku yang membimbingku ke surga-Nya.
Good job, Earth!
Kau mempertemukanku padanya dan merancangnya dengan penuh getaran. Aku akan bertugas untuk berusaha mengejar bumi lainku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Good Night Earth
General Fiction#1 in fiksiumum 27 Juli 2019 Cinta bertepuk sebelah tangan Narisa kepada Redo bak deburan ombak yang senantiasa tiap saat menampar pipi merahnya. Narisa dengan sabar menitipkan hatinya kepada Redo. Ketika dia tengah berharap pada nikmat yang dicipta...
