Assalamu'alaikum sahabat GNE
Gimana kabar bumi kita? Semoga cepat membaik ya :"( Narisa & Afif comeback ni buat nemeni kalian yang setia di rumah #timdirumahaja
Happy reading!
***
Izinkan aku menjauh agar rasa ini tidak melebihi porsinya
***
Buru-buru aku masuk dan menutup pintu kamarku. Jiwaku masih tersiuk kesakitan. Batin pun kini kian melemah. Lihatlah, berangsur-angsur air mataku setia menetes. Aku masih meratapi kepergian Ayah. Kenapa kedua orang itu tidak mengerti? Aku tidak tahu tentang siapa yang mesti aku tunggu. Aku pun tidak tahu tentang siapa yang aku perjuangkan. Aku mengosongkan diri pada rasa yang tidak seharusnya tumbuh kemarin. Aku mengosongkan hati pada harapan yang mungkin akan segera temui. Setidaknya, aku tidak salah meski harus membohongi dan menelantarkan rasa. Aku tidak akan lagi memulai tanpa melibatkan-Nya.
Bersabarlah, hati.
Isakkan pun mereda tanpa sengaja. Mataku sudah sangat merah dan lelah untuk terbuka. Ku tenangkan deburan ombak di hati. Kusembunyikan wajah berbalut jilbab di dalam selimut. Ayah, aku begitu merindukan helusan tanganmu ketika sedih menghampiriku.
Perlahan jiwaku berlayar dalam tidur. Mimpi-mimpi menghiasi malamku. Siapa lagi akan datang dalam mimpiku selain Ayah. Seorang Nahkoda dari keluarga kecilku. Ketegasannya, kepeduliannya, kebijaksanaannya, kelembutannya, serta kasih sayangnya yang aku nikmati dulu.
Memori-memori tentang Ayah larut dalam ingatannku. Ayah adalah laki-laki paling khawatir saat anak perempuannya jatuh cinta. Ketika usiaku bertambah menjadi kepala dua. Tak dipungkiri siang malam rutunitasku ditanyakan. Kaum adam seperti apa yang akan anak perempuannya nanti ceritakan. Kekhawatiran itu tidak berlebihan namun tidak kekurangan. Tidak ada laki-laki yang baik di bumiku kecuali dirinya sendiri, Ayah. Saat ini, Ayah boleh membanggakan dirinya atas kebijaksanaan. Karena eksistensinya memang begitu.
Tidak ada cinta laki-laki yang paling aman selain Ayah. Ayah yang paling takut aku jatuh cinta. Baginya sebaik apapun laki-laki tetaplah brengsek, beraninya membuat anaknya jatuh, cinta pula. Benar-benar tidak masuk akal. Aku paham kenapa Ayah kemarin begitu kekeuh ingin aku bersama Redo? Karena baginya dia bisa memarahi temannya sendiri kalau Redo menyakitiku. Tapi ketahui Ayah, akan ada tiba waktunya aku tidak bisa mengaduh lagi padamu.
Malam itu, di tengah kenanganku bersama Ayah terdengar suara pintu terbuka di telingaku. Aku tetap berada dalam posisi tidurku, tidak sama sekali melakukan perubahan. Sentuhan tangan yang sudah kasar mengelus pelan kepalaku. Wanita itu pasti mengira anak perempuannya terlelap. Dia berdialektika seorang diri. Tentang segala kemungkinan yang terjadi bila anak perempuan satu-satunya diambil orang. Tentang sepinya rumah ini. Tentang masa tua. Tentang hidup berumah tangga. Kukira Ibu berlebihan. Tapi serak suaranya menunjukkan kekhawatiran. Aku yang sedari tadi sempat terbangun sebentar kini pura-pura tidur, mendengarkan.
Kekhawatiran Ibu merajut dalam benakku. Semoga aku bertemu dengan laki-laki yang lebih bijaksana dari Ayah. Karena aku membutuhkan kebijaksanaannya untuk memintannya tidak meninggalkan Ibu dan Naufal Sendirian.
Aamiin.
***
Pagi itu, rumahku tidak terlalu ramai. Suasana duka masih belum luntur tapi kian menipis. Naufal sudah mulai masuk sekolah lagi dan beberapa tetangga masih setia menolong Ibuku untuk membereskan rumah. Aku keluar kamar masih mengenaikan pakaian tidurku dan jilbab langsungan berwarna putih. Semua orang sibuk berberes dan mempersiapkan peringatan tiga hari Ayah. Baru tiga hari tanpa kehadiran Ayah, kenapa begitu lama bagiku?
KAMU SEDANG MEMBACA
Good Night Earth
Fiksi Umum#1 in fiksiumum 27 Juli 2019 Cinta bertepuk sebelah tangan Narisa kepada Redo bak deburan ombak yang senantiasa tiap saat menampar pipi merahnya. Narisa dengan sabar menitipkan hatinya kepada Redo. Ketika dia tengah berharap pada nikmat yang dicipta...
