26# Bertamu saja

413 12 4
                                        

Bermain-main boleh saja, tapi tolong jangan berantakin hatiku.
Tatanannya sudah baik, bertamu juga harus punya sopan santun.
***

Bangunan rumah Sheni memang sangat besar tapi sayang penunggunya sepi sekali. Selama ini aku tidak percaya dengan bisikan teman kelasku kalau kehidupan keluarga Sheni merupakan gambaran keluarga yang sibuk berkarir, tapi sekarang aku dapat mempercayai hal itu.

"Afif belum datang, Sa?" tutur Sheni yang sempat menghentikkan mataku mengamati seisi rumahnya.

Aku mengangguk sebentar dan membiar mataku beredar kembali.

"Kok sepi ya Shen?" tanyaku dengan polos.

"Iya ginilah Sa suasana rumahku, sebab itulah selama ini aku lebih suka di kampus." Sheni menampakkan ekspresi sendunya.

Aah! Bodohnya diriku tidak menjaga ucapanku lagi.

"Maaf Shen, aku gak..."

"Santai Sa. Hahaha" potong Sheni langsung.

Akupun merasa tidak kenakan dengan perubahan raut wajah Sheni, menjadi sedikit kecut. Aku serba salah setelah mengatakan hal tersebut, sampai tibanya aku mendengar suara motor Afif. Baru kali ini aku sangat berterima kasih atas kedatangan Afif. Aku sudah bisa melihat Afif sedang membuka helm yang dikenakannnya dari sudut ruang tamu rumah Sheni.

"Assalamu'alaikum," salam Afif sembari masuk dalam rumah Sheni.

"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Sheni bersama.

Sheni langsung menyambut Afif sebagai tuan rumah.

"Mau langsung Fif?" tanya Sheni kemudian.

"Boleh Shen. Kita langsung otw aja, lagian dari sini ke rumah Nina satu jam an plus macetnya kan?" komentar Afif.

Kami bertigapun langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah Nina. Lembayung senja sudah mulai menampakkan diri perlahan-lahan.

"Narisa ikut aku atau Sheni?" tanya Afif tiba-tiba membuat aku sedikit bingung.

Kalau aku dibonceng Sheni, aku masih tidak kenakan perihal ucapanku di rumahnya tadi, terus kalau aku dibonceng Afif tahulah bagaimana menyebalkannya Afif.

"Mikir aja lama Narisa," celoteh Afif. "Cepeten naik," perintah Afif.

Mataku terbelalak tidak percaya dengan nada bicara Afif yang sedikit terdengar kesal. Sheni memandangku sambil tersenyum-senyum dan mengisyaratkan agar aku segera cepat naik di motor Afif. Alhasil, akupun terduduk di motor Afif.

Kenapa Afif? Kalau dia sedang kesal dengan seseorang, tolong jangan lampiaskan padaku. Bumiku sudah cukup ambyar.

***

Berisik. Klakson kendaraan bersahut-sahutan dengan keras. Debu jalanan melekat erat di sudut kota. Dahaga kering terasa disana-sini. Wajar saja jalanan sudah mulai padat karena satu jam lagi menuju buka puasa. Ketahuilah, waktu berbuka adalah hal yang dikejar oleh orang-orang disekitarku sekarang.

Aku masih setia memanyunkan wajah. Mengingat perlakuan Afif tadi, aku sedikit kesal sehingga memutuskan untuk berdiam diri saja diboncengnya.

"Sa aku lupa,"

Afif membuka suaranya.

"Eum?" jawabku malas.

Afif mengeluarkan ponselnya dari sakunya, lalu memberikan padaku.

"0852" kata Afif dengan cepat.

"Apa?" aku bingung.

Ponselnya sudah berada ditanganku.

Good Night EarthCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang