Karin menyedot cepat sedotan merah dimulutnya. Sebuah senyum muncul diwajahnya ketika merasakan air es sirup itu mengalir pelan didalam tenggorokannya.
"Ah indahnya," gumam Karin menatap es ditangan kanannya sambil menggeleng kagum. "Makasih," lanjutnya lagi sambil menatap Steven yang bersender pada dinding yang berada dihadapannya.
"Oh, iya, maaf ya udah cubit perut lo tadi. Habisnya, lo mau bilang ke kakak osis kalau gue gak pinsan."
Steven mengangguk malas dan melemparkan tatapan datar pada Karin.
Karin kembali menyengir lebar. "Gak sakit, kan, ya?"
"Lo gak rasa," balas Steven menyipitkan mata.
"Iya deh, maaf."
Steven sama sekali tidak menggubris permintaan maaf dari Karin dan terus menghadiahi Karin dengan tatapan datar membuat Karin benar-benar merasa canggung.
"Gue mau balik kebarisan. Lo disini aja kalau masih capek, toh gak bakal ada yang marahin lo," ujar Steven sambil meneggakkan tubuhnya.
Karin mengangguk mengiyakan. Kemudian, Steven berjalan keluar meninggalkan Karin yang kembali membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
"Bodo amat, deh. Mending diem disini emang," ujarnya sambil menatap langit-langit uks.
"Steven baik, ya," gumamnya kecil dan tanpa sadar tersenyum.
~♡♡~♡♡~
Karin memaju mundurkan kaki kanannya, menggesekkan alas sepatu hitam miliknya dengan tanah tempatnya berpijak. Ia berusaha mengusir bosan karena menunggu abangnya yang tak kunjung datang menjemput.
Gadis itu membuang napas kasar, lalu memegang kedua tali tas gendongnya erat-erat.
"Abang mana, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Kedua bola mata cokelat mudanya bergerak kesana kemari dan badannya ia condongkan kedepan menatap jalan di kejauhan.
Namun, bermenit berlalu tidak juga ia dapati tanda kedatangan mobil silver milik abangnya.
"Belum pulang?"
Karin termundur, kaget dengan seseorang diatas motor yang tiba-tiba saja sudah berada didepannya.
"Ba... Bang Aya?"
Seseorang diatas motor itu menaikkan kaca
hitam helmnya, lalu menghadiahi Karin dengan senyuman lebar.
Karin terdiam sejenak. Jantungnya berpacu dengan cepat didalam sana, sepersekian detik kemudian ia sudah berteriak histeris kesenangan menyadari bahwa yang didepannya memang benar-benar Arya, abang yang dicintainya setengah mati.
Tanpa aba-aba Karin langsung naik ke jok belakang motor. Tangannya sudah memegang pundak Arya erat-erat.
"Ayok, Bang. Kita melaju membelah jalanan," ujar Karin bersemangat.
Arya menggeleng mendapati kelakuan adiknya itu yang kelampau bar-bar, tetapi tidak bisa dipungkiri malah perilaku Karin seperti itulah yang membuatnya gemas.
Arya kemudian menyalakan kembali mesin motornya, lalu mengendarai motornya tersebut lumayan laju, sehingga membuat Karin merapatkan tubuh dan memeluknya dari belakang.
"Abang jangan laju-laju! Karin masih pengen nikah sama Abang, terus punya anak!" teriak Karin keras dibelakang berusaha mengalahkan ributnya angin yang menerpa mereka.
Arya yang mendengar itu hanya terkekeh, tapi tetap tidak mengurangi kecepatan motornya sama sekali.
Karin dibelakang menggerutu. Dengan panas hati dia semakin mengeratkan pelukannya pada Arya, lalu menenggelamkan seluruh wajahnya di punggung Arya. Ia tidak berani lagi menatap jalanan yang terlihat begitu menakutkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kau Anggap Aku Apa (Completed)
Teen Fiction"Jadi, Bang Arya bohongin Karin?" "Enggak gitu, Yin...." "Abang selama ini pacaran sama Karin karena disuruh sama bang Satya!" "Yin, dengar penjelasan aku du...." "Karin benci sama Abang. Jangan temui Karin lagi. Kita cukup sampai disini," tuntas Ka...
