"Sulit memang memahami orang lain ketika diri sendiri juga tengah dilanda luka."
...
"Abang, Karin mau les."
Satya menoleh pada Karin.
"Tumben," sahutnya.
Karin mengedik bahunya sambil menyisir rambut panjangnya kebelakang.
"Les apa?"
"Matematika".
"Bagus, deh. Lo sadar kalo lo goblok."
Karin memutar kedua bola mata cokelatnya kesal.
"Iya, kan dari abang."
Satya mau tak mau tersenyum mendengar kalimat sarkastik dari Karin.
Untuk pertama kalinya, setelah kepergian ibu mereka seminggu yang lalu, kakak beradik itu kembali bertegur sapa.
Kemarin-kemarin mereka berdua hanya saling melempar kalimat singkat. Entah karena saling paham keduanya sedang dalam mode sedih, atau karena memang tidak ingin saling mengganggu dulu.
"Terus ngapa lo kasih tau gue?"
"Ya, kan abang yang bakal antar-jemput."
Satya berdecak. "Adek sialan nambain kerjaan."
Karin terkekeh.
"Gak papa. Biar abang gak ngurung diri mulu dikamar."
Satya kembali tersenyum. Karin menyindir kelakuannya beberapa hari ini yang lebih memilih berdiam dalam kamar, daripada keluar rumah. Bahkan, sempat membolos dari mata kuliah.
"Makan, yuk beb."
"Bab-beb-bab-beb. Karin bukan bebek!"
"Iya, bukan, orang lo setan."
"Bangsat," ucap Karin dengan seringaian.
Satya menghela napas. "Kualat lo ngatain abang sendiri!"
"Bodo amat!"
"Heh, adek yang ngatain abangnya, kalau mati mayatnya kelempar dari peti."
Karin tertawa terbahak.
"Kan udah mati, bodo amat mau kelempar, kek, mau teguling, kek, ya kan gak rasa."
"Iya, juga ya," sahut Satya sambil menerawang memikirkan kebenaran dari perkataan Karin.
Karin yang gemas melihat muka Satya segera mengetok kepala kakak laki-lakinya itu.
"Bener kan, gue. Goblok lo nurun ke gue!"
"Sakit setan!"
"Bodo amat, Bangsat!"
"Mati, deh gue," ujar Satya dengan nada sedih dibuat-buat.
Karin kembali tertawa.
"Udah, deh. Karin mau naik, tidur."
"Lah, kan gue ngajak lo makan."
Karin menggeleng. "Males, ah. Pergi aja sendiri."
"Jahat amat, sih lo."
"Makanya, cari pacar abang!"
"Lah, lo aja gak ada pacar," balas Satya tak mau kalah.
"Bodo amat!"
Lagi Karin mengeluarkan kalimat saktinya. Tanpa menghiraukan Satya, cewek itu tetap melangkah naik menuju kamarnya dilantai dua.
Satya menggeleng melihat kelakuan adeknya itu. Lalu, dia meraih ponsel yang ada dikantong celana pendeknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kau Anggap Aku Apa (Completed)
Teen Fiction"Jadi, Bang Arya bohongin Karin?" "Enggak gitu, Yin...." "Abang selama ini pacaran sama Karin karena disuruh sama bang Satya!" "Yin, dengar penjelasan aku du...." "Karin benci sama Abang. Jangan temui Karin lagi. Kita cukup sampai disini," tuntas Ka...
