Perasaan gak pernah bisa dipaksa. Kalau emang gak cinta, ya gak cinta.
♡♡~♡♡~♡♡
Karin keluar dari mobil Steven. "Makasih, ya, Tip," ujar cewek itu tanpa senyum sama sekali.
Steven mengangguk ragu. "Iya, Rin. Langsung tidur, ya".
Karin mengangguk, lalu cewek itu berbalik menuju rumahnya dan masuk kedalam.
Steven menggaruk kepalanya tak paham. Setelah itu, cowok itu langsung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Karin menuju rumahnya.
♡♡~♡♡~♡♡
"Darimana lo?"
Karin menoleh menatap pada abangnya yang duduk disofa ruang tamu yang memang berada diruang paling depan rumah mereka.
"Les," jawab Karin dan kembali melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Satya.
"Gak usah bohong, deh. Mana ada les sampai jam segini," ujar Satya sedikit menaikkan nada suaranya.
Karin tetap menaiki anak tangga. Cewek itu sama sekali tidak peduli dengan omongan abangnya.
"Karin!" teriak Satya.
"Gue nanya sama lo," lanjut cowok itu.
Karin berhenti sejenak. Kepalanya menoleh kebelakang menatap Satya yang sudah berdiri dan tampak marau padanya.
"Bukan urusan Abang," jawab cewek itu dan kembali berjalan kekamarnya.
Dalam kepala Karin sudah tidak lagi memikirkan perasaan abangnya atau siapapun. Saat ini cewek itu hanya ingin cepat-cepat masuk kamar dan menyembunyikan dirinya dari siapapun dan situasi apapun.
Satya menatap punggung Karin. Cowok itu benar-benar khawatir. Semenjak jam 9 tadi dia sudah duduk diruang tamu sendirian menunggu Karin pulang. Terlebih ponsel adiknya itu mati membuat pikiran Satya berkelana kemana-mana.
Tetapi paling tidak perasaannya cukup tenang sekarang melihat Karin sudah pulang dengan keadaan yang baik-baik saja. Walaupun, Satya cukup paham bahwa adiknya itu pasti capek juga dengan mereka sekarang. Memangnya apa yang Satya bisa perbuat? Dia juga hanya seorang anak yang juga tidak bisa mencegah perceraian kedua orang tua mereka.
♡♡~♡♡~♡♡
Satya menatap lurus Diana yang tengah duduk dihadapannya. Cewek itu tiba-tiba saja mengajak bertemu, padahal Satya sedang tidak ingin kemana-mana. Namun, mendengar Diana menyebut-nyebut nama Karin, akhirnya membuat Satya nurut dan mau bertemu dengan sahabatnya itu.
"Ada apa, Na?"
"Lo gak mau pesen makan?"
Satya berdecak. "Langsung keintinya aja emang gak bisa?"
Diana terkekeh mendapat perlakuan kurang ramah dari Satya. "Udah, pesen dulu," ujar Diana. Mata cewek itu menatap sekeliling mencari keberadaan pelayan.
Satya mendengus sebal. Diana selalu seperti ini bertindak semaunya.
"Mbak," panggil Diana pada pelayan cafe yang tengah berjalan kearah kasir.
"Iya, mau pesan apa?" tanya pelayan cafe itu ketika sudah sampai di meja mereka.
"Kopi lattenya satu dan oreo milkshakenya satu. Terus pancake matchanya satu dan..." Diana menatap kearah Satya.
"Lo mau makan?"
Satya menggeleng.
"Oke, itu aja," ujar Diana pada pelayan cafe itu. "Makasih, ya," lanjutnya lagi. Kemudian pelayan cafe itu berjalan kearah kasir meninggalkan mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kau Anggap Aku Apa (Completed)
Novela Juvenil"Jadi, Bang Arya bohongin Karin?" "Enggak gitu, Yin...." "Abang selama ini pacaran sama Karin karena disuruh sama bang Satya!" "Yin, dengar penjelasan aku du...." "Karin benci sama Abang. Jangan temui Karin lagi. Kita cukup sampai disini," tuntas Ka...
