(10) Pacar Bang Aya

18.7K 1.4K 23
                                        

"Kalau gak ada rasa, ya, gak usah dipaksa"
.....

Setelah pulang dari pantai wajah Karin terus menerus memancarkan cahaya kebahagiaan. Cewek itu tak malu-malu menunjukkan betapa dia sangat senang sekali karena Arya, abang yang dia cintai setengah mati, kini sudah menjadi miliknya, atau lebih tepatnya pacarnya.

Siapa sangka? Arya yang dulunya Karin pikir berada diluar jangkauan untuk bisa dicapai, kini sudah berada dalam genggamannya.

"Yaudah, aku pulang dulu, ya," pamit Arya pada Karin tepat didepan gerbang rumah Karin.

Cewek itu mengangguk sambil terus tersenyum lebar menunjukkan barisan gigi putihnya yang mulai mengering.

"Okei, hati-hati Bang Aya. I love you!"

Arya tersenyum menanggapi ucapan Karin.

"I love you too, Ayin," balas cowok itu sambil berlalu masuk kedalam mobil.

Karin melambai pada mobil sedan warna biru milik Arya. Mengawasi pergerakan mobil Arya, hingga tidak terlihat lagi diujung jalan.

Karin membalikkan tubuhnya. Cewek itu berlari kencang masuk kedalam rumah. Sampai tanpa sengaja menabrak Satya yang baru saja akan keluar rumah.

"KARIN! LO PUNYA MATA GAK SIH!"

Karin lantas menutup telinganya mendengar teriakan dari Satya. Sehabis itu, cewek itu malah menyengir kuda. Tidak ada rona bersalah sama sekali diwajahnya.

Kemudian, tanpa disangka-sangka, cewek SMA itu malah memeluk Satya erat-erat dan mencium berkali-kali pipi abang kandungnya itu.

"Eh, gila lo, ya!"

Satya amat berusaha melepaskan pelukan maut Karin. Cowok itu takut wajahnya akan basah karena diciumi oleh Karin. Jujur saja, kadangkala Karin memang menciuminya seperti anjing, meninggalkan bekas. Menjijikan.

Karin tertawa terbahak ketika Satya terus mendorong tubuhnya menjauh.

"Ayok, dek," ujar Satya tiba-tiba dengan wajah serius.

"Kemana?" Mau tak mau Karin juga jadi ikutan menganggap serius.

"Rumah sakit jiwa!"

Bukannya marah Karin malah tertawa terbahak lagi dengan suara membahana tidak seperti biasanya. Mungkin karena bawaan hati yang sedang berbunga-bunga gadis itu jadi berlebihan menggambarkan kebahagiaannya.

"Lo kenapa, sih?"

"Udah gak jomblo," sahut Karin sambil mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya. Merasa bangga bisa mendahului abangnya itu dalam hal pacar-pacaran.

Satya mengerut kening.

"Arya?"

Karin mengangguk keras.

"Karin bilang juga apa, kan Bang. Bang Aya itu cinta juga sama Karin. Abang aja yang gak percayaan," jelas Karin sambil memamerkan senyum lebarnya.

Satya menggeleng kepala sambil mendengus, namun tanpa ditahan kedua sudut bibir cowok itu ikut terangkat.

"Bagus, deh. Akhirnya, cinta 8 tahun lo gak bertepuk sebelah tangan lagi".

Karin memutar kedua bola matanya malas.

"Abang kapan nembak Nenek Lampir itu?"

"Gak ah".

"Ih?"

"Abang gak suka kali sama Diana, dek. Dia sahabat abang".

"Ah masa? Sahabat biasanya ada benih-benih cinta. Nih, dari sepuluh persahabatan, pasti delapan diantaranya ada perasaan cinta." ujar Karin menatap menyelidik.

Kau Anggap Aku Apa (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang