Ternyata memang cinta Karin gak pernah terbalas. Karin udah gak mau lagi berharap apa-apa. Karin udah gak bisa lagi nanggung semuanya.
***...***...***
Karin pulang kerumah sehabis ujian akhir. Ini hari terakhir cewek itu ujian dan kepalanya terasa berat sehabis berpikir keras.
Cewek itu benar-benar sadar dia memang tidak ditakdirkan untuk memakai otaknya untuk mengerti pelajaran sekolah.
Karin melihat papanya duduk diruang tamu. Menundukkan kepala dalam diam membuat Karin heran. Jarang papanya ada dirumah.
"Papa," panggil Karin.
Papa Karin mengadah memandang anaknya dengan wajah datar yang sulit ditebak.
Karin mendekat. Meletakkan tasnya diatas sofa lain dan memeluk papanya.
"Karin kangen," ujar cewek itu.
Papa Karin tidak membalas pelukan anaknya. Karin menarik napas berat dan melepaskan pelukannya. Karin sudah terbiasa dengan sikap dingin papanya.
"Papa apa kabar?" tanya cewek itu.
Sudah sebulanan ini mereka tidak bertemu.
"Perceraiannya sudah selesai, Rin".
Karin membatu. Matanya menatap lurus kearah papanya yang juga memandangnya.
Karin tidak tahu apa yang papanya rasakan sekarang. Tapi jelas cewek itu tahu bahwa papanya pasti tidak baik-baik saja.
Karin berusaha menahan air matanya. Hatinya hancur berantakan ketika mendengar dari mulut papanya sendiri bahwa perceraian orang tuanya sudah benar-benar terjadi. Bahwa sekarang orang tuanya sudah benar-benar berpisah.
Keluarga mereka sudah benar-benar rusak, terpecah belah.
Karin ingin memeluk papanya kembali, tapi belum juga Karin bergerak papanya sudah berjalan pergi meninggalkan Karin sendiri.
Karin merosot jatuh kelantai matanya tak lepas dari punggung papanya yang menghilang dibalik pintu rumah. Napas Karin sesak karena tangisnya yang sudah berubah menjadi-jadi.
Mamanya meninggalkannya, papanya juga melakukan hal yang sama, begitupun Satya yang juga selalu hilang ketika Karin benar-benar putus asa akan keadaan keluarganya.
Beginikah dunia memperlakukan dirinya? Akhir dari keluarga yang bahkan selama ini memang selalu tidak saling dekat.
Karin berusaha meraup udara untuk masuk kedalam paru-parunya, tapi sulit sekali. Cewek itu sudah bersiap untuk hari ini. Dia sudah berusaha untuk menerima semua kenyataan pahit keluarganya dari jauh hari. Tapi tetap saja ketika sekarang dia harus menghadapi kenyataan, cewek itu tidak bisa menahan sakit yang luar biasa didalam hatinya.
Drrrt drrttt
Karin melirik pada ponsel yang mencuat keluar dari tas sekolahnya. Karin menghapus air matanya dengan punggung tangannya.
Cewek itu meraih ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Arya.
Bang Aya 🤟
Rin, gue mau ketemu. Lo bisa kerumah sekarang, kan?
Karin mengerut keningnya masih dengan isakan tangis bekas tadi. Cewek itu bingung dengan isi chat Arya. Tidak biasanya abang yang dia cintai itu memanggilnya dengan 'Rin' terlebih menggunakan gue-elo.
Tapi Karin menyingkirkan kebingungannya. Karin butuh Arya sekarang. Benar, cuma Arya yang selalu ada untuknya disaat dia terpuruk seperti saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kau Anggap Aku Apa (Completed)
Teen Fiction"Jadi, Bang Arya bohongin Karin?" "Enggak gitu, Yin...." "Abang selama ini pacaran sama Karin karena disuruh sama bang Satya!" "Yin, dengar penjelasan aku du...." "Karin benci sama Abang. Jangan temui Karin lagi. Kita cukup sampai disini," tuntas Ka...
