(14) Kapan Baik-Baik Saja?

17.4K 1.2K 15
                                        

Kadang lebih baik tidak tahu apa-apa, dibandingkan mencari tahu lalu akhirnya sakit hati atas kenyataan yang kamu terima.


♡~♡~♡

Seharian itu Arya benar-benar menemani Karin dirumah tanpa Satya yang entah pergi kemana. Mereka berdua hanya duduk di ruang tengah dalam keadaan hening. Karin masih sesekali tampak menahan tangis, sedangkan Arya terus mengusap lembut pundak Karin.

"Karin susulin mama kali, ya?"

"Gak usah," jawab Arya.

"Tapi, kan..."

"Biarkan semuanya terbuka dengan sendirinya, Yin. Kadang lebih baik  tidak tahu apa-apa, dibandingkan mencari tahu lalu akhirnya sakit hati atas kenyataan yang kamu terima," ujar Arya.

Cowok itu hanya tidak mau Karin mendapati kenyataan yang sangat menyakitkan baginya. Arya memang tidak tahu banyak mengenai rumitnya kehidupan keluarga Satya dan Karin, tapi belajar dari pengalamannya dulu memang lebih baik untuk tidak tahu apa-apa.

Karin terdiam disamping Arya. Cewek itu memejamkan matanya, mendengar perkataan Arya rasanya ia ingin menentang, tapi cewek itu pun paham kalau apa yang dikatakan Arya ada benarnya.

"Kalau memang mama dan papa pisah gimana?"

"Ya, pisah, Yin. Tapi kamu tetap anak mereka, sekalipun mereka bukan suami istri lagi".

"Tapi..."

"Yin, udah jangan terlalu dipikirin".

"Gak bisa Bang Aya, ini orang tua Ayin, orang tua Ayin mau cerai tanpa ada penjelasan, tanpa pulang kerumah, dan tanpa memberi tahu Ayin!"

Arya menghela napas. Matanya menangkap silatan sakit dari balik kedua bola mata Karin.

Arya hanya menuruti kata hatinya. Ia kembali memeluk Karin karena dari kecil ketika Karin menangis yang Arya lakukan adalah memeluknya sampai Karin tenang. Sampai tangis adik kesayangannya itu berhenti.

Tak lama kemudian Arya merasa tubuh Karin semakin berat bersandar pada tubuhnya. Cowok itu mencoba mengintip dan mendapati Karin yang sudah benar-benar menutup matanya. Sepertinya karena kelelahan menangis cewek itu tanpa sadar sudah tertidur.

Arya menatap jam dinding yang digantung di dinding putih rumah itu. Jarum pendeknya mengarah pada angka 11 dan jarum panjangnya pada angka 5.

Arya mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit. Mencoba tidak membangunkan Karin dan ingin mengantar cewek itu kekamarnya.

Baru beberapa saat Arya hendak membaringkan Karin di sofa suara pintu berderit. Arya menoleh dan mendapati Satya pulang dalam keadaan yang sedikit berantakan.

"Lo mau ngapain?"

"Karin ketiduran," jawab Arya seadanya.

"Lo abis dari mana?"

"Club".

"Sat, gue nyuruh lo nenangin diri bukan malah lari".

Satya yang tadinya berjalan sempoyongan berhenti.

"Lo gak perlu dikte gue".

"Gue udah pernah berada diposisi lo".

"Beda, Ar. Lo gak punya tanggunggan," jawab Satya sambil melirik kearah Karin yang masih tertidur.

"Oh".

"Tapi, lo punya tanggunggan dan malah melarikan diri," lanjut Arya.

Satya sudah hendak menerjang Arya. Dirinya yang dalam keadaan mabuk ingin sekali meninju wajah sahabatnya.

Kau Anggap Aku Apa (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang