Aku tidak suka hujan dimatamu.
***...***...***
"Hmm... Bang Aya mau minta maaf soal pacaran pura-pura kemarin," ujar Arya pelan pada Karin yang tengah merapikan bekas kapas dan betadine.
Karin menghentikan gerakannya dan menoleh pada Arya. Lalu cewek itu menganggukkan kepalanya.
"Iya, Karin maafin. Sekarang Bang Arya udah gak perlu lagi baik-baikkin Karin," sahut cewek itu.
"Aku baikkin kamu karena aku emang mau, Yin bukan cuma supaya kamu maafin aku," bela Arya tidak terima dengan spekulasi Karin.
Karin hanya membalas perkataan Arya dengan senyuman tipisnya. Tidak berniat memulai perdebatan apapun.
"By the way, kenapa Ayin tadi jalan sendirian?"
"Gak papa," jawab Karin.
"Aku tau kali kalo kamu lagi ada yang dipikirin, Yin. Kita uda bareng lama banget".
Karin menghela napas berat.
"Iya, Bang Arya kan emang paham banget sama Karin karena Karin udah kayak adik kandungnya Abang," ujar cewek itu.
Arya ingin sekali menyanggah ucapan Karin mengenai 'adik' karena sekarang perasaan cowok itu sudah berubah. Tapi, rasanya tidak tepat saja mengatakan bahwa dia ada rasa pada Karin disaat seperti ini.
Arya jelas tahu Karin sedang kenapa-napa. Dia melihat sendiri Karin berjalan keluar dari rumahnya sendirian dan tanpa arah.
"Tadi papa pulang," ujar Karin mengawali ceritanya.
"Karin pikir papa pulang karena ingat hari ulang tahun Karin," lanjut cewek itu dengan kekehan diakhir kalimatnya.
"Tapi, ternyata papa pulang karena pengen ngenalin Karin sama Bang Satya ke kekasih barunya papa. Karin gak bisa. Karin belum bisa nerima kenyataan itu. Karin belum bisa liat papa punya pasangan lain selain mama," jelas Karin sambil mengangkat kepalanya menatap atap rumah.
Mata cewek itu sudah memerah menahan tangis. Air mata berkumpul di kelopak matanya, tapi Karin enggan mengedip takut kalau air mata itu jatuh dan membuat Arya mengasihaninya.
Arya yang melihat Karin begitu rapuh jelas ikut tersakiti. Cowok itu mengambil tas kampusnya yang berada dibelakang tubuhnya. Meraih earphone serta ponselnya.
Lalu, cowok itu memasangkan earphone tersebut pada ponselnya dan mengetik sesuatu dilayar ponsel tersebut.
Karin hanya diam memerhatikan Arya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya Arya ingin lakukan. Hingga, cowok itu tiba-tiba memasukkan earphone tersebut kelubang telinga Karin.
Karin mendengar suara rintikan hujan mengalun pelan dari earphone tersebut.
"Kalau biasanya Bang Aya lagi sedih atau lagi capek Abang suka dengerin suara hujan. Gak tau kenapa rasanya tenang aja," ujar Arya menjawab kebingungan Karin.
"Ayin tenang aja Bang Aya bakal selalu disini buat kamu. Gak akan ninggalin kamu".
Karin tersenyum membalas perkataan Arya yang terdengar begitu manis baginya. Selama ini Karin sebenarnya tidak tega pada Arya, tapi cewek itu berusaha untuk tetap berlaku dingin karena tidak mau jatuh hati lagi pada Arya. Namun kali ini, Karin yakin dia sudah bisa mengendalikan perasaannya.
Mulai sekarang cewek itu akan benar-benar melihat Arya sebagai abangnya yang begitu baik dan menyayanginya. Bukan lagi sosok laki-laki yang ia ingin rebut hatinya.
Arya menatap Karin dalam memerhatikan betapa kacaunya Karin saat ini didepan matanya.
"Aku gak suka hujan...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kau Anggap Aku Apa (Completed)
Teen Fiction"Jadi, Bang Arya bohongin Karin?" "Enggak gitu, Yin...." "Abang selama ini pacaran sama Karin karena disuruh sama bang Satya!" "Yin, dengar penjelasan aku du...." "Karin benci sama Abang. Jangan temui Karin lagi. Kita cukup sampai disini," tuntas Ka...
