(32) Menyadari Perasaan

31K 1.8K 162
                                        

Perasaan cinta itu gak gampang hilang. Gak semudah itu berubah jadi gak ada rasa.

***...***...***

Arya menopang dagunya pada meja makan. Ponselnya ia taruh tepat didepan wajahnya. Dari tadi benda pipih itu terus berbunyi nada menyambungkan pada seseorang diujung sana yang tidak kunjung mengangkat.

Arya bahkan sudah tidak tahu berapa banyak misscall diponsel Karin sekarang darinya. Karena cowok itu sudah menelpon tanpa henti semenjak setengah jam yang lalu.

Hingga setelah kesekian kalinya akhirnya suara sambungan telepon itu menghilang digantikan sebuah suara yang menyahut dari ujung sana.

"Halo?" nada suara Karin terdengar tidak ramah.

"Ayiiiinnnn.... makan yok. Abang laper banget, nih. Pengennya si mie pangsit," ujar Arya to the point.

Tanpa mempedulikan Karin yang mungkin kesal karena dia yang terus menelpon cewek itu sedari tadi.

"Gak".

"Kenapa?"

"Mau jalan sama Elsa," jawab Karin malas.

"Kemana?"

Karin tidak lagi bersuara.

"Kemana, Yin?" tanya Arya masih meminta jawaban.

"Toko buku," sahut Karin sekenanya dan sambungan telepon langsung diputuskan sepihak oleh Karin.

Arya menghela napas berat. Matanya memandang lurus pada wallpaper ponselnya yang sudah dia ganti dengan foto dirinya dan Karin beberapa tahun lalu ketika berada di pasar malam.

Difoto itu Karin tampak memandangnya dengan senyum lebar sementara Arya menatap pada kamera. Difoto itu juga Karin menyodorkan tangan kanannya yang membentuk simbol metal. Sampai sekarang Arya belum tahu apa arti simbol metal itu. Karena setahu Arya, Karin pun memakai simbol metal untuk menamai nomornya diponsel Karin.

Arya menegakkan tubuhnya. Tangannya meraih ponselnya dan menelpon Satya. Belum sampai 2 detik Satya sudah mengangkat.

"Apaan?" ujar cowok itu malas.

"Temani gue makan mie pangsit".

"Eh! Gue tau lo jomblo tapi bisa gak, sih gak usah ganggu malam tenang gue," balas Satya kesal.

"Gue gak mau sendirian," ujar Arya melembutkan suaranya agar terdengar manja.

"Masa lo tega biarin gue makan tanpa lo," lagi Arya membujuk Satya.

"NAJIS!" teriak Satya.

"Ga, ah, ga. Pergi aja sendiri gak usah ngajak-ngajak gue. Malam ini gue mau quality time sama kasur gue," lanjut Satya lagi.

Arya tersenyum mendengar alasan Satya yang terlalu mengada-ada.

"Tiap malam kan juga lo sama kasur lo, Ya," ujar Arya mengikuti pembicaraan Satya.

"Emang. Makanya, lo jangan ganggu gue".

Arya menghembuskan napasnya berat.

"Tadi gue udah ngajak Karin, tapi dia bilang mau jalan sama Elsa ketoko buku".

"Loh? Masa? Padahal barusan dia pergi sama Kak Dion kok ke Uncle Dee," ujar Satya dengan nada penuh kebingungan.

Arya terdiam mendengar ucapan Satya, sementara Satya juga sudah tidak lagi bersuara.

"Ehm... kayaknya gue salah dengar, sih. Iya, tadi Karin emang pergi sama Elsa," Satya kembali berbicara.

Cowok itu gelagapan. Kenapa juga dia bisa keceplosan. Harusnya Satya mengiyakan saja ucapan Arya tadi dan bukannya mengatakan yang sebenarnya.

Kau Anggap Aku Apa (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang