(45) Izin Pindah

18K 1.1K 34
                                        

Aku gak nganggap kamu adik aku lagi. Kamu calon pacar aku sekarang.

***...***...***

Satya menghela napas berat melihat Karin yang masih tertunduk tidak berani melihat kearahnya.

"Jadi lo beneran mau ninggalin gue, nih?"

"Enggak ninggalin, Bang".

"Sama aja," sahut Satya sambil berdecak diujung  perkataannya.

Wajah cowok itu tampak sangat tidak bersahabat. Jelas dia kesal karena Karin memilih untuk tinggal bersama mama mereka dan otomatis meninggalkan Satya sendirian dirumah ini. Lebih lagi semenjak pertengkaran antar Satya dan papa mereka sewatu itu, pria paruh baya itu tidak pernah terlihat lagi dirumah.

Satya akan benar-benar sendirian nantinya. Memikirkan itu membuat Satya kembali menghela napas berat merasa sangat kesal dan sedih disaat bersamaan.

"Bang Satya beneran gak mau ikut pindah juga?"

Satya menggeleng.

"Kalau gue ikut juga kasihan papa," jawab Satya.

Sekalipun papa mereka jarang sekali ada dirumah, tapi kalau harus benar-benar pindah dan meninggalkan papanya, Satya tidak tega.

Biar bagaimanapun papa mereka tetaplah laki-laki yang membesarkan mereka. Bekerja keras sampai tidak memiliki waktu untuk mereka.

"Lagipula gue rasa impas juga. Lo bareng mama dan gue bareng papa disini," lanjut Satya.

"Tapi kan papa jarang pulang".

"Ya... mau gimana lagi...."

Karin menyandarkan kepalanya diatas pundak Satya. Keduanya sedang duduk diatas sofa ruang tengah. Memandang televisi yang menyala menampilkan salah satu komedi show.

Tidak ada yang fokus dengan lelucon pelawak. Mereka hanya fokus pada isi kepala mereka masing-masing.

Karin dengan perasaan tidak teganya dan Satya yang menimbang apa keputusannya sudah benar-benar tepat atau tidak.

"Tapi mama pengen loh Bang Satya juga ikut," lagi Karin masih berusaha membujuk Satya.

"Enggak, Rin. Gak bisa. Selain karena gue gak tega papa beneran sendirian, gue juga gak bisa ninggalin kuliah gue disini. Gue udah mau semester 5. Sayang banget kalau pindah dan mulai dari awal lagi. Nilai gue kemarin udah bagus-bagus banget. Gue juga ada project bareng anak kampus. Gak mungkin gue tinggal gitu aja," jelas Satya panjang.

Kali ini giliran Karin yang menghela napas berat.

"Karin gak pengen pisah sama Abang. Walaupun Abang ngeselin, tapi tetap aja Karin gak suka kalau gak bisa jailin Abang. Siapa yang bakal ngatain Karin Adek Setan lagi nanti?"

Satya terkekeh mendengar ocehan Karin.

"Entar kalau kita udah ldr-an gue janji, deh, tiap hari gue bakal nelpon lo dan manggil lo setan. Jadi, tenang aja".

"Oke, Bangsat".

Satya dan Karin sama-sama tersenyum. Walaupun hati mereka masih belum kunjung tenang. Selama ini mereka melewati sepinya rumah bersama. Sekalipun mereka benar-benar tanpa sekat baru sekitar setengah tahunan ini, tapi rasanya tidak rela saja sudah harus hidup berjauhan nanti.

"Lo udah ngasih tahu Arya soal ini?"

Karin menggeleng.

"Belum".

Satya menautkan kedua alisnya bingung.

"Kenapa?"

"Belom siap aja," jawab Karin.

Kau Anggap Aku Apa (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang