(1) Masuk SMA

66.3K 3.3K 67
                                        

"BANGSAT!!!"

"ASTAGA KARIN!"

Satya dengan cepat menuruni anak tangga. Wajahnya penuh dengan kemurkaan yang ingin segera meledak. Rambut hitam gondrongnya masih acak-acakan kesana kemari.

"Gue udah bilang jangan panggil gue bang Sat, cukup abang aja!" Protes Satya terhadap adiknya yang pagi-pagi sudah memanggilnya dengan panggilan yang sangat kurang ajar.

"Bacot. Diem. Cepet."

Karin mendekat pada Satya, lalu menarik tangan abangnya itu untuk keluar dari rumah menuju mobil.

"Karin udah telat. Ini hari pertama Karin sekolah!"

Karin membuka pintu mobil dan lansung mendorong tubuh Satya yang lebih besar darinya untuk masuk kedalam tempat duduk kemudi. Setelah itu, dia mengitari mobil dan duduk disamping Satya.

"Gue masih mau bogan Kariiiin," ujar Satya memelas.

"Apaan bogan-bogan! Abang kalo bobo nggak ganteng!"

"Yaelah, meremehkan lo it...."

"Jalan!"

Satya menghembus napasnya pelan.

"Sabar, Sat, setan disebelah lo ini adik lo," gumamnya kecil.

"BANGSAT!!!" Teriak Karin lagi.

"Iya, iya, diem, gue nggak mau budek!" ujar Satya sambil menyalakan mobil.

Karin mengerucutkan bibirnya kesal. Dia kembali mengangkat tangan kirinya guna melihat sudah jam berapa.

Satya mengemudikan mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi karena malas mendengar ocehan adiknya dan juga ingin segera melemparkan setan kecil itu keluar dari dalam mobilnya.

Satya kesal pagi indahnya diganggu oleh teriakkan Karin, padahal dia masih berniat untuk melanjutkan bogannya. Ditambah lagi hari ini dia tidak ada jam kuliah, dosennya tengah ada tugas diluar kota. Rasa-rasanya dia ingin sekali menenggelamkan Karin kedalam rawa-rawa sekarang.

"Abang! Muka abang nyantai dikit kali! Kayak banyak beban idup aja!" Ujar Karin ketika menyadari bahwa Satya terus-terusan menekuk wajahnya.

"Iya, beban hidup gue itu punya adek ngeselin kayak lo," sahut Satya.

Karin menyengir lebar. "Biar ngeselin gini tetep cantik, kan Bang?" balas Karin sambil menaik turunkan kedua alis hitamnya dan mengibas rambut panjang sepinggangnya kebelakang.

Satya tidak menjawab. Satya tetap fokus pada jalanan dan berusaha untuk mengabaikan Karin yang terus menerus menusukan telunjuknya pada lengan kiri Satya mencari perhatian.

Setelah sampai didepan gerbang sekolah Karin dengan cepat membuka pintu mobil.

"Karin ih!" Sergah Satya ketika adiknya itu hampir turun dari mobil.

"Apaan?!"

"Cium pamit dulu!"

"Bodo Abang! Bodo!" Kesal Karin, tetapi tetap menyerong tubuhnya dan mengecup singkat pipi Satya.

"Bhay!" Ujar Karin dan langsung melompat turun dari mobil.

Satya menggeleng pelan masih tidak percaya dengan kebrutalan adiknya. Ia menarik napas panjang dan kembali menjalankan mobil menembus jalanan.

~♡♡~♡♡~

"Lo, yang kuncir dua, sini maju," panggil seorang cewek berambut panjang dengan rompi merah.

Karin mengedarkan pandangannya kesana-kemari mencari tahu siapa yang kakak osis itu panggil.

"Elo yang tadi telat, sini!" Lagi cewek berambut panjang itu memanggil.

Kau Anggap Aku Apa (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang