SEBELAS

801 28 0
                                        

Angin meniup rambut panjang Zahra yang terurai, membuatnya terbang. Zahra menikmati angin sore itu. Tanpa sadar Yudith yang sedari tadi memperhatikan gadis itu dari kaca spionnya kini tersenyum simpul.

"Lo suka?" Tanya Yudith. "Suka apa?" Zahra balik bertanya. "Suka jalan-jalan pake motor?" Zahra mengangguk, "tapi gak bisa make motor," ucapnya kemudian. Yudith mengangguk pelan. "Mau gue ajarin?" "Gak ah, males."

Yudith tertawa, "Mau mampir ke restoran?" Tanyanya. "Gue gak bawa duit, lain kali aja," jawab Zahra. "Slow, gue bayarin, kan Lo pacar gue." Awww... So sweet!

"Boleh deh, asal gak lama," ujar Zahra memberi syarat. "Siap Bu Boss!" Zahra tertawa kecil. Gadis itu kini menyandarkan kepalanya pada punggung kokoh Yudith. Tangannya kini melingkar di pinggang Yudith, membuat cowok yang dipeluknya itu kini tersenyum bahagia.

...

"Mau pesen apa?" Tanya Yudith setelah mereka berdua sampai di sebuah restoran kecil yang menjual beberapa makanan enak yang juga banyak digemari oleh masyarakat.

"Apa aja deh,  tapi yang murah ya, gue gak mau nguras duit Lu," jawab Zahra. Yudith tersenyum kecil. "Cie... Perhatian banget sih, Cayang," papar Yudith yang langsung memeluk Zahra. "Ih, jangan gitu! Malu dilihat orang bego!" Sahut Zahra. Yudith tersenyum manis sebelum akhirnya memesan makanan yang akan disantapnya dengan kekasihnya.

...

"Dah kenyang?" tanya cowok pada seorang cewek di depannya. Cewek itu mengangguk. "Makasih udah traktir," ucap Zahra sebelum menyeruput secangkir orange punch yang Yudith pesankan untuknya. "Mau gue anterin pulang apa jalan sendiri?" "Anterin lah. Lo juga yang bilang mau nganterin gue kan?" ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya. Lagi-lagi Yudith tertawa yang membuatnya jadi tambah guantenggggg. Tak heran jika gadis dihadapannya itu kini merona.

Melihat Zahra yang sudah memerah Yudith tertawa semakin kencang__walau tidak terlalu kencang__. Zahra makin gelagapan dibuatnya. "Ih, udah ah ayo pulang!" Zahra segera beranjak dari duduknya dan menuju tempat dimana motor merah Yudith terparkir. Yudith pun segera mengekori gadisnya itu.

...

Seorang gadis berjalan menuju rumahnya yang kini tinggal beberapa langkah lagi. Disampingnya berdiri seorang lelaki yang juga berjalan beriringan dengannya. "Kiran, makasih ya udah mau nganterin aku pulang, dua kali lagi. Kamu baik banget sih," tutur Natasya setelah mereka berdua sampai di depan gerbang rumahnya.

Kiran yang mendengar pujian dari gadis itu pun langsung tersipu malu__tidak, lebih tepatnya dia baru masuk ke perangkap rubah merah__. Hening. "Aku masuk dulu ya," kata Natasya memecah keheningan. "Ah? Iya, oke!" Kiran memandang Natasya yang kini berjalan menuju pintu rumahnya.

"Natasya!" Kiran berucap memanggil Natasya. Gadis yang dipanggilnya itu pun menoleh. "B-besok kan libur... Mau jalan bareng gue gak?!" ajak Kiran yang kini menunduk malu dengan pipi yang sudah memerah dan keringat dingin yang bercucuran.

"Oke!"

Kiran membulatkan matanya tak percaya. Ia lalu mendongak menatap Natasya yang juga menatapnya sambil tersenyum. "Apa?". "Gue bilang, 'oke' ayo aja." Setelah itu, Natasya langsung berbalik dan segera membuka pintu rumahnya sebelum menoleh lagi pada Kiran yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya.

"Apa lagi Kiran?" tanya Natasya. Kiran langsung gelagapan. "Nanti Lo chat aja mau jam berapa, ya?" saran Natasya. Keran mengangguk setuju sebelum berkata, "Gue balik ya." Setelah itu, remaja muda yang bernama Kiran Aldiansyah itu pun berlari pergi dari rumah Natasya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.

Natasya yang semula tersenyum manis kini menatap kepergian Kiran dengan ekspresi datar. Dalam hati dia berucap, Bego banget sih Lo Kiran...

...

Sebuah motor Honda berwarna merah melaju memasuki sebuah perumahan dan berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan cat berwarna putih bercampur dengan biru laut yang terlihat seperti bersinar pada malam hari itu. "Ra, udah sampe gak turun Lo?" tutur Yudith pada gadis di belakangnya. Namun gadis itu tak bergeming.

"Ra!" Yudith kembali memanggil nama gadis itu sembari mengguncang motornya pelan-pelan agar Zahra terbangun. Benar saja gadis itu kini terkejut dan makin memeluk Yudith dengan erat.

"Ah apa sih?" tanyanya kemudian. "Udah sampe nih, rumah Lo yang ini kan?" ucap Yudith. Zahra memaksakan matanya agar bisa terbuka dan segera menghadap rumah yang dimaksud Yudith. "Kok Lo tau rumah gue? Cenayang ya Lo?" tuduh Zahra. "Gak perlu tau gue tau dari mana rumah Lo. Yang penting, sekarang Lo masuk terus tidur gih. Oh atau mau gue temenin tidur?" goda Yudith. Segera Zahra menggeleng sembari turun dari motor Yudith.

"Bang Yudith, makasih ya udah mau nganterin Zahra pulang..." ucap Zahra dengan dihiasi senyuman yang manis. "Iya, sama-sama Sayangku," jawab Yudith. Seketika degup jantung Zahra bergerak cepat. Dilihatnya si Yudith yang kini tersenyum manis yang membuatnya menjadi lebih tampan.

"Gue tau gue ganteng, tapi gak segitunya kali. Lo bisa natap gue kapanpun yang Lo mau kok," tutur Yudith yang membuat Zahra tersadar dari lamunannya. "Ih apaan sih?" "Gak usah pake nyangkal segala! Gue udah tau kok."

Mereka berdua tertawa. Beberapa saat kemudian tawa mereka menghilang digantikan dengan keheningan. "Gak masuk?" "Gak pulang?" Ucap keduanya bersamaan. Menyadari hal itu keduanya pun sama-sama merona.

"Baru mau pulang kok," jawab Yudith. "Gue juga baru mau masuk," ucap Zahra. "Hati-hati ya pulangnya," tutur Zahra. Yudith mengangguk. Setelah itu mereka berpamitan.

Setelah memastikan Yudith sudah menghilang dari pandangannya, Zahra melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya dan menekan tombol bel yang berada di sampingnya. Dapat terdengar bel berbunyi nyaring dari dalam rumah. Tak lama kemudian terdengar pula suara derap langkah kaki yang berjalan menuju pintu diiringi dengan suara seorang wanita yang berucap, "Ya sebentar."

"Eh non Zahra. Baru pulang? Kok tumben telat?" ucap Bi Sarah yang nampak penasaran. "Abis ngumpul sama temen, Bi," jawab gadis itu. "Non mau makan?" "Gak Bi. Tadi udah." Bi Sarah mengangguk. Kini Zahra berjalan gontai menuju kamarnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia lelah, lelah tapi menyenangkan.

Dibukanya pintu kamarnya. Setelah menutup kembali pintu kamarnya, Zahra berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya di atas benda empuk itu. Perlahan ia menutup matanya yang kemudian langsung terlelap di alam mimpi. Ssstttt... Zahra tengah tertidur. Imutnya gadis itu bila sudah memejamkan matanya. Bukan bermaksud bilang 'mati' lho ya...

ZAHRA✓[COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang