TIGA PULUH ENAM

388 22 0
                                        

Ulangan kenaikan kelas hari pertama dilaksanakan pada hari Senin. Setiap kelas kini sudah padat oleh siswa-siswi. Zahra baru saja datang dengan Yudith__seperti biasa.

Mereka berjalan beriringan sampai di depan kelas Zahra. "Semangat ulangannya, ya!" ucap Yudith. "Kamu juga!" balas Zahra.
"Kalau aku mah gampang!"
"Jangan ngeremehin! Nanti jadi susah lho!"
"Bukan gitu... Kalau aku lagu bingung, aku bayangin kamu aja, nanti jadi gak bingung lagi deh..."
"Ih... Dasar!"

"Cie... Pagi-pagi udah pacaran aje berdua!" papar Tati. "Ih! Tati mah ganggu orang pacaran aja deh!" sahut Yani. "Tauk, nih!" Rifa ikut-ikutan meledek. "Ish! Suka hati lah..." gubris Tati.

"Ya udah, aku ke kelas dulu, ya..." pamit Yudith. "Hati-hati!" Yudith pun melenggang pergi. Setelah beberapa detik, ia sudah tidak terlihat lagi.

"Yah... Ditinggal pacarnya deh..." ledek Tati. "Sirik ae Lo!" balas Zahra.

...

"Ya! Ulangan akan segera dimulai! Kalau sampai Ibu lihat salah satu dari kalian ada yang buka buku atau handphone, kertas kalian akan ibu ambil!" ucap Miss Uni ketika membagikan LJK.

"Lho, kenapa, Bu? Kan cuma buka buku sama buka handphone?" tanya Romi sok polos. "Nggak usah banyak bacot ya kamu!" ancam Miss Uni. "Wih... Gaul kali kau, Bu!" balas Romi sambil mengacungkan kedua jempol.

Semua murid mengoper kertas yang lebih ke belakangnya. "Yudith... Nih! Semoga lancar ya..." ucap Vera sambil menyerahkan kertas. "Berisik tauk!" balas Yudith sambil mengambil kertas kemudian mengoper ke belakang. Vera cemberut.

...

Ulangan berjalan dengan tenang di hari pertama. Para murid belajar dengan tekun untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Mereka berjuang dengan giat sampai hari terakhir ujian.

"Yaaaahhh... Akhirnya selesai juga PAS-nya!" seru Tati sambil mengangkat kedua tangannya. "Masih dag-dig-dug, nih nunggu hasilnya!" papar Yani. "Selow! Pasti masuk rata-rata!" balas Tati. "Masuk rata-rata doang mana cukup?! Mama gue pasti udah nyiapin kertas buat pidato kemurkaannya..." ucap Yani. "Biarkan saja! Yang penting pasti masuk rata-rata!" Tati tetap berseteru. "Bodo!"

"Kenapa, Ra?" tanya Rifa yang melihat raut muka Zahra yang masam. "Nggak..." Zahra menggeleng. "Oh, ya! Sekitar dua Minggu dari sekarang, Yudith bakalan ke Amerika, ya?!" sahut Tati. "Jangan kenceng-kenceng ngomongnya! Kasian Zahra!" kata Yani sambil memukul lengan Tati. "Eh iya maaf!"

"Nggak pa pa! Gue harus kuat! Lagipula, gue nggak boleh egois cuma karena Yudith ke Amerika! Gue kan juga punya mimpi! Gue juga harus capai mimpi gue, kan?" kata Zahra antusias. Ketiga sahabatnya tersenyum, lalu mengangguk.

"Tapi... Tetep aja... Yang namanya 'ditinggalkan' itu nggak enak rasanya... Pahit kecut gitu..." lanjut Zahra dengan mimik muka masam. "Kayak keteknya Tati, dong?!" seru Yani. "Enak aja! Lu emang pernah nyium ketek gue?! Nih ayo cium! Asem nggak?!" kata Tati sambil menunjukkan keteknya pada Yani. "Ih... Nggak mau! Tanpa nyium udah kerasa asemnya!" Yani mencoba menjauhkan wajahnya dari ketek Tati. Rifa dan Zahra tertawa.

...

Setelah ulangan selesai, Yudith langsung mengajak Zahra pulang cepat agar ia bisa berbenah. "Maaf, ya jadi repotin kamu..." Yudith mengernyit bingung, "Kenapa?" "Kamu, kan harus packing, tapi aku malah jadi hambatan karena kamu harus anter aku ke rumah dulu... Aku jadi nggak enak sama kamu..."

"Hahaha! Tumben, nih baik!"
"Ish! Ini kesempatan langka, lho! Masa reaksi kamu gitu?! Sebel! Tahu gitu, aku nggak ngomong, deh!"
"Yah, jangan baper dong, kamu nanti nambah cantik!"
"Yah... Sorry pujian itu udah nggak mempan!"
"Yah elah... Harus bikin yang baru dong?"
"Apanya?"
"Pujiannya, biar bisa bikin kamu baper lagi sama aku!"
"Mau bikin baru kek, mau yang lama kek, kayaknya tetep nggak berpengaruh ke aku!"
"Kenapa?"
"Karena... Aku mau belajar jaga perasaan aku saat kamu pergi nanti, biar nggak gampang baper sama orang lain... Dengan begitu, aku jadi bisa nunggu kamu balik lagi, deh!"

Yudith termenung. "Iya, makasih, Ra!" ucapnya dengan setengah berbisik.

"Hah?! Kamu ngomong?!" tanya Zahra.  "Aku lagi nyetir bukan ngomong," Yudith menahan senyumnya. "Ih! Serius! Tadi aku denger kamu bilang sesuatu!" Zahra tetap bersikeras. "Mungkin kamu denger kentut aku?" Yudith asal menjawab. "Apa?! Kamu ngentut?! Ih!" Zahra memukul punggung Yudith yang sedang tertawa.

Motor Yudith melambat ketika sudah sampai di depan rumah Zahra. Zahra segera turun. "Makasih, ya! Jangan lupa disiapin segala macamnya buat ke Amerika!" saran Zahra. Yudith terkekeh, lalu mengangguk. "Baik bos!" ucapnya seraya hormat kepada Zahra.

"Aku masuk dulu, ya?" Yudith mengangguk. Zahra berjalan ke arah pintu rumahnya. Sebelum tengahnya mencapai gagang pintu, gadis itu berbalik. Melambaikan tangannya kepada Yudith yang juga membalasnya, lalu masuk ke dalam sambil mengucap salam.

Yudith tersenyum simpul. Segera ia nyalakan motornya, dan melaju meninggalkan rumah Zahra untuk segera pulang ke rumahnya.

____________________________________

Segini dulu ya guys...
Terimakasih buat kalian yang sudah baca dan vote "ZAHRA✓"
NANTIKAN KELANJUTANNYA YA!!
Love you...

Salam dari author 💗

ZAHRA✓[COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang