Kuvvi dan Mamanya masih sibuk menghias brownies cokelat keju. Suara kehidupan khas dapur dan aroma lezat makanan yang telah matang membuatnya mendesah nyaman.
Kuvvi diperintahkan untuk mengocok telur, gula kastor, dan SP sampai mengembang dan sampai warnanya agak putih. Kemudian mencampur semua bahan kering seperti tepung kue, bubuk kokoa dan baking powder. "Sisihkan dulu, Nak. Nanti campurkan adonan kering dengan adonan telur."
"Yes, Chef!"
Kuvvi lanjut melelehkan margarin dan dark chocolate. Selanjutnya memanaskan air di dalam kukusan. Tak lupa memghidupkan api.
"Tolong loyang kuenya, Nak, nanti minta tolong olesi dengan mentega cair dan taburi dengan tepung kue, ya?" titah Mama Kuvvi.
"Terus, nanti tuang setengah adonan ke dalam loyang kue cokelat dan kukus selama 10 menit, kan, Ma?" tanya Kuvvi memastikan.
"Pinter! Anak mama bisa, nih, jadi the next master chef," puji Mama Kuvvi yang disambut hangat oleh anaknya.
"Untuk lapisan kedua gimana, Ma?"
"Tambahkan susu kental manis ke dalam adonan sebanyak empat sendok makan. Kalo udah sepuluh menit, tuangin lapisan kedua dan kukus selama dua puluh menit." Kuvvi memperhatikan setiap perintah mamanya.
"Nanti kalo udah dingin, udah bisa dipotong, kan, Ma?"
"Iya, boleh."
"Ma, sisa adonannya buat Kuvvi aja." Cewek itu menjilati sisa adonan yang ada di wadah hingga bersih.
"Bersih amat, Neng? Udah, nggak usah dicuci lagi tuh. Udah mengkilap."
"Mama bisa aja."
Sudah dua jam mereka berkutat di dapur. Rambut Kuvvi sudah diikat asal, badannya berkeringat, dan wajahnya terlihat sangat lelah. Namun, senyum puas menghiasi wajahnya ketika melihat brownies yang berlapis cokelat sudah siap dihidangkan. Tentu saja buatan tangan mamanya. Ia hanya mendapat tugas mengocok adonan hingga kalis.
"Nanti Kuvvi aja yang anter, Ma. Ke rumah sebelah kan, Ma?" tanya Kuvvi sekali lagi, memastikan.
"Iya, Sayang." Mama Kuvvi meletakkan brownies itu ke dalam kotak. Lalu memasukkan kotaknya ke dalam kantong plastik putih.
"Sekarang, Ma?" tanya Kuvvi ketika Mamanya menyodorkan kantung plastik itu.
"Nanti aja, nunggu kucing bertanduk." Kuvvi terkekeh mendengar jawaban Mamanya. Lalu ia pamit pada Mamanya dan berjalan santai menuju rumah tetangga sebelahnya.
Sesampainya di depan pagar rumah tetangga, ia mengucapkan permisi pada Satpam yang sedang berjaga. Satpam itu dengan cepat membukakan pagar untuk Kuvvi. Setelah mengucapkan terimakasih, Kuvvi berjalan menuju pintu rumah bercat putih itu lalu menekan bel yang ada di sampingnya.
Cukup lama Kuvvi menunggu pintu dibuka. Ia melihat-lihat sekeliling rumah yang dikelilingi kolam ikan. Indah. Seperti rumah di tengah-tengah sungai. Dari batas halaman parkir, hanya ada jalan setapak menuju pintu utama.
Ckleekk
Ansel menatap aneh saat ia membuka pintu, seorang cewek malah membalikkan badannya. Cewek itu seperti sangat terkejut melihatnya. "Astaghfirullaahaladzim," ucapnya nampak ketakutan.
Ansel memperhatikan punggung cewek itu, tangannya tampak menutupi mukanya. Apakah Ansel seperti hantu? "Hah?" Beruntung kue yang dipegang cewek itu tidak jatuh karena dengan sigapAnsel yang berdiri di depannya membantu memegangi kantong plastik berisi kue yang dibawanya dari rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Novela Juvenil[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
