"Neni?" panggil Kuvvi. "Gimana sih, Ni, cara biar kebal?" Ia menanyakan hal konyol kepada neneknya yang sedang memasak air biar mateng.
Sepulang dari gramedia, Kuvvi mampir ke rumah nenek tirinya, ibu dari ayahnya. Benar, cewek itu memiliki ayah tiri, Papa kandungnya sudah meninggal sejak ia berumur sepuluh tahun.
Menurutnya, punya ayah tiri, tidak semenyeramkan omongan orang. Terbukti, ayah tirinya sangat baik, menyayanginya dan mamanya. Walaupun memang tidak ada yang bisa menggantikan posisi ayah di hatinya, namun, memiliki ayah tiri tidak buruk juga.
"Aneh-aneh aja, toh, Ndok. Nanya kok supaya kebal. Kamu mau jadi kayak Limbad?"
"Kebal dari rasa baper, Ni."
Neni mematikan kompor hendak memindahkan air panas ke dalam termos. "Kuvvi aja, Ni." Kuvvi mengambil alih ceret di tangan Neni.
"Baper itu apa?" tanya Neni.
"Baper itu terbawa perasaan, Ni."
"Ada-ada aja istilah zaman sekarang." Neni duduk di kursi goyangnya. "Caranya, ya jangan baper."
Kuvvi beralih, duduk di depan kaki neneknya. "Ih, Neni, mah."
"Makanya, jangan mudah untuk menyimpulkan suatu persoalan. Karena akan memunculkan asumsi–asumsi dari pikiran diri sendiri yang akhirnya hanya nyulitin."
"Susah, Ni. Kuvvi kan orangnya mudah ke-GR-an."
"Iya betul, udah ke-GR-an, bar-bar, terlalu percaya diri, cucu siapa, sih?" Neni menarik hidung Kuvvi.
"Neni, mah, istilah baper nggak tahu, giliran istilah bar-bar tahu."
"Masih suka sama cowok yang mirip mantan kamu itu? Duh, siapa namanya, Engsel ya?" tanya Neni kepo.
"Ansel, Ni."
"Nah, iya. Ansel."
"Enggak, Ni. Dia nggak mirip mantan Kuvvi. Malah jauh banget." Semakin lama Kuvvi mengenal Ansel, semakin ia menemukan pesona cowok itu tanpa bayangan mantannya. Benar-benar sosok yang baru. Bukan bayang-bayang mantan.
Kuvvi merasa senang dan nyaman berada di dekat Ansel. Ketika berada di dekatnya, Kuvvi tidak pernah merasa kalau Ansel adalah mantannya. Begitu pun saat sedang mengobrol, Kuvvi tidak menganggap dirinya sedang bersama mantan, tapi bersama Ansel.
"Dia bisa buat Kuvvi deg-deg an, kenceng banget."
"Rasanya jantung mau hilang?" goda Neni.
"Betul!"
"Kamu nginep aja, ya. Udah malem." Suara adzan maghrib sudah berkumandang.
"Kuvvi ada kelas besok pagi, Ni. Ada tugas juga yang belum diselesain. Malming, deh, Kuvvi ke sini lagi. Tidur sama Nini, diusap-usap punggung sambil dinyanyiin lagu jawa."
"Dih, maunya."
Seusai sholat maghrib, Kuvvi pamit pulang. Sejujurnya ia baru dua kali ke rumah Neni pakai motor. Jalannya pun berbeda jika pakai mobil. Kalau pakai motor, Kuvvi bisa lewat jalan tembusan yang lebih cepat.
Setelah setengah perjalanan pulang, tiba-tiba motor Kuvvi berhenti di tengah jalan. "Bodoh! Kok aku bisa nggak sadar bensin udah habis." Ia merutuki dirinya sendiri. Hari sudah gelap, lingkungan sekitar juga terlihat sepi, salahkah jika ia parno sendiri.
"Aku harus nelepon siapa?"
"Nazo kasian, udah malem, Aak Awe?" Kuvvi segera menelepon Awe untuk meminta pertolongan.
"Aak, angkat dong." Berkali-kali Kuvvi menghubungi Awe, namun tidak pernah ada jawaban.
"Kalo nelpon Ansel?" Haruskan Kuvvi meneleponnya? Ah, Kuvvi tidak mau terlihat menyusahkan di depan Ansel. Kuvvi mengurungkan niatnya, ia meletakkan kembali ponsenya di dashboard motor. Ia membiarkan nomor ponsel Ansel masih terpajang di layar ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
