[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan.
Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya.
Aku pernah merasakan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alyviah, Rafka, Nazo, dan Alfa sudah menunggu Ansel sedari tadi. "Ayah, jidat Abang kenapa?" Alfa yang ikut memerhatikan, bertanya penasaran.
"Abang jatuh, jidatnya luka."
"Abang tersungkur?"
"Iya, tersungkur. Abang nggak hati-hati. Makanya, Alfa kalo main harus hati-hati ya, Nak, biar nggak jatuh." Alyviah menambahkan sembari mengusap puncak kepala anaknya.
"Iya, Bu." Alfa melirik lengan Ansel yang diperban. "Kalo yang ini," tunjuknya. "Karena jatuh juga?"
"Iya, Sayang. Abang nggak hati-hati." Anak kecil itu menyentuh perban Ansel, cukup keras. Hingga si pemilik luka itu terbangun.
"Eh, abang udah bangun." Alfa menyengir.
Pada saat Ansel membuka mata, Ibunya langsung memasang wajah kesalnya. Nazo yang peka situasi, cepat-cepat membawa Alfa pergi. Bahaya kalau Alfa mendengar.
Selepas dua beradik itu pergi, Alyviah langsung menghujani Ansel pertanyaan. "Abang kenapa? Berantem lagi? Kenapa berantem? Abang udah janji, kan? Siapa yang berani nyakitin anak Ibu? Abang dikeroyok? Siapa yang ngeroyok Abang?" Ansel terdiam, ia bingung mau jawab apa. Pertanyaan ibunya panjang sekali.
"ANSEL GARABALDI!" Alyviah berkacak pinggang.
"Udah, Al." Rafka melerai.
"Udah apa, Raf? Aku cuma mau denger jawabannya."
"Jawab, Bang," kata Rafka santai.
"Bingung, Yah." Ansel menggaruk tengkuknya.
"Bingung kenapa, tinggal jawab aja pertanyaan Ibu," cetus Alyviah.
"Satu-satu, Bu." Ansel sungguh bingung harus menjawab yang mana dahulu.
"Kamu berantem?" Alyviah mulai wawancaranya.
"Iya, Bu."
"Kenapa berantem?"
"Nggak sengaja."
"Nggak sengaja, gimana?"
"Mau nolongin orang." Kemarahan Alyviah mereda. Ia tidak bisa marah kalau alasannya seperti ini.
"Tetep aja, Ibu nggak suka kamu berantem. Kamu kan udah janji nggak berantem lagi."
"Maaf, Bu. Maaf, Yah." Ansel menatap kedua orang tuanya.
"Okay," jawab Rafka.
"Jangan okay-okay aja, dong, Raf. Ini anak kamu sampe diperban gini." Wanita paruh baya itu mengecek luka anaknya. "Ini dijidat kena apa?"
"Batu cincin, Bu."
"Terus yang di tangan?" Alyviah menekan luka di lengan Ansel sehingga membuat Ansel meringis.