Mendengar suara ketukan pintu, Kuvvi yang awalnya duduk di ruanh TV langsung berlarian kecil ke arah pintu utama. Dalam hati ia bertanya, siapakah yang bertamu malam-malam? Apakah gebetan? Oh iya, Kuvvi kan tidak memiliki gebetan. Kalau calon sih punya. Tidak tahu calonnya itu mau digebet atau tidak.
"Iya, sebentar. Ini udah hampir sampe di depan pintu kok." Kuvvi berteriak agar orang yang berada di luar bisa mendengarnya dan tidak mengetuk pintu terus. Karena sejak tadi, beberapa kali ketukan sudah terdengar. Tapi, tak ada suara orang yang memanggil maupun mengucapkan salam.
"Lahawlawala!" Kuvvi mengucap kalimat hawqalah ketika melihat siapa orang yang berada di depan rumahnya. Cowok berhoodie hitam dengan setelan jeans pendek sudah berdiri di depannya. Cewek itu pikir, saat ia menurunkan pandangannya, ia akan melihat anak kecil yang sudah menampilkan cengiran khasnya. Nyatanya tidak. Anak kecil itu tidak ada di sana. Yang ada hanyalah cowok yang memasang ekspresi datar.
"Maaf, An. Kaget sih akunya. Eh, gak nanya, ya? Nggak papa, ngasih pengumuman aja, sih," oceh Kuvvi panjang lebar, sementara cowok itu hanya diam. Perkataan Kuvvi seperti angin lalu yang tak masalah bila dibiarkan berlalu. Alias tidak penting.
"Btw, ada apa? Eh, bentar-bentar. Jantungku masih belum bener." Kuvvi berhenti berbicara lalu berdiri membelakangi Ansel seraya memegangi dadanya. Detak jantungnya sedang abnormal.
Setelah rasa deg-deg-annya hilang, ia kembali menghadap Ansel. "Ini kan bukan malem minggu, An," lanjutnya asal bicara. Memangnya kalau malam minggu mengapa? Jangan bilang kalau Kuvvi GR duluan.
Ansel menaikkan alisnya. Cewek di depannya ini manusia sejenis apa? Benar-benar memiliki rasa percaya diri yang tinggi sekali. Kalau saja Alfa tidak merengek-rengek meminta ia menjemput cewek di depannya ini, ia malas sekali berurusan dengan cewek berponi itu. Tidak usah tanya Alfa ke mana, Alfa di rumah, jaga gawang bak bos besar yang memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan perintah.
"Masuk dulu, An," tawar Kuvvi basa-basi.
"Gak usah," jawabnya cepat.
"Lah? Terus? Mau berdiri terus? Emangnya lagi upacara." Bukankah lelucon Kuvvi ini receh sekali?
"Ikut gue." Ansel berputar arah, melangkah santai kembali pulang ke rumahnya. Sementara Kuvvi mengikuti dari belakang dengan bertanya-tanya ke manakah mereka akan pergi. Sebelumnya, ia sudah meminta izin pada mamanya. Dengan syarat, Kuvvi harus lama-lama di sana. Jangan sebentar. Lihatlah, ibu dan anak itu kompak sekali, bukan?
"Bareng kali, An!" Kuvvi yang tertinggal di belakang, mempercepat langkahnya, ia berusaha menyamakan langkah Ansel.
Kuvvi menoleh ke samping, menatap cowok di sebelahnya. Dipandanginya mata Ansel yang begitu mirip dengan mata mantannya. Hidungnya pun mancung apalagi kalau dilihat dari samping. "Kamu beneran mirip mantan aku deh."
Tentu saja, ucapan Kuvvi sama sekali tidak digubris oleh Ansel. Alis cowok itu lagi-lagi naik ke atas menandakan tak suka, sinis tanpa menatap Kuvvi.
"An, mau ngapain? Nggak mau ngasih tau kisi-kisi, An? Aku udah penasaran banget." Sia-sia Kuvvi mengoceh, cowok itu tak juga menjawab.
Hingga sampailah mereka di tempat tujuan, menemui bos besar Alfa. "Kak Kuvvi!" panggil Alfa saat matanya menangkap sosok Kuvvi.
Ternyata ke rumah tetangga. Kuvvi kira mau ke mana gitu. Ansel itu memang irit sekali bicaranya seperti paket hemat PH. Apa salahnya bilang kalau adiknya minta ditemani nonton. Tadi siang Alfa memang memintanya untuk ditemani menonton, tapi, kata Alfa, ia akan menjempit Kuvvi ditemani Ibu. Ternyata, yang datang malah abangnya. Manusia kulkas yang irit bicara. Ditanyain malah diem aja kayak patung, ucap Kuvvi dalam hati. Untung saja ganteng, jadi Kuvvi maafkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Teenfikce[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
