Waktu berlalu tanpa terasa. Bagi Kuvvi, hari-hari terlewati dengan kegiatan yang sama; bangun tidur, terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi, menolong ibu membersihkan tempat tidur, sekolah, belajar, main bersama teman-teman, dan masih terus menyukainya. Untuk kegiatannya yang terakhir, sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Dan ia masih menikmatinya sampai sekarang.
Di sekolah, sudah ada pelajaran tambahan, mengingat ia sudah memasuki semester akhir kelas dua belas, yang artinya pertempuran sudah di depan mata.
Sebagai murid yang lurus-lurus saja, ia mengikuti setiap kegiatan yang diadakan sekolah. Dan semangatnya semakin membara ketika ia tahu kalau calon gebetannya cuti bolos. Entah ada angin apa, satu bulan menjelang masa tenang mendekati UN, cowok itu menjadi rajin sekolah. Hampir tidak pernah ia bolos. Pelajaran tambahan pun ia ikuti. Mengenai apa penyebabnya, Kuvvi akan mencari tahu via kembarannya nanti.
Terkadang, persiapan menghadapi Ujian Nasional dirasa lebih penting, lebih utama, dari pada persiapan menuju kematian alias akhirat. Bahkan, masing-masing sekolah telah mempersiapkan berbagai senjata menghadapi UN dari hal yang masuk akal hingga tidak masuk akal. Seperti belajar, mengerjakan soal-soal, ikut bimbingan belajar, sholat berjamaah, do'a berjamaah, cuci muka dan meminum air yang sudah di do'a-in, pensil yang sudah di do'ain, belum lagi ada sekolah yang mengadakan sholat berjamaah di depan kuburan, alias sesepuh sekolahnya. Sungguh berwarna.
Matahari sudah menampakkan sinar terangnya. Saat waktu sudah menunjukan pukul enam pagi, Kuvvi sontak terbangun ketika matanya langsung mengarah ke arah jam di dinding kamarnya. "KUVVI, BANGUNLAH, NAK!" Sedetik kemudian, suara mamanya terdengar.
"Ya Allah, Kuvvi kesiangan." Kuvvi nyaris mengomeli HP-nya yang ia pasang alarm karena tidak membangunkannya. Tapi, pada saat ia mengecek ponselnya, ia tidak jadi ngomel karena ada notifikasi tiga alarm terlewati. Ini adalah kesalahannya sendiri.
"SAYANG, UDAH SIANG LHO. BANGUNLAH, NAK!" Suara mama Kuvvi terdengar lagi disertai suara gedoran pintu.
"Iya, Ma. Kuvvi udah bangun."
"Mama tunggu di meja makan lima menit lagi!"
"Gini deh kalo punya kakek tentara, anaknya dididik kayak prajurit, cucunya pun harus disiplin. Tapi ketetap sayang," ucap Kuvvi mengomel sendiri.
Tanpa mandi, tetapi gosok gigi dan mencuci muka, Kuvvi sudah memakai seragam lengkap. Minyak wangi ia semprot sebanyak-banyaknya ke bajunya agar bau tak tercium. Ia pun berjalan ke luar kamar.
Di meja makan, sudah tersedia lontong yang tenggelam di antara kuah kuning. Dengan kerupuk sebagai perahunya. Sambil menyantap lontong tersebut, mulut Kuvvi komat-kamit menghafal materi yang ia pelajari semalam suntuk.
"Makan dulu, hei! Belajar kok segitunya banget," tegur mamanya yang sedari tadi memperhatikannya.
"Mumpung lagi semangat, Ma." Kuvvi kembali menyuapkan kuah lontong ke dalam mulutnya.
"Emang ada apa sih, sampe getol banget gitu?" tanya Mama penasaran.
"Kuvvi hari ini mau presentasi, Ma," jelas Kuvvi seraya menggigit kerupuk udangnya.
"Presentasi apa? Kan berkelompok. Kamu jadi ketua?"
"Pelajaran agama, Ma. Kuvvi kebagian materi tentang tujuan hidup manusia. Sendiri-sendiri bukan kelompok. Makanya Kuvvi belajar bener-bener. Malu nanti, Ma. Kan ada gebetan di kelas hehe."
"Ooh si Anto?"
"Kok Anto sih, Ma? Aan, Mama. Ansel lebih tepatnya."
"Engsel?"
"Ansel Garabaldi. Bukan Engsel pintu."
"Iya iya. Yaudah, semangat! Demi gebetan!"
"Bukan demi gebetan, Mama. Demi nilai."
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
