Alfa menarik-narik tangan Alyviah sejak dari kamarnya. Ia menyeret tangan ibunya ke rumah kakak kesayangannya. "Iya, Sayang. Pelan-pelan aja," ujar Alyviah yang melihat Alfa terburu-buru sekali. Bukan apa-apa, takutnya jatuh, tersandung, dan tak bisa bangkit lagi.
"Ayo, Bu! Nanti tobotnya mulai." Tujuannya hanya satu, menonton tobot kesukaannya. Anak kecil itu sangat suka menonton apalagi ditemani Kuvvi. Kuvvi seolah bisa masuk ke dunianya. Sementara kakak kembarnya tidak.
Setelah berjalan sebentar, mereka sampai di depan rumah Kuvvi. Rumah yang halamannya dipenuhi bunga hias. Mulai dari lidah mertua, aglaonema, caladium, paku tanduk rusa, suplir, palem hias, monstera, hingga philodendron ada di sana. Mama Kuvvi menyukai aneka tanaman hias apapun jenisnya.
Kuvvi yang sedang duduk di teras seraya memainkan ponselnya terkejut melihat Alfa yang datang bersama Alyviah. Alyviah pun menjelaskan kalau Alfa ingin mengajak Kuvvi nobar Tobot di rumahnya.
Dengan senang hati Kuvvi menerima ajakan anak kecil itu. Lagi pula, ia juga gabut bingung mau ngapain siang ini. Tak ada yang bisa dikerjakan selain scroll tiktok dan instagram. No life.
Setelah pamit pada Bu Sondang, mereka berjalan bersama menuju rumah Alyviah. "Jangan ngabisin makanan di rumah orang, ya, Nak!" pesan Bu sondang sebelum Kuvvi pergi.
Alfa menggandeng tangan Kuvvi, ia menuntun Kuvvi sampai ke ruang TV. Di sana, ada Ansel yang duduk di sofa TV seraya memainkan ponselnya. Sepertinya sedang main mobile legend. Namun, di layar TV terputar acara gosip sehingga mengundang Kuvvi untuk bertanya. "Hai---" Kuvvi terdiam sejenak, ia bingung mau memanggil cowok itu dengan sebutan apa. Apakah Kuvvi boleh memanggilnya dengan 'sayang'? Ah, Kuvvi tidak selancang itu.
"Nama abang Alfa itu Ansel, Kak," ujar Alfa memberitahu. Anak kecil itu peka melihat Kuvvi yang nampak kebingungan.
"Huy, Aan! Kamu suka gosip juga?" Seraya mengontrol detak jantungnya, Kuvvi memberanikan diri menyapa. Sedari tadi jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Ketika baru melihat bayangan Ansel dari jauh saja ia sudah deg-degan.
"Ansel, Kak. Bukan Aan," koreksi Alfa.
"Gak papa. Kakak manggilnya Aan aja biar gampang. Ansel ribet, lidah kelilit."
Alfa pun mempraktekkannya. "An-sel, A-an." Ternyata memang benar, lebih gampang Aan daripada Ansel. "Tapi nggak seeibet itu juga, Kak. Nanti ayah marah, nama anaknya diganti-ganti."
"Memang, ayah kamu pernah marah?"
"Enggak, sih."
Ansel menoleh ke arah Kuvvi dan Alfa. Dua orang itu berisik sekali. Sungguh memecah konsentrasinya. Hampir saja ia kalah.
Aan? pikirnya
Lalu Ansel menatap layar televisi. Sejak kapan acaranya berganti jadi gosip? "Prestasi VS Sensasi" judul yang tertulis di pojok bawah benda berlayar datar itu. Perasaan, tadi ia masih menonton My Trip My Adventure. Karena keasikan main games, ia sampai tidak sadar.
Ansel sering seperti ini, daripada menonton iklan mending sambilan main games, sampai tidak tahu kalau jadi kebablasan seperti ini. Televisi menontonnya, bukan ia yang menonton televisi.
"Abang, puter film tobot!"
Ansel pun meraih remot TV lalu mengganti channel yang menayangkan kartun kesukaan Alfa. Setelah itu, ia meninggalkan Alfa tanpa menjawab pertanyaan Kuvvi.
"Abang emang gitu, Kak. Suaranya mahal," terang Alfa. Kalau saja suara Ansel bisa diperjual belikan, orang yang membeli suara itu dipastikan bisa miskin.
"Abang kamu bisa ketawa, nggak?"
"Bisa, tapi, jarang."
"Nangis bisa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Fiksi Remaja[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
