[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan.
Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya.
Aku pernah merasakan...
Alipe yang nggak lagi berpikiran ko-THOR bukan juga ngadi-MIN, datang lagi wkwk alipe aja okesip
Kutaksuka ngeliat kalian nunggu tapi gamau juga update terus nanti kalian keenakan wkwk ga ding canda
tapi boong
Gimana cover baru Dimensi? Wkwk sekarang orang di cover itu udah duduk di kursi, nggak melayang lagi, ada yg sadar?
Cuma di dunia oren, diprank malah doyan eleuh-eleuh
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kuvvi merasa mulutnya asam karena sedari tadi di atas motor, tidak bisa mengoceh. Diam begitu menyiksa, harusnya Kuvvi membawa permen dari rumah.
Ansel juga nampaknya tidak mau bertanya, padahal Kuvvi bisa mengeluarkan suaranya kalau ditanya.
Ketika di lampu merah, Ansel mengarahkan kaca spionnya ke Kuvvi, namun Kuvvi tidak sadar, ia malah melamun menatap jalanan. Cowok itu tersenyum memperhatikan Kuvvi yang duduk di belakang, memasang wajah lesunya. "Lucu," ucap Ansel pelan.
Kapan sampe, sih? Lama banget! Kuvvi mengomel dalam hati. Ini mau ke kampus atau Timor Leste, kok nggak sampe-sampe.
Tiba di parkiran, sudah ada Ejak dan Awe yang mangkal di sana. Bisakah Kuvvi kabur saja? "Hai, Kupik!" sapa Ejak dari jauh.
"Dih, senyum dikit doang!" Ejak berjalan menghampiri motor Ansel ketika Kuvvi hanya membalas sapaannya dengan senyuman kecil.
"Udah mulai tantangan hari ini?" Awe ikut bertanya.
"Hm," jawab Kuvvi berdeham lalu turun dari motor Ansel. Ia melepas helmnya lalu memberikan pelindung kepala itu pada Ansel ketika Ansel berkata, "Sini."
"Najis!" Awe terbahak.
"Yakin lo kuat?" tanya Awe lagi yang dibalas Kuvvi dengan anggukan.
"Kalo nggak kuat, nyerah aja. Nggak ada yang maksa juga," kata Ejak menyarankan.
"Masuk sana," ucap Ansel yang melihat Kuvvi tidak nyaman, menyuruh ke kelasnya. Tanpa pamit, Kuvvi meninggalkan ketiga orang itu.
"Lo juga, Sel?" tanya Awe.
"Apaan?"
"Ngejalanin tantangan hari ini? Jemput Kupik?"
"Ga hari ini aja." Awe dan Ejak saling menoleh mendengar jawaban sahabatnya itu.
"We, taruhan, yok?"
"Main berapa?"
"Lima ratus ribu?"
"Oke! Tentang?"
"Sebentar lagi Ansel akan mencair. Lo iya atau enggak?"
"Nggak berbobot lo! Emang dia udah mulai cair kali," ucap Awe kesal.