34. Dimensi Putih Abu-Abu

6.7K 854 118
                                        

WARNING!!!

Part ini lumayan panjang dan mengandung kenangan masa sekolah, silakan merindu sepuasnya.

Part ini lumayan panjang dan mengandung kenangan masa sekolah, silakan merindu sepuasnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kamu cantik banget, sih, Dek." Senyuman Kuvvi menular sekali.

"Makasih, Pak." Kuvvi melongo ketika tiba-tiba tangan cowok di sampingnya berada di depan mukanya. Cowok itu mencegah tangan Bapak itu yang berusaha menyentuh pipi Kuvvi. Ansel refleks menurunkan tangan Bapak itu.

"Maaf. Eh, katanya bukan pacar, kok marah?" ucap Bapak itu sinis. Ansel tak menjawab namun sorot matanya tajam menakutkan.

Setelahnya, sepanjang perjalanan tak ada percakapan kecuali suara musik remix yang terdengar kencang. Kuvvi menunjukkan tatapan tak sukanya ke Bapak itu, kentara sekali, matanya menatap sinis dengan alis yang hampir menyatu.

Belum jera sampai di situ, ketika ibu-ibu yang menggendong anaknya sudah turun di pemberhentian berikutnya dan penumpang angkot hanya tersisa tiga anak SMP dan mereka berdua, Bapak yang tidak diketahui namanya itu memulai kembali aksinya. Tangannya ingin menyentuh muka Kuvvi lagi.

Lagi.

Namun, belum sampai ia melancarkan aksinya, Kuvvi memelintir tangan nakal Bapak itu. Ansel yang duduk berhadapan dengan Si Bapak, juga refleks menghadiahinya dengan tendangan di perut. Hal ini sukses membuat si Bapak mengaduh kesakitan. "Ampun! Ampun!"

Kuvvi masih belum melepaskan pelintirannya. Sementara Ansel sudah berpindah duduk ke sebelah Bapak itu sembari melingkarkan tangannya ke leher si Bapak. "Yang akan Bapak lakuin itu termasuk pelecehan dan hukumannya bisa delapan tahun penjara, Pak. Seandainya nenek, istri, anak, kakak atau adik Bapak dilecehin, Bapak mau? Enak aja mau nyentuh muka orang!" semprot Kuvvi.

"Sakit, Dek. Lepasin, Dek. Maaf, saya nggak bermaksud. Saya cuma kagum karena adek cantik. Maaf. Saya nggak akan ngulanginnya lagi. Saya khilaf," jelas Bapak itu sambil meringis kesakitan.

Kenek angkot yang merasa ada keributan kecil, menoleh ke belakang. Dengan isyaratnya ia bertanya apa yang terjadi. Namun si Bapak menjawab tidak ada apa-apa. "Ooh, oke," Kenek pun kembali mencari calon penumpangnya. Sementara si Bapak menghela napas lega. Kalau sopir dan kenek angkot tahu yang sebenarnya, ia bisa jadi bulan-bulanan.

Kuvvi pun menghempaskan tangan Bapak itu yang disusul Ansel. Dan tak lama kemudian, di depan kantor pengadilan, si Bapak meminta sopir angkot menurunkannya. Bel stop telah dibunyikannya, Sopir dan kenek sudah menepikan angkotnya.

"Makasih, Aan," ucap Kuvvi setelah Bapak itu turun. Penumpang yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia, bersorak ketika Bapak itu sudah turun. Kuvvi pun tersenyum pada mereka.

Ketika gerbang SMA Kusuma Bangsa sudah kelihatan, Kuvvi menekan bel stop. Dan seperti biasa Ansel duluan meninggalkan Kuvvi, karena si cewek sibuk memberi sedikit wejangan kepada tiga siswi SMP itu agar jangan diam kalau ada yang berbuat seperti tadi, teriak saja kalau tidak bisa ilmu bela diri. "Siap, Kak!" sahut siswi itu.

DIMENSI (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang