Gunung Merbabu merupakan salah satu gunung yang terletak di Semarang yang memiliki pemandangan hijau yang mengagumkan. Gunung yang katanya menjadi gunung favorit di Jawa Tengah itu menjadi pilihan destinasi liburan semester Ansel CS kali ini.
Anggota masih sama seperti pendakian Gunung Salak sebelumnya. Hanya saja Uya digantikan Nazo. Oh iya, ada penambahan anggota, Ejak turut serta. Dengan diketuai oleh Rafka dan Aly yang sudah pernah menaklukkan Puncak Merbabu sebelumnya.
Mereka berangkat menggunakan kereta dari Jakarta. Tiba pukul 04.25 WIB di stasiun tujuan. Segera mereka mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan. Kurang lebih empat puluh menit, mereka menyewa mobil dari pintu masuk pendakian menuju basecamp melalui jalur Wekas. Setelah mendaftar masuk ke basecamp juga menyerahkan fotokopi KTP, mereka memulai perjalanan.
Jalanan yang harus ditempuh cukup terjal, tapi di awal, jalannya masih bagus dengan plester semen karena masih berada di sekitar pemukiman warga.
Selang beberapa jam, mereka tiba di Pos I Telaga Anum dan berhenti sejenak untuk makan siang. Ada yang menikmati kopi, energen, dan indomie.
Sepanjang perjalanan, banyak sekali dijumpai bunga edelweiss. Untungnya belum ada bekas petikan bunga indah tersebut. Semoga flora itu tetap aman.
Di kiri-kanan sepanjang jalan setapak yang ditempuh, tanaman anggrek juga ditemukan menempel di pohon-pohon besar. Suasananya sangat tenang dan nyaman. Mereka juga beberapa kali menjumpai mata air yang mengalir deras.
Selepas Pos I, perjalanan masih melewati ladang penduduk, kemudian masuk hutan pinus.
Waktu tempuh menuju pos II adalah dua jam, dengan jalur yang terus menanjak curam. Namun, dengan perbincangan seru dan tawa sepanjang perjalanan membuat beban pendakian tak begitu terasa. Hingga akhirnya mereka tiba di Pos II, tempat di mana mereka mendirikan tenda untuk menginap semalam.
Puncak Merbabu masih jauh dan tak terlihat karena dihalangi oleh perbukitan yang mengelilingi Pos itu. Dari Pos II terdapat jalur buntu menuju ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai di bawah kawah.
Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam lalu membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak-puncak Gunung Merbabu.
Pendakian ke Gunung Merbabu pun tampaknya semakin berat. Satu malam mereka menginap di kaki gunung. Dua tenda didirikan dan satu lagi hanya bisa dijadikan bivak.
Semua orang sibuk mendirikan tenda, mempersiapkan peralatan makanan, membuat api unggun, berkeliling mencari kayu bakar, hingga memasak.
Ketika Kuvvi terbangun, ia baru menyadari bahwa di sekitar tenda mereka sudah ada sekitar delapan tenda dari pendaki lain yang sudah berdiri mengelilingi tenda mereka.
Terlihat masih ada orang yang mencari-cari kayu bakar, ada rombongan pendaki lain yang baru saja tiba, dan rombongan pendaki yang melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. Suasana malam itu tak begitu sepi.
Sambil menatap api unggun dini hari di Pos II, Kuvvi bersama Ansel, Rafka, dan Awe juga menikmati kopi dan lagu lawas yang diiringi tepuk tangan. Nazo masih tertidur, Ejak dan Aly juga.
Saat itu, malam menjelang pagi benar-benar sangat dingin sehingga dua lapis baju belum cukup untuk terhindar dari udara dingin. Mereka menggunakan tiga lapis baju lengan panjang, dua lapis jaket, dan kain sebagai pelindung dari ekstrimnya suhu kala itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
