[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan.
Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya.
Aku pernah merasakan...
Kalo kalian jadi Uya, apa yang bakal kalian lakuin sama Kuvvi?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kuvvi menatap seragam putih abu-abunya yang tergantung di belakang pintu. Dulu, seragam itu ia pakai dari hari senin sampai rabu. Sekarang ia memakai seragam putih-putih khas keperawatan. Sering kali orang bergumam bahwa waktu terasa berjalan sangat lambat. Namun tidak sedikit pula orang mengatakan bahwa waktu begitu cepat berlalu.
Waktu memang begitu cepat berlalu, namun, Kuvvi masih seperti yang dulu. Masih menyukainya dan terus menyukainya. Semenjak kejadian ketika di angkot, setiap seminggu sekali ia mengutarakan bahwa ia menyukai orang itu. Juga pertanyaan, "An, kamu udah suka aku, belum?" yang seringkali tidak dijawab. Kemudian pertanyaan, "An, kamu nggak suka ya sama aku?" Yang dijawab Ansel dengan jawaban mantap, "gak!"
Bagi Kuvvi, yang paling penting ia harus mengungkapkan sejujurnya tentang perasaannya. Terlepas hasilnya nanti akan diterima ataupun tidak, ini akan membuat perasaan menjadi lega dan tidak hanya mengandai-andai dalam pikiran. Ia hanya ingin melakukan hal yang nantinya tidak akan membuat hatinya menyesal.
Kuvvi berharap rasa sukanya terbalas? Tentu. Bahkan, dengan pacar orang sekali pun? Jawabannya iya dan harapan itu muncul sejak ia pertama kali tahu bahwa Uya adalah pacar Ansel.
Selesai sarapan dan pamit pada mamanya, Kuvvi menunggu Nazo di depan rumah seraya menenteng helmnya. Begitu suara klakson terdengar, ia langsung cepat-cepat menghampiri motor yang dibawa cewek yang juga berseragam sama sepertinya. "Naz, kita sekelas nggak?"
"Ya Allah, Kupi. Elo nggak baca pengumuman?"
"Pengumuman apa?"
"Nama dengan abjad J sampai N satu kelas. Bagi kelasnya sesuai abjad. Jadi jangan heran kalo lo bakal nemu nama yang sama sama lo."
"Seru, dong, kalo nemu nama yang sama."
"Nggak enaklah, lo bakal sering denger nama lo dipanggil, pas noleh ternyata yang dipanggil orang lain."
"Iya bener. Aku sering noleh kalo ada yang manggil Vi, Pi, Padahal akunya aja yang noleh ke-GR-an. Tapi, nama pasaran mudah diinget orang, Naz. Kan punya ciri khasnya masing-masing."
"Untungnya ya gampang dikenal, tapi gampang diingat buat susah dilupakan. Misalnya nih, nama mantan lo pasaran, itu mempersulit untuk move on. Soalnya apa-apa keinget nama mantan." Mereka memang makhluk gaje yang suka mendiskusikan hal-hal gaje.