Merasa akan menjadi obat nyamuk di ruangan ini, Awe dan Ejak pun hendak pamit undur diri. Takut mengganggu privasi. Namun, Ansel mencegah sahabat-sahabatnya itu pergi dari ruangan itu. Tapi, mereka tetap menolak.
"Gue gak mau jadi kang kacang," ujar Awe.
"Gue pusing nengerin Uya ngeluh-ngeluh gara-gara nggak lo ladenin," tambah Ejak.
"Yaelah, nyantai aja kali, Njing! Kayak baru kenal gue sama Ansel aja lo." Cewek itu berujar setelah membuka sebungkus kacang sukro yang ada di atas meja.
"Siapa lo? Nggak kenal gu!" ucap Ejak berpura-pura.
"Bukan gitu, Yak, ntar kita malah ganggu. Kalian jadi gak leluasa." Cewek bernama lengkap Uyania itu langsung menghadiahi Awe dan Ejak dengan lemparan kacang.
"Kalo mau ngelempar, ke mulut dong, Yak," ucap Awe.
Cewek berambut pendek itu berdecih. "Request lagi lo!"
"Anjir! Hampir kena mata gue, Yak!" umpat Ejak. Lemparan kedua Uya hampir mengenai matanya.
"Elo ngapain ke sini? Gak belajar?" Awe merampas sebungkus kacang yang ada di tangan Uya.
"Lo gak ada pertanyaan lain? Jijik gue nengernya." Uya bergidik mendengar pertanyaan Awe. Kalau Awe menanyakan hal itu pada cewek yang doyan belajar, mungkin tidak salah. Sementara Uya? Dia datang ke sekolah saja sudah sukur. Lihat saja bajunya lusuh dan tampak kusut. Urakan, mungkin kata itu paling pas untuk menggambarkan dirinya.
"Gak ada," jawab Awe.
"Di kelas gak ada guru, kali! Kan kelas kalian juga jamkos. Hari pertama sekolah gitu tuh, gue juga heran." Uya merampas kembali kacang sukro yang ada di tangan Awe. "Makan sendiri lo!"
"Apa? Lo heran? Kagak salah tuh? Apa yang lo heranin. Bukannya elo sekolah hari ini karena tahu hari ini pasti banyak jam kosong, ya?" Sebenarnya Awe dan Uya sama saja. Mereka tipe murid yang sangat-sangat menyukai jam kosong. Karena mereka tidak perlu repot-repot mencari-cari alasan untuk sekedar kumpul di markas.
"Nah gue juga bingung." Uya terkekeh kecil lalu menatap Ansel yang sedari tadi sibuk memainkan ponselnya. "Sel, ngapa diem aja?"
"Justru kalo dia gak diem, gue yang merinding," celetuk Awe.
"Lah iya bener lo, Yam."
"Apaan Yam?
"Yam, ayam. Daripada anjing, mending ayam kan?"
"Oke, Cing."
"Apaan Cing?" Kini Uya ikut bertanya.
"Cing, kucing. Daripada babi, kan?" Setelah mengucapkan kalimat itu, Awe tergelak.
"Sialan! Ngebalikin omongan gue. Plagiat lo, kreatif dong!"
"Ngebalik, lo pikir gorengan dibalik? Apa? Plagiat? Omongan lo ada hak ciptanya?" Awe tak mau kalah.
"Is, apaan sih!"
"Kok langsung ngalah gitu, biasanya ngelawan terus sampe menang?" Awe keheranan. Ia dan Uya memang sudah biasa adu mulut seperti ini. Dan pemenang adu mulut itu pasti Uya, karena walaupun tampilannya bukan seperti cewek, Uya tetaplah cewek. Kalau Uya langsung mengalah seperti ini, pasti ada sesuatu yang terjadi, Awe menebak-nebak.
"Lagi males debat, gak dapet hadiah juga." Uya celingak-celinguk memandang seluruh ruangan itu mencari sesuatu. "Masem mulut gue. Gak ada rokok apa?" tanyanya kemudian.
"Hari ini ngerokok libur dulu. Bukan jadwalnya," jelas Awe.
"Bukannya jadwal merokok itu hari senin sama kamis, ya?" tanya Uya meminta kebenaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIMENSI (Completed)
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA♡] Dulu, ketika dompetku kecopetan, aku berdoa supaya uang bergambar monyet di dalamnya digunakan untuk kebaikan. Lalu, saat aku kehilangan ponsel esia hidayahku, lagi-lagi aku berusaha mengikhlaskannya. Aku pernah merasakan...
